BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tumbuhan merupakan penunjang kehidupan paling utama
bagi manusia, Allah telah mencipatakannya dengan sangat sempurna. Fungsi utama
tumbuhan adalah memproduksi oksigen yang kita hirup setiap saat. Jika kita meneliti tentang kehidupan manusia dari
sejarah perkembangannya, sejak dulu sampai saat ini telah berkembang menjadi
milyaran umat manusia. Bahan pangan penunjang kehidupannya yang utama berasal
dari tumbuh-tumbuhan, yang ternyata tumbuh-tumbuhanpun tak kalah pentingnya
bagi kehidupan hewan mulai dari ujung akar sampai keujung daun. Ini berarti
kehidupan dan perkembangan manusia dan hewan sangat tergantung pada
tumbuh-tumbuhan. Hal ini Sesuai
dengan firman Allah Q.S. Al An’am ayat 99 tentang kesempurnaan dan peran
penting tumbuhan dalam kehidupan manusia:
وَهُوَ الَّذِي
أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ
فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ
النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ
وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى
ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ
يُؤْمِنُونَ (99)
Artinya: Dan Dialah yang menurunkan air
hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam
tumbuh-tumbuhan, maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang
menghijau, kami keluarkan dari tanaman yang hijau itu bulir yang banyak dan
dari mayang karma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai dan kebun-kebun anggur
dan kami keluarkan pula zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak sempurna
perhatikan buahnya diwaktu berbuah dan perhatikan pulalah kematangannya.
Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
orang-orang yang beriman (Q.A . Al
An’am : 99)
Mahasiswa Biologi memiliki tuntutan besar untuk dapat memahami tumbuhan
sebagai konsekuensi atas bidang ilmunya dan juga sebagai rasa syukur terhadap
fasilitas yang telah Allah berikan. Kebun raya Purwodadi merupakan salah satu
tempat konservasi tumbuhan tinggi yang ada di Indonesia. Sebagai sarana konservasi tumbuhan maka di
kebun raya ini memiliki bermacam-macam koleksi tumbuhan yang ditata sedemikian,
sehingga membentuk tata ruang yang apik.
Selain sebagai sarana konservasi Kebun Raya Purwodadi juga menjadi
wahana rekreasi yang edukatif bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pada
kesempatan kali ini kami menjadikan kebun Raya Purwodadi sebagai salah satu
alternatif tempat yang dapat membantu mahasiswa untuk dapat memahami tumbuhan
di habitatnya dan melihat tumbuhan secara langsung di lapangan.
B. Tujuan
1.
Mengetahui tata cara pembuatan, penyimpanan,
dan pendataan koleksi herbarium di Kebun Raya.
2.
Mengetahui keanekaragaman tumbuhan tingkat
tinggi di Kebun Raya Mengadakan pengamatan terhadap spesies untuk mengetahui
ciri khusus/karakteristik dari masing-masing spesies.
C. Manfaat
Adapun manfaat dari kunjungan mahasiswa
di kebun raya purwodadi ,yaitu:
1.
Dengan adanya
kunjungan ke KBR Purwodadi mahasiswa lebih jelas dalam memahami materi yang
telah disampaikan saat kuliah.
2.
Mahasiswa dapat
mengidentifikasi secara langsung pada specimen yang telah dijelaskan dalam
literature.
3.
Mahasiswa dapat
mengetahui lebih jelas tentang tumbuhan yang menjadi koleksi KBR purwodadi yang
mungkin sudah jarang ditemukan di tempat umum.
4.
Mahasiswa dapat
mengetahui secara langsung pembuatan herbarium kering dan koleksi juga bahan
ynag digunakan saat mengherbarium tumbuhan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Struktur Vegetasi Hutan Tropika Basah
Indonesia merupakan Negara yang terletak
di daerah khatulistiwa sehingga banyak hutan-hutannya yang merupakan hutan
tropis basah.Hutan jenis ini memiliki tipe tumbuhan paling lebat dan paling
rumit.Penyebabnya adalah iklim tropis yang basah, tanpa ada bulan kering, serta
tingginya suhu.Karena itu, komunitas hutan menjadi sangat kompleks.
Penyebaran hutan tropis basah bukan hanya
di Indonesia. Penyebarannya meliputi semenanjung Amerika Tengah, Amerika
Selatan, Afrika, Madagaskar, Australia bagian utara, Indonesia, dan Malaysia.Ciri-ciri bioma
hutan basah antara lain :
1.
Curah hujan sangat tinggi, lebih dari 2.000
mm/tahun
2.
Pohon-pohon utama memiliki ketinggian antara 20
– 40 m.
3.
Cabang pohon berdaun lebat dan lebar serta
selalu hijau sepanjang tahun
4.
Mendapat sinar matahari yang cukup, tetapi
sinar matahari tersebut tidak mampu menembus dasar hutan.
5.
Mempunyai iklim mikro di lingkungan sekitar
permukaan tanah/di bawah kanopi (daun pada pohon-pohon besar yang membentuk
tudung)
Menurut Arifin Arif (2001), hutan tropis
basah adalah hutan yang memperoleh curah hujan tinggi yang dikenal sebagai
hutan pamah. Hutan ini tumbuh di tanah-tanah podsol dan latosol dengan draenase
yang baik dan terletak cukup jauh dari pantai serta kaya akan jenis pohon yang
bertajuk tinggi. Kawasan hutan ini dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan.
Di hutan ini banyak ditemukan jenis-jenis pohon meranti dan tengkawang (Shorea), keruing (Dipterocarpus), kapur (Drybalanops),
meranti putih (Parashorea), dan kayu
besi (Eusideroxylon zwageri ). Di
Sulawesi terdapat jenis kayu hitam (Diospyros
sp.) dan sebagian kecil di Jawa Tengah bagian barat dan Jawa Barat terdapat
jenis pohon rasamala.
Tumbuhan utama penyusun hutan tropis
basah di Indonesia terbagi atas tujuh kelompok, yaitu pohon-pohon hutan, terna
dan semak, liana, epifit pencekik pohon, saprofita, dan parasit. Berikut ini
penjabaran dari kelompok kelompok tumbuhan tersebut (Arif, 2001):
a. Pohon-pohon Hutan
Biasanya pohon ini disebut atap atau
tajuk atau kanopi. Kanopi dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Tingkat tertinggi (A), pohon yang tertinggi dan
jarak sesamanya saling berjauhan
2. Tingkat ke dua (B), pohon dengan tinggi yang
khas, menjulang antara 15-30 m.
3. Tingkat ke tiga (C), biasanya kecil dan
langsing, dengan tinggi umunya 5-15 m.
