Kamis, 05 April 2012

Semuanya dimulai dari pikiran.


 Pikiran adalah perumus yang tak pernah terpikirkan. Sejatinya, kita hidup dengan aneka rumus dalam hidup ini-bahkan bagi mereka yang tak pernah mengenal rumus dan tak merasa merujuk kepada rumus. Pikiran selalu ditentukan oleh input yang masuk kedalam pikiran dan input itu menghiasi (atau bahkan mengkolonisasi) pikiran seseorang. Performance seorang wanita di ruang privat maupun publik boleh jadi adalah tindakan yang dipahami dari rumus beraneka yang direferensi.
Identitas mode adalah dunia simbol yang dibentuk rumus, dunia kecantikan adalah rumus, bahkan konstruksi pendidikan adalah rumus yang membentuk struktur seorang manusia. Rasa-rasanya tak ada sesuatu yang berlalu tanpa rumus. Dunia kewanitaan masa kinipun adalah dunia  rumus yang dapat dilihat dari berbagai perspektif. Mau ideologi, sejarah, atau filsafat tinggal pilih, bahkan politik sekalipun merupakan rumus yang membentuk dunia simbol. Sebuah kontruksi identitas lahir karena ada tata nilai yang disematkan padanya.
Tak terkecuali dengan kecantikan. Cantik adalah konstruksi wacana yang berpadu didalamnya berbagai sudut pandang, subordinan maupun superior. Cantik dirumuskan menurut persepsi tertentu baik ideologi neoliberal yang kapitalistik atau local wisdom yang kaya khazanah batin. Tapi, cantik selalu berjiwa universal, meski banyak rumus untuk menjadi cantik. Namun,  harus ada kriteria cantik yang ideal bagi tamaddun kemanusiaan, bukan sekedar cantik yang dapat diamini segolongan umat manusia.
Jamal al rajul bi aqlihi, wa jamal mar’ah bi jamaliha (keindahan seorang laki-laki terletak pada akalnya dan keindahan wanita terletak pada kecantikannya). Pepatah Arab ini mensubversi kita pada kekudusan angan tentang materialisme semata. Saya tak paham dari ruang mana dan struktur seperti apa pepatah Arab diatas lahir dan berkembang. Pastinya, sesuatu yang kearaban tak lantas otomatis disebut Islami. Namun, mengelak dari stereotip bahwa wanita  dilihat dari aspek kecantikannya semata adalah absurditas semata. Dalam tataran tertentu, dimensi fisik terasa lebih menyegarkan daripada dimensi intelektualitas meski itu hanya berlaku pada konstruksi minimalis dalam ranah kebudayaan kita. Artis-artis top layar lebar mayoritas terpilih dengan orientasi cantik. Intelektualitas boleh jadi hanya pada nomor urut sepatu dalam komoditas pasar gaya hidup Indonesia.

Perlu dibedakan antara intelektualitas dengan pendidikan, pasalnya tak semua orang berpendidikan lantas memiliki sense intelektualitas. Intelektualitas lebih dicirikan pengedepanan aspek untuk memahami diri dan lingkungan secara kritis serta memiliki argumen sejarah untuk melakukan perubahan. Artis yang berpendidikan belum tentu kritis, karena sering melanggengkan pola pikir konsumerisme dan budaya pop kapitalis justru secara masiif melalui media audiovisual. Dalam sejarah kebudayaan Indonesia, sudah berlalu beberapa masa, bahwa wanita selalu dilihat sisi fisiknya semata, bukan potensi intelektualitas yang melekat.
Kontruksi kewanitaan dibentuk beragam jalinan wacana hidup. Kecantikan dan intelektualitas merupakan trend spesifikasi periode kebudayaan tertentu. Terkadang, kecantikan dan intelektualitas lahir secara timpang dimana salah satu dari keduanya memiliki bobot berlebih daripada yang lain, terkadang pula mewujud  bersama-sama namun berparadoks satu sama lain. Genre sastra Indonesia menyebutkan secara gamblang bagaimana seorang wanita ditempatkan dalam superioritas  fisikalis semata seperti sosok Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk atau merengkuh potensi kecantikan dan intelektual sekaligus seperti sosok Anna Althafunnisa dan Eliana Pramesthi Alam dalam Ketika Cinta Bertasbih. Idealitas cantik dan pintar sebenarnya telah mewarnai arus penting dalam pemikiran tentang kewanitaan Indonesia masa kini.