Pohon-pohon hutan adalah tumbuhan dikotil (Magnoliophyta), palma yang tinggi, bamboo dan kadang-kadang paku
tiang. Banyak pula pohon yang melakukan penggantian daun yang terjadi kapan
saja setiap tahun, contohnya marga Hevea (kelompok
karet).
b. Terna dan Semak
Ada bagian hutan yang tajuknya tidak
begitu lebat.Di daerah ini cahaya dapat menembus lantai hutan, sehingga menyebabkan
berkembangnya vegetasi tanah berwarna hijau.Contoh yang merupakan terna adalah
paku-pakuan, paku lumut (Selaginella sp.),
dan tumbuhan berkayu. Contoh dari tumbuhan semak yaitu tumbuhan berkayu yang
agak tinggi, semak-semak pohon yang tingginya 2 – 5 meter, seperti pisang,
jahe, dan beberapa jenis rumput.
c. Tumbuhan Pemanjat (Liana)
Tumbuhan pemanjat merupakan tumbuhan yang
tetap hijau tetapi tidak mandiri karena bergantung pada penunjang dari
luar.Tumbuhan yang memanjat atau membelit ini memberikan “hiasan” utama pada
hutan.Jumlahnya banyak sehingga memberi ciri khas hutan tropika.Bentuk dan
ukurannya sangat beragam.Mulai dari yang tipis sampai yang tebal.Ada yang
tenggelam di balik dedaunan atau bergantungan membentuk simpul tali raksasa.Ada
yang bercabang, ada pula yang tidak bercabang.Ada yang pendek, ada yang
panjangnya sampai 200 meter memanjat satu pohon, turun ke tanah dan memanjat
pohon berikutnya.Liana biasanya tumbuh di bagian pinggir hutan, misalnya di
sepanjang tepi sungai, dan melimpah di tempat-tempat yang hutannya sudah
mengalami gangguan. Liana yang besar-besar tergolong dalam dikotil, meskipun
yang dominan adalah rotan (palma yang memanjat).
d. Epifit
Epifit adalah tumbuhan yang tumbuh
melekat pada batang, cabang, daun-daun pohon, semak, dan liana.Secara umum
epifit tidak mengganggu inang yang menunjangnya.Epifit memainkan peran yang
penting dalam ekosistem sebagai habitat untuk hewan.Keanekaragamannya cukup
besar meliputi tumbuhan berspora dan tumbuhan berbunga termasuk beberapa
semak.Epifit membedakan hutan tropika basah dengan hutan subtropika. Epifit
dapat dibedakan dalam tiga tipe utama, yaitu:
1. Epifit yang bersifat ekstrem xerofit, hidup
pada bagian paling ujung cabang-cabang dan ranting-ranting pohon yang lebih
besar.
2. Epifit matahari, biasanya bersifat xeromor,
hidup di bagian tengah tajuk inangnya, contohnya Bilbergia sp., pohon-pohon lapisan C, atau pada batang liana yang
lebih besar. Contohnya tumbuhan paku.
e. Pencekik Pohon
Tumbuhan ini awalnya adalah epifit,
tetapi akarnya turun ke tanah, sehingga dapat hidup sendiri dan membunuh
inangnya. Contohnya Ficus sp. (sejenis karet atau beringin).Biji
pencekik pohon biasanya berkecambah di atas batang inang.
f. Saprofit
Saprofit bersama parasit-parasit
merupakan tumbuhan anggota heterotrof yang tidak berhijau daun.Saprofita
mendapatkan zat haranya dari bahan organik yang mati.Mayoritas saprofit yang
besar terdiri atas jamur.Saprofit lainnya, yaitu bakteri.
g. Parasit
Parasit terdiri atas dua kelompok, yaitu
parasit akar dan hemiparasit (setengah parasit).Parasit akar tumbuh di atas
tanah, sedangkan hemiparasit tumbuh sebagai benalu. Parasit akar jumlahnya
sedikit, tetapi sangat menarik perhatian, contohnya tumbuhan Rafflesia manillana, parasit pada akar liana Cissus .Rafflesia didapati di hutan Kalimantan,
Sumatra, dan Jawa.
Hemiparasit jumlahnya banyak, semuanya
tergolong ke dalam suku benalu (Loranthaceae).Jumlahnya melimpah, dan dapat dijumpai
di seluruh wilayah hutan tropika basah.Contohnya benalu yang merupakan
semak-semak berkayu, terdapat pada cabang dan ranting pohon yang lebih tinggi.
Hemiparasit, benalu Viscum orientale yang
akarnya merupakan alat pengisap tunggal (haustorium).
Keragaman tumbuhan tropik basah ditambah
pula dengan adanya tumbuhan yang hidup di hutan tropik musiman.Keistimewaan
wilayah tropika, yaitu adanya wilayah-wilayah yang iklimnya sedikit
ekstrem.Dengan demikian, vegetasi yang tumbuh memiliki karakter yang berbeda
dengan tumbuhan di hutan basah.Daerah ekstrem itu adalah hutan musim, lahan
hutan sabana dan lahan hutan berduri.
B. Iklim Daerah Tropis
Secara geografis daerah tropis mencakup
wilayah yang terletak di antara titik balik rasi bintang Cancer dan rasi bintang
Capricornus, yaitu antara 23°27’ Lintang Utara dan 23°27’ Lintang Selatan.
Meliputi wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, Australia bagian Utara,
sebagian besar wilayah Afrika, Kepulauan Pasifik, Amerika Tengah dan sebagian
besar wilayah Amerika Selatan. Menurut Koeppen (1930) daerah tropis adalah
wilayah yang terletak di antara garis isoterm 180 C bulan terdingin. Daerah
tropis secara keseluruhan mencakup 30 % dari luas permukaan bumi. Hutan Tropis
merupakan hutan yang berada di daerah tropis (Indriyanto, 2006).
Hutan hujan tropis merupakan salah satu
tipe vegetasi hutan tertua yang telah menutupi banyak lahan. Ekosistem hutan
hujan tropis terbentuk oleh vegetasi klimaks pada daerah dengan curah hujan
2.000 -11.000 mm per tahun, rata-rata temperatur 25°C dengan perbedaan
temperatur yang kecil sepanjang tahun, dan rata-rata kelembapan udara 80 %(
Indriyanto, 2006).
Tipe ekosistem hutan hujan tropis
terdapat di wilayah yang memiliki tipe iklim A dan B (menurut klasifikasi iklim
Schmidt dan Ferguson), atau dapat dikatakan bahwa tipe ekosistem tersebut
berada pada daerah yang selalu basah, pada daerah yang memiliki jenis tanah
Podsol, Latosol, Aluvial, dan Regosol dengan drainase yang baik, dan terletak
jauh dari pantai (Indriyanto, 2006)
Tegakan hutan hujan tropis didominasi
oleh pepohonan yang selalu hijau. Keanekaragaman spesies tumbuhan dan binatang
yang ada di hutan hujan tropis sangat tinggi. Jumlah spesies pohon yang
ditemukan dalam hutan hujan tropis lebih banyak dibandingkan dengan yang
ditemukan pada ekosistem yang lainnya. Misalnya, hutan hujan tropis di Amazonia
mengandung spesies pohon dan semak sebanyak 240 spesies Steven, 1988).
Hutan alam tropis yang masih utuh
mempunyai jumlah spesies tumbuhan yang sangat banyak. Hutan di Kalimantan
mempunyai lebih dari 40.000 spesies tumbuhan, dan merupakan hutan yang paling
kaya spesiesnya di dunia. Di antara 40.000 spesies tumbuhan tersebut, terdapat
lebih dari 4.000 spesies tumbuhan yang termasuk golongan pepohonan besar dan
penting. Di dalam setiap hektar hutan tropis seperti tersebut mengandung
sedikitnya 320 pohon yang berukuran garis tengah lebih dari 10 cm. Di samping
itu, di hutan hujan tropis Indonesia telah banyak dikenali ratusan spesies
rotan, spesies pohon tengkawang, spesies anggrek hutan, dan beberapa spesies
umbi-umbian sebagai sumber makanan dan obat-obatan (Steven, 1988).
Tajuk pohon hutan hujan tropis sangat
rapat, ditambah lagi adanya tumbuh-tumbuhan yang memanjat, menggantung, dan
menempel pada dahan-dahan pohon, misalnya rotan, anggrek, dan paku-pakuan. Hal
ini menyebabkan sinar matahari tidak dapat menembus tajuk hutan hingga ke
lantai hutan, sehingga tidak memungkinkan bagi semak untuk berkembang di bawah
naungan tajuk pohon kecuali spesies tumbuhan yang telah beradaptasi dengan baik
untuk tumbuh di bawah naungan(Steven, 1988)
Itu semua merupakan ciri umum bagi
ekosistem hutan hujan tropis. Selain ciri umum yang telah dikemukakan di atas,
masih ada ciri yang dimiliki ekosistem hutan hujan tropis, yaitu kecepatan daur
ulang sangat tinggi, sehingga semua komponen vegetasi hutan tidak mungkin
kekurangan unsur hara. Jadi, faktor pembatas di hutan hujan tropis adalah
cahaya, dan itu pun hanya berlaku bagi tumbuh-tumbuhan yang terletak di lapisan
bawah. Dengan demikian, herba dan semak yang ada dalam hutan adalah
spesies-spesies yang telah beradaptasi secara baik untuk tumbuh di bawah
naungan pohon
Tipe Hutan Hujan Tropis Menurut
Ketinggian Tempat
Menurut ketinggian tempat dari permukaan
laut, hutan hujan tropis dibedakan menjadi tiga zona atau wilayah sebagai
berikut.
1. Zona 1
dinamakan hutan hujan bawah karena terletak pada daerah dengan ketinggian
tempat 0 -1.000 m dari permukaan laut.
2. Zona 2
dinamakan hutan hujan tengah karena terletak pada daerah dengan ketinggian
tempat 1.000 - 3.300 m dari permukaan laut.
3. Zona 3
dinamakan hutan hujan atas karena terletak pada daerah dengan ketinggian tempat
3.300 - 4.100 m dari permukaan laut.
1. Zona Hutan Hujan Bawah
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan
bawah meliputi pulaupulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Irian,
Sulawesi, dan beberapa pulau di Maluku misalnya di pulau Taliabu, Mangole,
Mandioli, Sanan, dan Obi. Di hutan hujan bawah banyak terdapat spesies pohon
anggota famili Dipterocarpaceae terutama anggota genus Shorea, Dipterocarpus,
Hopea, Vatiea, Dryobalanops, dan Cotylelobium. Dengan demikian, hutan hujan
bawah disebut juga hutan Dipterocarps. Selain spesies pohon anggota famili
Dipterocarpaceae tersebut juga terdapat spesies pohon lain dari anggota famili
Lauraceae, Myrtaceae, Myristicaceae, dan Ebenaceae, serta pohon-pohon anggota
genus Agathis, Koompasia, dan Dyera (Weidelt, H. J, 1995).
Pada ekosistem hutan hujan bawah di Jawa
dan Nusa Tenggara terdapat spesies pohon anggota genus Altingia, Bischofia,
Castanopsis, Ficus, dan Gossampinus, serta spesies-spesies pohon dari famili
Leguminosae. Adapun eksosistem hutan hujan bawah di Sulawesi, Maluku, dan
Irian, merupakan hutan campuran yang didominasi oleh spesies pohon Palaquium
spp., Pometia pinnata, Intsia spp., Diospyros spp., Koordersiodendron pinnatum,
dan Canarium spp. Spesies-spesies tumbuhan merambat yang banyak dijumpai di
hutan hujan bawah adalah anggota famili Apocynaceae, Araceae, dan berbagai
spesies rotan (Calamus spp.)( Weidelt, H. J, 1995).
2. Zona Hutan Hujan Tengah
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan
tengah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, sebagian daerah Indonesia
Timor, di Aceh dan Sumatra Utara. Secara umum, ekosistem hutan hujan tengah
didominasi oleh genus Quercus, Castanopsis, Nothofagus, dan spesies pohon
anggota famili Magnoliaceae.
Di beberapa daerah, tipe ekosistem hutan
hujan tengah agak khas. Misalnya di Aceh dan Sumatra Utara terdapat spesies
pohon Pinus merkusii, di Jawa Tengah terdapat spesies pohon Albizzia montana
dan Anaphalis javanica, di beberapa daerah Jawa Timur terdapat spesies pohon
Cassuarina spp., di Sulawesi terdapat kelompok spesies pohon anggota genus
Agathis dan Podocarpus. Di sebagian daerah Indonesia Timur terdapat spesies
pohon anggota genus Trema, Vaccinium, dan pohon Podocarpus imbricatus,
sedangkan spesies pohon anggota famili Dipterocarpaceae hanya terdapat pada
daerah-daerah yang memiliki ketinggian tempat 1.200 m dpl.
C. Kebun Raya dan Pelestarian Plasma Nutfah
Kebun raya nama latinnya Horius Botanicus
Bogoriensies, berupa taman besar, tanam-tanaman aneka warna. Selain sebagai
pusat penyelidikan ilmiah yang terkenal di dunia dan mendapat kunjungan
ahli-ahli botani dari luar negeri. Kebun raya juga sebagai tempat pariwisata
atau hiburan yang terbuka untuk umum dan menarik banyak pengunjung juga dari
luar kota terutama pada hari libur (Fahn, 1991).
Tanaman yang akan ditanam di Kebun Raya,
yang akan menjadi tanaman koleksi, mempunyai kriteria tertentu. Tanaman-tanaman
tersebut dikoleksi dengan melalui tahapan-tahapan pemilihan serta lengkap
datanya sehingga mempunyai nilai di bidang ilmu pengetahuan.Tanaman-tanaman
koleksi ini ditanaman di kebun dengan penataan menuruti kaidah-kaidah ilmu
pertamanan sehingga nampak indah. Keindahan dan muatan ilmiah yang terkandung
tanaman koleksi ini menarik minat masyarakat luas untuk mengunjunginya dan
menjadikannya tempat rekreasi yang sehat, segar, nyaman dan berpengetahuan
(Sutrian, 2004).
Tata nama, daya guna dan perbanyakan
tanaman koleksi terus menerus diteliti untuk berbagai keperluan, termasuk
keperluan pendidikan, pengobatan, ekonomi, konservasi dll. Dengan pemasangan
papan-papan keterangan pada taman dan tanaman yang berdayaguna, selain sebagai
tempat wisata, kebun raya sekaligus berfungsi sebagai tempat pendidikan.
Masyarakat umum yang mengunjungi kebun raya yang tadinya bermaksud hanya untuk
berekreasi semata, akan pulang dengan tambahan wawasan dan pengetahuan di
bidang botani dan konservasi (Fahn, 1991).
Di bidang ekonomi, sebagai contoh, secara
langsung fungsi ini dikerjakan oleh Kebun Raya Bogor dengan jalan mengkoleksi
tanaman-tanaman berguna/tanaman industri yang didatangkan dari berbagai daerah
baik dari dalam maupun luar negeri, diteliti dan di budidayakan sebagai tanaman
komoditi perdagangan (contoh: Kina, karet, kelapa sawit, tembakau, sayur mayur,
dll).
Semua fungsi yang ada di dalam kebun raya
tersebut dilaksanakan secara bersamaan (simultan).Untuk memenuhi fungsi-fungsi
yang terkandung dalam kebun raya tersebut, berbagai kegiatan dilakukan oleh
kebun raya yang meliputi (Fahn, 1991).
1.
Melakukan
inventarisasi berbagai jenis tumbuhan Indonesia dan melakukan eksplorasi hutan Indonesia
dalam rangka pengkoleksian tumbuhan.
2.
Melakukan konservasi
tumbuhan dalam rangka melestarikan sumberdaya hayati Indonesia dan konservasi
lingkungan.
3.
Melakukan penelitian
di bidang botani, di bidang budidaya tanaman (potensi, adaptasi dan perbanyakan
tanaman), di bidang pelestarian tanaman serta pengembangan florikultura dan
lanskap pertamanan.
4.
Melakukan pelayanan
jasa ilmiah dalam bentuk penyediaan fasilitas pendidikan dan penelitian serta
penyelenggaraan wisata edukatif untuk menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap
lingkungannya.