Seperti apa wujud ideal wanita Indonesia masa kini? Trend populer kita selalu merujuk pada apa yang dianggap representatif dari dunia visual serta teks naratif yang berjalan di benak masyarakat urban. Sebagian masyarakat kita merujuk kepada idola-idola penting dalam jagad infotainment atau sosok-sosok inspiratif dalam novel-novel bestseller terkini. Teks sosial kewanitaan Indonesia kontemporer merasa sahih jika merujuk kepada dunia selebritis di bingkai layar kaca atau figur-figur yang dikonstruksi ideal dalam narasi populer teks-teks bacaan terbaru. Bisa jadi, masyarakat kita mengangankan sosok itu pada Nia Ramadhani yang cantik dan dipersunting anak pejabat kaya atau sosok Anna Althafunnisa dalam Ketika Cinta Bertasbih yang cantik, salehah sekaligus terpelajar. Inilah kejujuran wacana masyarakat tentang wanita Indonesia dan kita harus mengakuinya, suka atau tidak.
Tapi kebenaran untuk melihat sesuatu harus selalu didialogkan. Kebenaran menurut George T.W Patrick adalah sesuatu yang berkonsistensi (truth is consistency). Kebenaran terjadi jika terjadi kesesuaian antara berbagai premis yang telah terbentuk dengan premis yang baru terbentuk. Dalam dunia konsistensi, kebenaran dilihat tidak melulu berjiwa monokromatik yang serba idealis. Kebenaran harus dilihat dari ketepatan antar dialog yang dibangun.
Dengan melihat perspektif diatas kita bisa mendialogkan apakah benar kalau idealitas itu harus merujuk kepada kecantikan dan kepintaran sekaligus. Apakah benar jika kecantikan itu harus berarti cantik jasmani, juga rohani, intelektual dan spiritual. Atau apakah benar kalau kecantikan itu harus diukur dari  diperolehnya materi dan kedudukan melimpah. Rasa-rasanya kebenaran memang harus selalu berkorespondensi satu sama lain untuk menemukan jiwa yang adil pada sebuah tamaddun dunia.
Cantik secara fisik adalah perlu namun cantik secara spiritual pasti lebih perlu. Kalau berbicara spiritualitas maka ini adalah segalanya. Tanpa spiritualitas, kecantikan fisik, materi dan intelektual tak ada artinya. Kecantikan fisik dan intelektual semata hanya akan memprovokasi pribadi-pribadi yang tersemaikan oleh peradaban positifisme. Kecantikan spiritual justru akan menjadi pondasi kokoh bagi kecantikan apapun yang melekat kemudian pada diri seorang wanita. Dengan cantik secara spiritual, seorang wanita bebas mengembarakan dirinya di posisi mana saja tanpa harus membebek pada komodifikasi hidup.
Berlimpahnya materi sering memandulkan akal sehat akan kelemahan  dunia. Dominannya  sisi intelektual tanpa mizan kematangan rohani hanya akan memotivasi pengabaian terhadap realitas yang sedang berjalan. Seorang intelektual sering  melihat dunia dengan kacamata hitam putih ansich yang dikotomis. Intelektual tanpa jiwa kesalehan akan melihat dunia melulu dari input teori dan sistem pengetahuan yang pernah bertransformasi dalam pikirannya. Contoh kecantikan intelektual yang seperti ini, secara imajinatif ditemukan pada diri Eliana Pramesthi Alam dalam novel Ketika Cinta Bertasbih. Cantik dan pintar namun kebarat-baratan.
Kalau begitu jiwa spiritual adalah unsur primer pembentuk jatidiri wanita Indonesia. Tradisi Islam secara sederhana menyebut ini dalam sifat para nabi. Dalam pengajaran agama Islam, kecerdasan spiritual lebih diutamakan daripada kecerdasan intelektual. Sifat-sifat para Nabi yang jamak dijumpai dalam setiap pengajaran agama Islam selalu menyebut kejujuran, amanah dan tabligh terlebih dulu sebelum cerdas secara logika. Sifat-sifat para nabi itu yaitu shiddiq (benar atau jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan) dan fathonah (cerdas). Keempat sifat ini populer dilekatkan sebagai sifat nabi. Adapula sifat tambahan seperti al salamah minal uyubil munaffirah ( selamat dari cacat yang menyebabkan orang lari darinya ) yang disebut Ali Al Shabuni dalam bukunya Al Nubuwwah Wal Anbiya’. Para nabi adalah sepenuhnya laki-laki, namun para nabi bisa dicontoh oleh siapa saja, laki dan perempuan tanpa kecuali.
Penyebutan shiddiq dan amanah disebut terlebih dulu daripada fathonah (cerdas). Dalam filosofi pendidikan Islam, shiddiq dan amanah adalah mentalitas yang harus dibentuk sebelum kecerdasan (fathonah). Jika kejujuran telah terpatri dalam diri setiap insan, maka dipastikan kecerdasan hanya menunggu soal waktu. Kecerdasan yang dilahirkan dari pribadi yang jujur adalah kecerdasan hakiki karena bukan hanya berbicara soal akademis namun bisa memilah mana perbuatan baik mana pula perbuatan buruk.
Wanita yang jujur takkan silau terhadap aneka godaan karena kecerdasan spiritual akan menuntun hati dan pikirannya sekaligus pada rel yang benar. Kecerdasan yang jujur juga akan peka dalam melihat realitas dan obyektif dalam menilai. Lihat saja di negeri ini, banyak kalangan wanita yang abai terhadap realitas karena realitas itu sesuai dengan analisis pendekatan ilmu yang dimilikinya, bukan kondisi kemanusiaan yang mesti diselami secara arif. Banyak wanita menjadi terdidik tapi sedikit yang berjiwa ala Kartini. Wanita yang merasa tercerahkan di negeri ini hanya melihat dunia dari satu sisi yaitu sisi ilmu empiris normatifnya semata dan abai terhadap sisi kemanusiaan kewanitaan yang lebih luas. Banyak wanita terdidik menelan mentah-mentah begitu saja ideologi feminisme tanpa pernah merasa butuh untuk mencerna ulang mana yang subtil untuk Indonesia dan mana yang bercitarasa barat. Ingatlah Kartini!, dalam suratnya tertanggal 25 Mei 1899, ia berkata “Ya, namaku hanya Kartini. Sebab itu Panggillah aku Kartini saja, tanpa gelar, tanpa sebutan.”. Kartini memang tak bergelar tapi ia tak hidup dalam bingkai kosong kewanitaan Indonesia masa lalu. Gelarnya bukan strata pendidikan universiter. Gelarnya adalah cinta kepada pembebasan dari keterkungkungan. Ia hidup untuk selalu menyegarkan pemikiran tentang tragedi wanita masa lalu yang terkungkung feodalisme dan konstruks seksualitas kolonial.
Dalam sebuah suratnya kepada nona Stella tertanggal 25 Mei 1899, Kartini berujar “ingin benar hati saya berkenalan dengan seorang anak gadis modern, gadis yang berani, yang sanggup tegak sendiri gadis yang saya sukai dengan hati saya, gadis yang memulai jalan hidupnya dengan lebih tangkas, gembira, asyik, berdaya upaya bukan hanya untuk keselamatan bahagia dirinya sendiri, melainkan juga untuk masyarakat luas, yang ikhtiarnya akan membawa kebahagiaan kepada sesama manusia.” (dikutip dari Tragedi Kartini:2005). Jelas Kartini mengajarkan jiwa perubahan bagi wanita Indonesia. Perubahan yang bisa berarti cantik secara sosial. Cantik yang tak melulu dibentuk karakter fisik semata yang sensual.