5.
Melakukan kerjasama
di bidang pengembangan Kebun Raya (botanic garden) di tingkat nasional maupun
internasional.
6.
Melakukan urusan
tata usaha.
Tugas dan fungsi
Tugas utama adalah melakukan
inventarisasi, eksplorasi dan konservasi tumbuh-tumbuhan dataran rendah kering
yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi (Arief,2000).
Fungsi kebun raya (Arief, 2000):
1.
Melakukan
inventarisasi, eksplorasi dan konservasi tumbuh-tumbuhan yang mempunyai nilai
ilmu pengetahuan dan ekonomi, langka dan endemic. Terutama untuk flora
Indonesia dari datran rendah kering.
2.
Melakukan fasilitas
penelitian, pendidikan dan pemanduan khususnya di bidang botani
3.
Menyediakan
fasilitas rekreasi di alam terbuka
Kebun
raya (atau bisa juga disebut kebun botani, taman botani) adalah
suatu area kebun yang ditanami berbagai jenis tumbuhan yang ditujukan
terutama untuk keperluan penelitian dan konservasi. Selain untuk penelitian,
kebun raya juga kerap kali digunakan sebagai sarana wisata dan pendidikan bagi
pengunjung (Arief, 2000).
Indonesia mempunyai
5 Kebun Raya (taman botani) yang berada di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta sebuah Kebun Raya yang masih dalam tahap
perencanaan. Kelima Kebun Raya tersebut antara lain (Shadily. 2003):
Kebun Raya
Bogor atau Kebun Botani Bogor terletak di Kota Bogor, Jawa Barat
Indonesia. Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 80 hektar dan memiliki
sedikitnya 15.000 koleksi jenis tumbuhan. Kebun raya ini Didirikan oleh
Gubernur Jenderal Van Der Capellen dengan nama s’Lands Plantentuinte Buitenzorg
pada tanggal 18 Mei 1817.
Kebun Raya Bogor
memiliki sekitar 15.000 jenis koleksi tumbuhan.Salah satu daya tarik utama
Kebun Raya Bogor adalah bunga bangkai (Amorphophalus titanum).Bunga ini dapat mencapai tinggi 2m
dan merupakan bunga majemuk terbesar di dunia tumbuhan.
Untuk menuju lokasi
Kebun Raya Bogor dapat ditempuh malalui tengah kota Bogor, ± 60 km dari Jakarta
ke arah selatan.
2.
Kebun Raya Cibodas
Kebun Raya Cibodas terletak di Hutan
Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Lokasinya berdampingan
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cipanas, Jawa Barat.Kawasan konservasi
ini menempati lahan seluas 83 hektar.Kebun raya Cibodas ini Dibangun pada tahun
1862 oleh Johannes Elias Teysjmann sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor.
Kebun Raya Cibodas berada di
perbukitan dengan ketinggian 1275 meter dpl.Koleksi yang paling khas dari KRC
adalah Taman Lumut Cibodas yang memiliki 216 jenis lumut. Dengan luas 2500m
persegi, taman ini diklaim sebagai satu-satunya di dunia yang terletak di luar
ruangan dan memiliki koleksi terbanyak.
Untuk menuju lokasi
Kebun Raya Cibodas dapat ditempuh ± 5 KM dari Cipanas malalui Simpang Tiga,
Paregrejen.
3.
Kebun Raya Purwodadi
Kebun Raya
Purwodadi terletak di Jalan Raya antara Surabaya-Malang tepatnya di Kecamatan
Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.Kawasan konservasi ini menempati
lahan seluas 85 hektar.Kebun raya ini Didirikan atas prakarsa Dr. L.G.M. Baas
Becking pada 30 Januari 1941.
Kebun Raya Purwodadi
sedikitnya memiliki 2.344 spesimen anggrek, 30 jenis bambu, 150 jenis
polong-polongan, 117 jenis palem-paleman, 60 jenis paku-pakuan, dan banyak lagi
yang lainnya.
Untuk menuju lokasi
Kebun Raya Purwodadi dapat ditempuh ± 65 KM dari Surabaya ke arah Malang, atau
± 24 KM dari Malang ke arah Surabaya, atau ± 30 KM dari Pasuruan.
4.
Kebun Raya Bali
Kebun Raya Bali atau Kebun
Raya Eka Karya Baliterletak di kawasan Bedugul di Kabupaten Tabanan, Bali,
Indonesia. Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 157,5 hektar. Kebun
raya ini Diresmikan pada 15 Juli 1959, dengan nama Kebun Raya “Eka Karya”.
Kebun Raya Bali
berada di pegunungan dengan ketinggian 1.250 – 1.450 m dpl.Semula diperuntukkan
bagi tumbuhan jenis conifer namun kini telah dijadikan kawasan konservasi
ex-situ bagi tumbuhan pegunungan tropika kawasan timur Indonesia.
Jenis koleksi Kebun
Raya Bali antara lain terdiri atas anggrek tanaman palem, bambu, kaktus,
tanaman obat, paku-pakuan, serta tanaman upacara agama Hindu Bali. Jenis
koleksi yang ditanam di areal kebun yang berdasarkan kekerabatannya dan sebagian
lagi dikelompokkan berdasarkan fungsi terbagi atas 2 kelompok, antara lain:
Koleksi Umum : 1.099 jenis tanaman setempat dan Koleksi Tematik yang terdiri
dari Anggrek 293 jenis, Tanaman upacara hindu bali 218 Jenis, tanaman obat 318
jenis, kaktus 68 jenis, paku-pakuan 8 Jenis, bambu 62 jenis, palem 44 jenis.
Untuk menuju lokasi
Kebun Raya Eka Karya Bali dapat ditempuh 80 km ke arah utara Denpasar menuju
Singaraja, atau sekitar 40 km dari Singaraja ke arah selatan menuju Denpasar.
5.
Kebun Raya Batu
Raden
Kebun Raya Baturaden
terletak di Desa
Kemutuk Lor, Kec. Baturaden, Kab. Banyumas dan berada sekitar 14 Km dari Kota
Purwokerto, dan terletak sekitar 1,5 km dari gerbang utama Wana Wisata
Baturaden.
Kebun Raya Baturaden
berada di kaki Gunung Slamet Petak 1 dan 3, RPH Baturaden, BKPH Gn. Slamet
Barat KPH Banyumas Timur dibatasi sebelah utara Petak 4 dan 5 hutan produksi
terbatas, sebalah barat petak 2 hutan produksi terbatas, sebelah selatan petak
1 lokawisata Baturaden dan bumi Perkemahaan, sebelah timur petak 6 hutan
produksi terbatas. Topografi mulai landai sampai berbukit dengan kemiringan 20%
s/d 70% dan ketinggian + 600-750 m dpl dengan jenis tanah umumnya jenis latosol
berwarna merah kecoklatan.
Kebun Raya Baturaden
kaya akan berbagai potensi flora sebagaimana fungsi Kebun Raya sebagai
konservasi berbagai spesies tumbuhan. Jenis-jenis flora yang berada dalam
kawasan Kebun Raya Baturaden yang telah diidentifikasi oleh LIPI (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia) adalah damar (Agathis borneensis), puspa (Schima
wallichii), rasamala (Altingia excelsa), mahoni (Switenia macrophylla),
kaliandra (Callyandra sp), paku-pakuan, kantong semar dan jenis-jenis
anggrek. Jenis flora yang lainnya masih dalam identifikasi oleh LIPI sebagai
yang bertanggung jawab dalam pengelolaan Kebun Raya di Indonesia.