Karenanya wanita harus cantik secara sosial dengan kecerdasan rohani sekaligus kecerdasan intelektual. Kejujuran obyektif dalam melihat hidup wanita masa kini dan relasinya dengan kecerdasan intelektual ibarat perbedaan antara mengetahui dan mengerti. Saya teringat dengan Gus Dur yang sering mengatakan bahwa mengetahui dan mengerti itu berbeda. Wanita masa kini bisa saja berpengetahuan tapi wanita yang berpengetahuan belum tentu mengerti atau paham terhadap obyek di hadapannya. Boleh jadi, wanita yang berpengetahuan justru silau dengan pengetahuannya sendiri dan tertutup dalam melihat realitas. Teramat sering kita jumpai wanita Indonesia yang terpelajar namun sakit anakrosia. Sakit karena merasa ada yang minor dalam tampilan fisiknya.
Kejujuran akan menjadikan seseorang obyektif dalam bersikap. Kisah nabi Musa dalam Quran menunjukkan itu. Ketika nabi Musa berkehendak membawa Bani Israil keluar dari Mesir serta mendakwahi Firaun agar menerima tauhid, Firaun justru menjawab “Bukankah kami telah mengasuhmu di dalam keluarga kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu” (QS 26:18).
Firaun seakan menegaskan bahwa tanpa didikan dan asuhannya, Musa takkan pernah hidup. Jadi, menurut Firaun, Musa tak layak menasihatinya apalagi menyuruhnya bertobat. Pernyataan Firaun ini tak membuat Musa goncang dan mundur dari dakwah. Budi baik Firaun yang telah mengasuhnya selama 18 tahun tak menyurutkannya untuk terus membela Bani Israil yang tertindas. Musa bukan tak punya jiwa balas budi, namun kejujurannya yang obyektif terhadap fenomena perbudakan yang dilakukan Firaun atas Bani Israil menyebabkannya tak lantas mundur patah ke belakang. Banyak wanita diasuh oleh liberalisme dan konsumerisme yang ditunjukkan secara besar-besaran di depan mata, tapi sedikit yang mau jujur untuk mengingkari efek hidup liberalisme-konsumerisme-hedonisme yang mengitari dirinya.
Sikap Musa ini jelas sebuah sikap kejujuran, karena kalau berbicara kecerdasan sudah pasti Musa bukan satu-satunya pribadi yang cerdas. Di sekeliling Firaun banyak figur-figur pandai namun tak jujur dalam melihat kerusakan moral dan politik di Mesir. Di sekeliling Firaun terdapat Haman, seorang penasihat politik juga Bal’am Bauri, seorang pendeta Mesir yang pintar. Namun ironisnya, mereka dihinggapi kronisisme ketidakjujuran.
Kalau mau lebih jelas lihat juga Maryam, ibunda Isa atau Siti Asiyah, istri Fir’aun. Dengan kecerdasan spiritualnya mereka tak berkehendak mengikuti arus populer masyarakat saat itu. Mereka memilih jalan berbeda dengan masyarakat. Maryam memilih uzlah dan beribadah di ruang kesunyian mihrab Zakaria sementara Asiyah memilih bekerja sebagai istri Firaun namun dengan tetap menjaga keselarasan dengan pemahaman yang benar tentang kemanusiaan.
Religiositas lebih diutamakan dalam kehidupan Maryam bahkan sejak Maryam masih bayi. Quran merekam doa Ibu kandung Maryam yang berbunyi “ Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku melindungkannya serta anak-anak keturunannya pada kepada pemeliharaan engkau daripada syetan yang terkutuk” (Ali Imran: 36). Ayat ini memberi energi segar pada kita bahwa selayaknya, spiritualitas dinomorsatukan terlebih dulu daripada yang lain. Dalam sebuah ayat lain, Asiyah berdoa kepada Tuhan untuk membangunkan dirinya sebuah istana di surga, sebuah pandangan yang futuris sakral karena jauh melihat kedepan kedalam dimensi yang tak profan lagi.