Plasma nutfah
Menurut Kamus
Pertanian Umum yang diterbitkan PT. Penebar Swadaya, definisi dari plasma
nutfah adalah substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam
setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit
agar tercipta suatu jenis unggul atau kultivar baru.Berdasarkan definisi
tersebut, dapat dimaklumi bahwa Indonesia memiliki plasma nutfah yang sangat
besar, dengan jenis yang beraneka ragam pula.Luasnya wilayah penyebaran
spesies, menyebabkan spesies-spesies tersebut menjadikan keanekaragaman plasma
nutfah cukup tinggi (Fahn, 1991).
Keberadaan
beberapa plasma nutfah menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah
akibat perubahan besar dalam penggunaan sumber daya hayati dan penggunaan lahan
sebagai habitatnya.Semua ini disebabkan oleh perbuatan manusia. Kebijakan
pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan pun turut berperan
dalam proses kepunahan plasma nutfah tersebut. Dengan semakin banyaknya
permasalahan konservasi plasma nutfah terutama di daerah-daerah rawan erosi
plasma nutfah dirasakan
penanganan permasalahan tersebut tidak mungkin hanya ditangani Komisi Nasional
Plasma Nutfah.Untuk itu, dirasakan perlu membentuk Komisi Daerah Plasma Nutfah
agar masalah-masalah yang timbul dapat cepat ditangani. Apalagi dengan
diberlakukannya UU No. 20 tahun 1999 tentang otonomi daerah serta memperhatikan
minat daerah yang besar, maka pembentukan Komisi Daerah Plasma Nutfah sangat
diperlukan (Fahn, 1991).
Pada peringatan
30 tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tanggal 3-8 Agustus 2004
telah dilakukan penanaman Manggis di kompleks pelestarian plasma nutfah Kampus
Penelitian Pertanian oleh Menteri Pertanian. Pada kesempatan ini Kepala Badan
Litbang Pertanian menanam Ylang Ylang, Walikota Bogor menanam Kayu Manis dan
Wakil Ketua DPR menanam pohon Pala. Kegiatan tersebut merupakan penanaman
perdana pelestarian plasma nutfah yang menurut rencana di Kompleks tersebut
akan ditanam plasma nutfah dari seluruh Indonesia. Diharapkan Kampus Penelitian
Pertanian Cimanggu Bogor di masa mendatang akan menjadi acuan dan sumber plasma
nutfah dari seluruh Indonesia ( Sutrian, 2004).
Menurut para
pakar lingkungan hidup, menyinggung masalah plasma nutfah yang tidak kalah
penting adalah perangkat hukum tentang pengamanan hayati.Para pakar sangat
mendukung upaya penyusunan peraturan hukum tentang pengamanan hayati, sesuai
komitmen Protokol Cartagena 2000.Namun rancangan undang-undang (RUU) tersebut
hendaknya diintegrasikan dan selaras dengan UU tentang pelestarian plasma
nutfah (Arief, 2000).
Rancangan
naskah UU tentang pelestarian plasma nutfah saat ini juga sedang disusun,
sebagai antisipasi atas kerusakan plasma nutfah.Alangkah baiknya jika topik
keamanan hayati produk transgenik diintegrasikan dengan pelestarian plasma
nutfah.Pembentukan UU yang terpisah dari UU yang sudah ada dan mengatur tentang
keamanan hayati dari produk transgenik bakal menambah kompleksitas
pengaturannya. Apalagi proses pembentukan sebuah UU selalu memakan waktu lama,
padahal semakin banyak permasalahan di lapangan yang perlu segera ditangani
(Arief, 2000).
Peraturan
pemerintah yang fleksibel dan terkait dengan kelembagaan perlu segera lahir
sehingga operasional tidak terkotak-kotak pada berbagai induk organisasi yang
berbeda, padahal materi yang diatur adalah sama. Sudah lebih kurang dua tahun
terakhir isu bioteknologi mencuat dalam perdebatan pro dan kontra di kalangan
akademisi, media masa, maupun masyarakat pengguna. Marilah kita memandang ke
depan dengan hati nurani yang tulus untuk menyusun rambu-rambu pengamanan
hayati. Ini demi kesejahteraan rakyat Indonesia, serta demi kelangsungan daya
dukung kehidupan alam Indonesia sebagai modal dasar pembangunan semesta (Fahn,
1991).
Acuan peraturan
dalam bentuk Undang-undang yang mengatur pengamanan sumberdaya hayati dan
produknya dari hari ke hari semakin diperlukan.Kesiapan daerah menangani
pengelolaan plasma nutfah perlu juga terus ditingkatkan, agar kerusakan
ekosistem dan lingkungan tidak semakin parah (Arief, 2000).
D. Pengelolaan Koleksi Herbarium
Herbarium sangat penting untuk keperluan
identifikasi, perbandingan, catatan ekologi dan data floristic, penetapan
spesies baru, dokumentasi, identifikasi spesies yang diisolasi dan pengawetan
tingkat teleomorf atau bentuk sporulasi yang mudah hilang dalam kultur.
Spesimen herbarium harus disertai data
paspor,minimum ditulis dengan pensil atau tinta yang tidak luntur.Data paspor
minimum meliputi:
1.
Nama
spesimen(apabila telah diidentifikasi)
2.
Lokasi pengumpulan
specimen
3.
Tanggal pengumpulan
specimen
4.
Nama pengumpul atau
kolektor
5.
Sifat-sifat specimen
dalam keadaan segar yang mungkin hilang selama proses pengawetan
6.
Nama daerah dan
identifikasi serta nomor sebagai
tambahan data paspor
Pembuatan awetan
spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus
mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di
temukan di alam.Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering.untuk
awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk
mengawetkan hewan dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya. awetan
basah, baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh
spesimen dalam larutan formalin 4%.
Awetan yang telah
dibuat kemudian dimasukkan dalam daftar inventaris koleksi.pencatatan dilakukan
kedalam field book/collector book. sedangkan pada herbarium keterangan tentang
tumbuhan dicantumkan dalam etiket. dalam herbarium ada dua macam etiket, yaitu
etiket gantung yang berisi tentang; nomer koleksi, inisial nama kolektor,
tanggal pengambilan spesimen dan daeran tingkat II tempat pengambilan (untuk
bagian depan) dan nama ilmian spesimen (untuk bagian belakang).
Pada etiket tempel
yang harus dicantumkan antara lain; kop( kepala surat) sebagipengenal
indentitas kolektor/lembaga yang menaungi, (No)nomer koleksi,(dd)tanggal ambil,
familia, genus, spesies, Nom. Indig(nama lokal), (dd) tanggal menempel,
(determinasi)nama orang yang mengidentifikasi spesimen itu, (insula) pulau
tempat mengambil, (m. alt) ketinggian tempat pengambilan dari permukaan air
laut, (loc) kabupaten tempat pengambilan, dan (annotatione) deskripsi spesimen
tersebut.
Secara umum teknik pembuatan herbarium dapat dibagi menjadi dua
cara,yaitu cara basah dan kering.
Materi yang akan diawetkan direndam dalam larutan pengawet.Bahan
pengawet yang umum digunakan ialah alcohol 70% atau Formalin-alkohol-asam
asetat(FAA). Bahan yang disimpan dalam larutan pengawet dapat dipakia untuk
keperluan pembuatan sediaan (preparat) dan pewarnaan. Formalin-alkohol-asam
asetat ada dua macamnya.Komposisinya dapat dilihat dalm table dibawah ini:
|
Nama
|
I
|
II
|
|
Formalin 40%
|
6.5 ml
|
10 ml
|
|
Alkohol 50%
|
100 ml
|
100 ml
|
|
Asam asetat biang
|
2.5 ml
|
10 ml
|
Bahan yang diawetkan dimasukan kedalam botol bersama-sama dengan
larutan pengawet.Bagian lar botol diberi label yang memberikan informasi
mengenai data paspor.