Dunia kewanitaan kita sering dilihat dengan mengikuti parameter komoditas yang lahir dari inferioritasnya peradaban timur. Pendidikan telah banyak menjelajahi para wanita, namun pendidikan pulalah yang sering menikam kejujuran dan kebaikan nilai-nilai kewanitaan. Banyak wanita dihinggapi histrionikisme, sakit mental yang berwujud rasa selalu ingin diperhatikan publik meski dengan cara yang salah. Histrionikisme sebenarnya efek dari penisbahan gaya hidup kapitalis dalam fitrah kemanusiaan dimana saja. Berseminya sikap hidup histrionik menjadikan seorang wanita mandul dan tidak berkarakter sama sekali. Hidupnya hanya sejumput jasmani bernyawa namun kosong spirit hidup. Seorang wanita yang dilanda histrionikisme justru besar karena dibentuk masyarakat dan bukan karena mengubah masyarakat. Jagad hiburan Indonesia teramat banyak mencontohkan ini, ketika beberapa artis justru menjadi semakin tenar karena hamil di luar nikah, punya anak tanpa tahu siapa ayah anaknya atau populer karena mengadopsi pornografi yang super vulgar. Pribadi-pribadi seperti ini adalah karakter wanita yang terminorkan oleh nilai-nilai keanggunan batiniah namun termayorkan oleh nilai-nilai hedonisme dan permisifisme masyarakat baru Indonesia yang jago memelototi layar kaca.
Perempuan Indonesia yang berkarakter tak dapat dilihat dari aspek pendidikan dan kecantikan lahiriahnya semata. Cantik spiritual adalah pondasi bagi karakter sinergis itu. Kecantikan spiritual akan mendidik wanita Indonesia secara alami tanpa harus hidup dalam “kepribadian shopping” yang melatih cara hidup melalui sekolah-sekolah kepribadian atau menata kecantikan di salon-salon mahal. Wanita dengan kecantikan spiritual adalah mode hidup yang tak terobsesi untuk memasuki dunia simbol tanpa nilai pakai dan nilai guna. Wanita  seperti ini tak berhasrat untuk membeli komoditas global yang tak ramah pada tamaddun kewanitaannya. Kecantikan spiritual akan melahirkan optimisme pada ruang sosial. Kecantikan spiritual juga berpotensi melahirkan kecantikan sosial, tak perduli seorang wanita harus tersisih dari pergaulan akibat sikap anti hegemoninya terhadap komodifikasi gaya hidup.
Karakter spiritual yang kuat akan membentuk Indonesia cerdas yang kuat lahir dan batin. Spirit lagu Indonesia Raya pada bait “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya “ memberi satu tematisme yang jelas akan karakter anak bangsa negeri ini, pria maupun wanita. Dengan prinsip spiritual first, kecantikan apapun akan lebih berdaya guna. Kecantikan fisik takkan memacu hedonisme dan imagologi pop yang angkuh terhadap khazanah domestik. Kecantikan intelektual yang dimiliki juga takkan memprovokasi lahirnya wanita-wanita tipe seminar yang pintar bicara di forum ilmiah namun teramat ragu untuk berpeluh keringat di dunia nyata. Karakter spiritual first juga takkan melahirkan wanita-wanita pejuang sosial yang berjiwa akrobatik, hidup dengan nyaman atas nama kedermawanan sosial dengan melakonkan diri secara hipokrit di depan kamera-kamera televisi dan wawancara para reporter oportunis.
Kecantikan spiritual dengan sikap inti berupa kejujuran mutlak dibutuhkan di negeri dimana wanita-wanita hidup dengan aura konsumerisme dan gejolak perbudakan global. Kecantikan spiritual absolut dimiliki di negeri yang para wanitanya berperan tidak seperti garis ideal yang dilajurkan negara. Di Indonesia, negara hidup dengan mengagungkan Kartini namun kita harus sadar banyak para wanita yang hidupnya juga seperti pahlawan namun dengan tidak merujuk kepada Kartini. Lihatlah para TKW, lihat pulalah para wanita pekerja keras di bagian mana saja di negeri ini. Mereka berjuang secara kasar layaknya para pejuang wanita Cut Nya’ Meuthia atau Nyai Ageng Kalinyamat. Dalam kacamata negara mereka tak layak disebut anggun, karena keanggunan boleh jadi hanya melekat pada wanita yang berkarakter dan berperilaku mirip Kartini semata. Mengimami kewanitaan Indonesia haruslah secara plural, karena pahlawan wanita bukan hanya Kartini yang halus dan eksotik tapi juga Cut Nya’ Dien yang agresif defensif. Memilih Cut Nya’ Dhien sebagai salah satu ensiklopedi hidup perjuangan wanita Indonesia, memberikan pesan tersirat bahwa kewanitaan memang selalu dinamis, berubah mengikuti ruang hidup yang tak statis.