Bahan yang akan dibuat herbarium dipanaskan dengan perlahan-lahan
dibawah matahri atau didalam oven pada suhu sedang.Tanaman herba atau daun yang
mengandung cendawan harus ditekan dengan sesak dan diletakkan diantara
dilembaran koan selama masa pengeringan.
Spesimen herbarium dari biakan dapat pula dibiakkan dengan cara
mengeringkannya.Herbarium kering disimpan dalam amplop kertas
transparan,kemudian dimasukkan dalam amplop kertas kaku berkualitas baik dengan
ukuran sekitar 15cm x 10 cm.Amplop-amplop ini dimasukkan kedalam kotak dan
disimpan dalm lemari atau cabinet.Data paspor minimum ditulis pada selembar
kertas terpisah yang dimasukkan kedalam amplop
atau ditempelkan kedalam amplopnya.
Agar specimen herbarium tidak rusak selama periode
penyimpananspesimen tersebut perlu diberi perlakuan.Untuk melindunginya dari
serangan kutu da serangga lainnya,specimen diberi perlakuan metal bromide dalam
ruangan fumigasi selama 24-48 jam sebelum di susun dan disimpan dalam kotak
atau cabinet.Fumigasi berkala terhadap specimen perlu dilakukan .Dalam lemari
dapat pula diberi kapur barus untuk mencegah serangan kutu atau serangga
lainnya.
Hal yang perlu diperhatikan pada saat proses pembuata
herbarium(Steenis, 1981):
1.
TAHAP PENGUMPULAN
Pengumpulan tanaman
dilakukan dengan melakukan eksplorasi di lapangan.Selanjutnya masukan tumbuhan
yang diperoleh kedalam vasculum, atau dimasukan saja kedalam halaman
sebuah buku yang tebal.Ambilah terutama dari bagian tumbuhan yang berbunga atau
malahan yang berbuah.Buatlah sedikitnya 2 sampel yang lengkap dari tiap
jenis.Bagian dari tumbuhan yang besar sedikitnya panjangnya 30-40 cm dan
sedikitnya harus ada satu daun dan satu inflorescencia yang lengkap, kecuali
kalau bagiannya yang khusus masih terlalu besar.Lihatlah bagian tumbuhan yang
berada dibawah tanah. Sediakan buku untuk mencatat kehususan seperti : warna,
bau, bagian dalam tanah, tinggi tempat dari permukaan laut, tempat, banyaknya
tanaman tersebut.
2.
CARA MENGERINGKAN
Tumbuhan diatur
diatas kertas kasar dan kering, yang tidak mengkilat, misalkan kertas
Koran.Letakan diantara beberapa halaman yang dobel dan sertakan dalam setiap
jenis catatan yang dibuat untuk tanaman tersebut.Juga biasanya digunakan etiket
gantung yang diikatkan pada bahan tumbuh-tumbuhan, yang nomornya adalah
berhubungan dengan buku catatan lapangan.Tumbuh-tumbuhan yang berdaging tebal,
direndam beberapa detik dalam air yang mendidih.Lalu tekanlah secara
perlahan-lahan.Gantilah untuk beberapa hari kertas pengering tersebut. Ditempat
yang kelembabannya sangat tinggi, dapat dijemur dibawah sinar mata hari atau
didekatkan di dekat api (diutamakan dari arang). Tanaman dikatakan kering kalau
dirasakan tidak dingin lagi dan juga terasa kaku. Diusahakan bahwa seluruh
sample terus-menerus dalam keadaan kering. Makin cepat mereka mongering, maka
makin baik warna itu dapat dipertahankan.
3.
PENGAWETAN
Tanaman yang dikeringkan selalu bersifat
hygroscopis, akan mudah sekali terserang jamur. Oleh karena itu, usahakanlah
penyimpanan herbarium di tempat kering dan jemurlah koleksi tersebut
sekali-kali dibawah sinar matahari.Terhadap serangan serangga, yang juga memakan
tumbuh-tumbuhayang sangat kering, dapat dipakai bubukan belerang, naphtaline,
atau yang lebih baik dapat digunakan paradichloorbenzol.Kedua zat yang
terakhir ini menguap langsung dan terus-menerus.
4.
PEMBUATAN HERBARIUM
Tempel herbarium,
kalau dapat pada helaian yang terlepas, sehingga kelak dapat ditempatkan
menurut selera yang dikehendaki. Tempelkan nama pada kertas dengan kertas
label. Tuliskan diatas kertas herbarium data mengenai tanggal, tempat
ditemukan, tempat mereka tumbuh, nama penemu, catatan khusus, nama familia dan
nama spesies.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Waktu dan Tempat Penelitian
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) pada Mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi ini
dilaksanakan pada hari minggu 1 April 2012 pukul 10.00 WIB sampai 14.00 WIB di
Kebun Raya Purwodadi Pasuruan.
B.
Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang dipergunakan pada pengamatan kali ini adalah sebagai berikut :
1.
Pensil 1
buah
2.
Buku klasifikasi 1 buah
3.
kertas secukupnya
3.2.2 Bahan
Bahan tumbuhan yang digunakan sebagai pengamatan adalah sebagai berikut :
1. Tumbuhan kelas
Angiospermae
C.
Cara Kerja
1. Diamati morfologi pada tumbuhan yang akan
diidentifikasi
2. Dicatat hasil identifikasi morfologi pada
Tumbuhan yang diamati
3. Diidentifikasi termasuk dalam Family apa
tumbuhan yang Diamati
4. Dicatat hasil pengidentifikasian
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Koleksi Herbarium
Herbarium adalah kumpulan tumbuhan kering yang
dipres dan ditempelkan pada lembaran kertas, biasanya kertas manila yang
menghasilkan suatu label dan data yang rinci serta disipan dalam rak-rak atau
lemari besi dalam urutan menurut aturan dimana herbarium itu disimpan.
Herbarium sangat penting untuk digunakan dalam
pekerjaan taksonomi. Herbarium terdiri dari koleksi kering dan koleksi basah.
Koleksi basah tidak dipres dan merupakan specimen-spesimen hidup yang
dipelihara dengan baik. Tiap-tiap specimen digunakan untuk mengidentifikasi
specimen-spesimen baru yang tidak diketahui namanya. Prosesnya dengan cara
membandingkan antara tanaman yang ingin diketahui namanya dengan specimen yang
suda diketahui namanya yang ada pada tempat-tempat penyimpanan herbarium atau
untuk mempelajari morfologi paku ( serbuk sari Koleksi herbarium disimpan di
ruang tersendiri dan dapat dimanfaatkan
untuk umum guna keperluan penelitian. Biji dari tanaman koleksi
dikumpulkan dan ditempatkan dalam bank biji. Tersedia indeks seminum yang
berisikan daftar koleks biji Kebun Raya Purwodadi. Tercatat ada 80 suku, 295 marga, 462 jenis
Peralatan dan Bahan
yang Digunakan untuk Pembuatan Herbarium:
1. Gunting untuk tanaman
2. Pisau
3. Garpu tanah atau cetok
4. Kantung plastic bermacam ukuran
5. Buku kecil untuk catatan lapangan
6. Label
7. Etiket gantung
8. Pensil hitam
9. Spidol
10. Kaca pembesar
11. Altimeter
12. Kertas herbarium ukuran 29cmx 43cm
13. Pengepres (sasah)
14. Kertas Koran
15. Formaldehid 4%
16. Etil alcohol 70%
17. Sublimat
18. Asam cuka
19. Kupri sulfat
20. Akuades Sampai dengan januari 2000, herbarium yang telah dikumpulkan sebanyak
1. Gunting untuk tanaman
2. Pisau
3. Garpu tanah atau cetok
4. Kantung plastic bermacam ukuran
5. Buku kecil untuk catatan lapangan
6. Label
7. Etiket gantung
8. Pensil hitam
9. Spidol
10. Kaca pembesar
11. Altimeter
12. Kertas herbarium ukuran 29cmx 43cm
13. Pengepres (sasah)
14. Kertas Koran
15. Formaldehid 4%
16. Etil alcohol 70%
17. Sublimat
18. Asam cuka
19. Kupri sulfat
20. Akuades Sampai dengan januari 2000, herbarium yang telah dikumpulkan sebanyak
CARA MEMBUAT HERBARIUM
Cara koleksi tumbuhan-tumbuhan yang memiliki
perawakan kecil seperti herba atau semak dapat dikoleksi secara menyeluh.
Sedangkan cara mengoleksi pohon-pohon yang tinggi, liana dan epifit yakni
dengan mengumpulkan apa saja yang dimiliki oleh tanaman tersebut yang diseleksi
tanpa merusak tanaman tersebut. Pada pengoleksian idealnya harus berisi semua
bagian tanaman seperti akar, batang, daun, buah, biji dan sebagainya.
Dalam pengumpulan tumbuhan dilapangan harus memperhatikan hal-hal
berikut:
a. Tumbuhan
yang dibuat herbarim diusahakan selengkap mungkin dan terutama tumbuhan yang sedang berbunga
atau yang sedang berbuah. Kumpulkan tanaman dari lapangan kedalan vaskulum atau masukkan
diantara kertas koran.
b. Tumbuhan diberi etiket gantung dan
diberi nomor urut, nama singkatan kolektor, tanggal pengambilan.
c. Pada
buku koleksi dibuat catatan yang datanya tidak terbawapada specimen yang
diambil: tempat tumbuh, tinggi tempat, keadaan lingkungan, warna, bau,
bagian-bagian dalam tumbuhan (besar populasi), dan lain-lain.
Pengeringan dan Pengawetan
a. Pengerigan
Pengeringan dan pengawetan bertujuan untuk mencegah kerusakan yang
disebabkan oleh serangga. Pengeringan dan pengawetan specimen dapat dilakukan
dengan beberapa cara : oven, pengarangan lampu, diberi bahan kimia atau
pengeringan dengan sinar matahari.
b. Pengawetan
1. Dilapangan
a. Menggunakan formaldehid (8%)
i. Ambil botol plastic polietena yang mempunyai ukuran 2,5l .
ii. Timbang 250 gr paraformaldehid, tambah 2 sdt heksamin masukkan dalam botol plastic.
iii. Tambah air mendidih sampai botol penuh.
iv. Biarkan larutan itu selama semalam hingga menjadi formaldehid 8%.
b. Etil alcohol 75%
2. Di tempat penyimpanan
Insektisida yang digunakan selama
penyimpanan :
a. Kontak : gas sianida,
paradichlorobenzena (PBD) dan karbon sulfide.
b. Digestive : garam merkuri dan merkuri
klorida.
3. Pengawetan herbarium kering
Bahan yang sudah dikeringkan dicelup pada
campuran 1000cc alcohol dan 40gr sublimat hingga basah seluruhnya. Kemudian keringkan
lagi hingga kering betul.
4. Pengawetan herbarium basah
Tumbuhan dicuci hungga bersih dan
masukkan dalam bahan yang terdiri atas campuran 1000cc air suling, 25cc
formalin, 1cc asam cuka, dan 15cc merkuri sulfat.
C. Label
Buku catatan di lapangan digunakan untuk
mengisi label yang digunakan pada specimen herbarium meliputi :
1. Nomor koleksi
2. Nomor specimen
3. Suku
4. Lokasi
5. Ketinggian
6. Tanggal
7. Habitat : meliputi topografi, tanah, air, dan tipe vegetasi.
8. Nama daerah
1. Nomor koleksi
2. Nomor specimen
3. Suku
4. Lokasi
5. Ketinggian
6. Tanggal
7. Habitat : meliputi topografi, tanah, air, dan tipe vegetasi.
8. Nama daerah
Tabel 1. Daftar Koleksi
Herbarium yang ada di Kebun Raya
|
NO
|
Nama Spesies
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
|
Syzygium. po/yanthum (Wight) Walp. (salam)
S. cumini ('l.)
Skells. Ouwet, jamblang, duwet)
S. polycephalum
(Miq.) Merr. & L.M. Perry (gowok, dampyong),
S. aromaticum (L.)
Merr. & L.M. Perry (cengkeh)
S. malaccense (L.)
Merr. & L.M.Perry Uambu darsono, jambu bol)
S. pycnanthum Merr.
& L.M. Perry (klampok abang),
S. aqueum (Burm.f.) Aist. Oambu
kancing, klampok kancing)
S. samarangense (BI.) Merr. &
L.M. Perry Uambu air, klampok buah),
|
|
9
10
11
|
S. jambos (L.) Alston Oambu mawar),
S. litorale (klampok alas)
S. glabratum.
|
|
12
|
Glochidion
borneese
|
|
13
|
Celastrus
paniculatus
|
|
14
|
Raflesia manillana
|
|
15
|
Viscumarticulatum
|
|
16
|
Termanalia catanna
|
|
17
|
Melastona
malabathricum
|
|
18
|
Punica Granatum L.
|
|
19
|
Helicia javanica
|
|
20
|
Cassia fistula L.
|
|
21
|
Bauhania purpurea
|
|
22
|
Samanea saman
|
|
23
|
Payena leerii
|
|
24
|
Camellia sinensis L.
|
|
25
|
Lithocarpus
conocarpus
|
|
26
|
Morus alba L.
|
|
27
|
Nymphaea odorata
|
|
28
|
Piper nigrum L.
|
|
29
|
Talauma candollii Bl.
|
|
30
|
Cananga oadorata
|
B. Kebun Raya Purwodadi
Kebun Raya Purwodadi adalah sebuah kebun penelitian besar yang terletak di
Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Luasnya mencapai 85 hektar dan
memiliki sekitar 10.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan.
Kebun raya Purwodadi didirikan pada tanggal 30 Januari 1941 oleh Dr.
Lourens Gerhard Marinus Baas Becking atas prakarsa Dr. Dirk Fok van Slooten
pada tanggal 30 Januari 1941 sebagai pemekaran dari Stasiun Percobaan 's Lands
Plantentuin Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor. Kebun ini merupakan salah satu
dari tiga cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor) yang masing-masing
memiliki tugas dan fungsi spesifik. Kedua cabang lainnya adalah Kebun Raya
Cibodas dan Kebun Raya Eka Karya Bali. Pengelolaan seluruh Kebun Raya ini
berada di bawah tanggung jawab Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Mula-mula kebun ini dipergunakan untuk kegiatan penelitian tanaman
perkebunan.Kemudian pada tahun 1954 mulai diterapkan dasar-dasar
per-kebunraya-an yaitu dengan dimulainya pembuatan petak-petak tanaman
koleksi.Sejak tahun 1980 sebagian tanaman ditata kembali menurut kelompok suku
yang menganut klasifikasi sistem Engler dan Pranti.Dalam perkembangannya
diharapkan Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi akan menjadi pusat konservasi dan
penelitihan tumbuhan iklim kering di daerah tropis.