Kini, baratisasi hadir melalui eksisnya fisik materi teknologis sekaligus isi pesan yang diajarkan. Physical presence produk-produk global sejak mall, film dan kebudayaan fastfood dan ideologinya sekaligus, menyebabkan harkat kewanitaan modern menjadi taruhan. Selain berpresensi secara fisik, kehadiran nilai-nilai itu juga membawa content yang tak sedap. Efeknya apalagi kalau bukan penisbian nilai-nilai lokal dan religius yang telah membentuk lingkaran biosfer kewanitaan kita.
Kecerdasan intelektual sebagai lanjutan kecerdasan spiritual juga mutlak hadir dalam atmosfer kekinian para wanita Indonesia. Kecerdasan ini sejatinya harus berporos kepada konsep dialogisme korespondensif tentang kebenaran. Intelektualitas yang dibangun oleh seorang wanita haruslah intelektualitas yang independen dan jauh dari penetrasi keilmuan yang memiliki informasi sepihak.
Para wanita dengan karakter keilmuan korespondensif akan memiliki semangat filter dalam setiap langkah kehidupannya. Keilmuan yang selalu berkorespondensi akan meengantarkan lahirnya karakter wanita yang selalu mempertanyakan obyek agar selalu tepat dengan apa yang ddigambarkan. Kecerdasan intelektual yang korespondensif takkan menjinakkan wanita pada pemikiran kewanitaan yang marjinal. Setiap worldview yang datang dari barat akan ditakar secara sistematis dan metodologis aktiva dan pasivanya. Para wanita takkan menyerah pada dunia bentukan peradaban dunia yang sering memperturutkan persepsi-persepsi barat yang rasis dan sinis dalam melihat eksotika peradaban timur. Hari ini, banyak wanita kita menempuh pendidikan yang variatif. Kecil dan besar di pesantren atau sekolah agama, kemudian matang dan berdikari di universitas dan masyarakat. Pondasi pesantren dan kampus menjadi kawah candradimuka banyak wanita muslim masa kini, namun hal itu bukanlah jaminan bahwa ada garansi untuk memberikan kecantikan spiritual, sosial dan intelektual sekaligus. Gempuran kapitalisme yang sporadis telah menyebar kemana-mana bahkan ke area dimana benteng-benteng religiusitas berdiri tegak.
Feminisme dikaji di pesantren dan gender serta isu HAM wanita ditelusuri untuk diterapkan di berbagai ruang. Tanpa kecerdasan yang jujur, konstruksi pengetahuan ini akan memangsa begitu saja nilai-nilai kewanitaan kita. Kelonggaran dalam memilah akan membentuk citra diri yang longgar dalam moralitas. Pada gilirannya, para wanita kita akan terjebak pada sikap freedom of yang bebas berbuat terhadap segala nilai meski dengan menabrak. Karakter kewanitaan kita harus dipatri erat-erat pada kritisisme yang berjiwa rohani, berkepribadian luhur sesuai nilai budaya bangsa dan peduli pada hidup regilius.
Wanita ideal masa kini adalah wanita yang berkarakter membumi, diagnostis, konstruktif namun mampu mengafirmasikan dirinya dalam dunia modern. Karakter wanita yang tangguh seperti ini akan mengantarkan bangsa kita menuju kecerdasan yang hakiki. Kecerdasan yang tak malu mengoreksi kekhilafan diri serta tak merasa inferior di hadapan peradaban lain yang terkesan unggul. Kita butuh kombinasi dari jiwa-jiwa Kartini, Cut Nya’ Dhien, Dewi Sartika dan semua pejuang wanita secara sinergis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.:: Selamat datang di blog Indahnya Islam ::.