Kebun ini merupakan salah satu dari 3 cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun
Raya Bogor) yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi spesifik.Kedua cabang
lainnya adalab Kebun Raya Cibodas dan Kebun Raya Eka Karya Bali.Cabang Kebun
Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor). Kebun Raya Indonesia merupakan Unit
Pelaksana ( Kebun Raya Bogor ), Kebun Raya Indonesia merupakan Unit Pelaksana
Teknis yang bernaung dibawah dan bertanggung jawab kepada Deputi Ketua LIPI
Bidang IPA. Yang pembinan sehari-hari dilakukan oleh Kepala Pusaat Penelitian
dan Pengembangan ( Pulitbang Biologi ). Pengelolahan seluruh Kebun Raya ini
berada dibawah tanggung jawab LIPI ( Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia )
Lokasi Kebun Raya ini terletak di Desa Purwodadi,
Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan Lokasi ini terletak di tepi jalan besar
yang menghubungkan 3 kota, yaitu Malang, Surabaya, dan Pasuruan. Jarak dari kota Malang adalah 24 km ke arah
utara, dan dari kota Pasuruan 30 km ke arah barat daya dan dari kota Surabaya
65 km ke arah selatan. Luas Kebun Raya
Purwodadi sakitar 85 ha, pada ketinggian 300m dpl dengan topografi datar sampai
bergelombang.Curah hujan rata--rata per tahun 2366 mm dengan bulan basah antara
bulan November dan Maret dengan suhu berkisar antara 220 - 320 C.
Sebagai salah satu lembaga konservasi tumbuhan ex-situ, Kebun Raya
Purwodadi mempunyai tugas melaksanakan inventarisasi, eksplorasi, penanaman
koleksi dan pemeliharaan tumbuhan dataran rendah kering yang memiliki nilai
ilmu pengetahuan dan berpotensi untuk dikoleksi (dikonservasi). Kebun Raya
Purwodadi seluas 845.148 m2 memiliki 174 famili, 904 marga dan 1.896 jenis
berdasarkan katalog 2006 (Suprapto et al., 2006).
C. Koleksi Tanaman di Kebun Raya Purwodadi
1.
Family Meliaceae
Kingdom Plantae
Divisi Magnoliophyta
Class Magnoliopsida
Ordo Sapindales
Family Meliaceae
Genus Swietenia
Spesies Swietenia macrophylla
Berdasarkan klasifikasi ilmiahnya,
tanaman mahoni termasuk dalam keluarga/familia Meliaceae. Tanaman yang di
Indonesia dikenal sebagai mahoni ini mempunyai banyak nama sesuai dengan daerah
atau negaranya. Di Bangli disebut sebagai mahagni. Di Belanda dikenal sebagai
mahok. Orang Perancis menyebutnya acajou atau acajou pays, sementara tetangga kita
(Malaysia) menamai tanaman ini cheriamagany. Lain lagi dengan orang Spanyol
yang mengenalnya sebagai caoba/caoba de Santo/domingo. Di Indonesia sendiri
tumbuhan berkayu keras ini mempunyai nama lokal lainnya, yaitu mahagoni, maoni
atau moni. Asal usul tanaman ini dari Hindia Barat dan Afrika.
Performance Tanaman: Tanaman mahoni merupakan tanaman tahunan, dengan tinggi rata-rata
5 - 25 m (bahkan ada yang mencapai lebih dari 30 m), berakar tunggang dengan
batang bulat, percabangan banyak, dan kayunya bergetah. Daunnya berupa daun
majemuk, menyirip genap, helaian daun berbentuk bulat telur, ujung dan pangkal
daun runcing, tepi daun rata, tulang menyirip dengan panjang daun 3 - 15 cm.
Daun yang masih muda berwarna merah dan setelah tua jreng..jreng.. bukan sulap
bukan sihir, berubah menjadi hijau. Bunga tanaman mahoni adalah bunga majemuk,
tersusun dalam karangan yang keluar dari ketiak daun. Ibu tangkai bunga
silindris, berwarna coklat muda. Kelopak bunganya lepas satu sama lain dengan
bentuk menyerupai sendok, berwarna hijau. Mahkota bunga silindris, berwarna
kuning kecoklatan. Benang sari melekat pada mahkota. Kepala sari berwarna
putih/kuning kecoklatan. Tanaman mahoni ini baru akan berbunga setelah usia 7
atau 8 tahun. Setelah berbunga, tahap selanjutnya adalah berbuah. Buah mahoni
merupakan buah kotak dengan bentuk bulat telur berlekuk lima. Ketika buah masih
imut berwarna hijau, dan setelah besar berwarna coklat. Di dalam buah terdapat
biji berbentuk pipih dengan ujung agak tebal dan warnanya coklat kehitaman.
Buah yang sudah renta alias tua sekali kulit buahnya akan pecah dengan
sendirinya dan biji-biji pipih itu akan bebas berterbangan kemana angin meniup.
Bila jatuh ke tanah yang cocok akan tumbuh menjadi tanaman mahoni generasi
baru.
Tanaman mahoni banyak ditemukan di
pinggir-pinggir jalan sebagai pohon pelindung. Pohonnya yang besar cocok untuk
berteduh. Disamping itu karena sifatnya yang tahan panas/hidup di tanah gersang
sehingga tanaman ini tetap bertahan menghiasi tepi jalan di beberapa daerah. Bagi
penduduk Indonesia khususnya Jawa, tanaman ini bukanlah barang baru,
karena sejak jaman penjajahan Belanda mahoni dan rekannya, pohon asan, sudah
banyak ditanam di pinggir jalan sebagai peneduh terutama di sepanjang jalan
Daendels (dari Merak sampai Banyuwangi). Dan sejak 20 tahun terakhir ini,
tanaman mahoni mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang
cukup tinggi. Kualitas kayunya keras dan sangat baik untuk meubeler, furniture,
barang-barang ukiran
Spesies: S. Macrophylla dan
kerajinan tangan. Sering juga dibuat penggaris karena sifatnya yang tidak mudah
berubah. Kualitas kayu mahoni berada sedikit dibawah kayu jati sehingga sering
dijuluki sebagai primadona kedua (primadona utamanya tetep jati donk..). Untuk
mahoni yang tua kayunya berwarna merah kecoklatan. Ada beberapa jenis mahoni
yaitu mahoni berdaun kecil (Swietenia mahagoni) dan mahoni berdaun lebar
(Swietenia macrophilea). Swietenia mahagoni kualitas kayunya lebih bagus
dibanding Swietenia macrophilea. Sedangkan kelebihan Swietenia macrophilea
adalah lebih cepat tumbuh menjadi besar dan kayunya lempeng. Pemanfaatan lain
dari tanaman mahoni adalah kulitnya dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain
yang direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan wantek (tidak luntur).
Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai
bahan baku lem (perekat), dan daun mahoni untuk pakan ternak.
Pemanfaatan mahoni sebagai obat sudah sejak
tahun 70-an. Yang diambil adalah bijinya. Pada waktu itu cara konsumsinya masih
sederhana (tanpa diolah) yaitu dengan menelan langsung bijinya setelah membuang
bagian yang pipih. Konon banyak penyakit yang kabur setelah diobati dengan biji
mahoni ini. Tapi rasanya yang pahit banyak dikeluhkan. Dewasa ini sejalan dengan
semboyan back to nature, pengobatan dengan bahan-bahan dari alam mulai banyak
dilirik. Manusia mulai lebih kreatif mengolah bahan-bahan dari alam yang akan
digunakan sebagai obat. Biji mahoni sebagai bahan baku obat dikeringkan
terlebih dahulu kemudian digiling halus menjadi serbuk
Meliaceae, keluarga mahoni dari tanaman berbunga , dari tatanan Sapindales , terdiri dari 51 marga dan sekitar 575
jenis pohon dan (jarang) semak, asli daerah tropis dan subtropis. Kebanyakan
anggota keluarga memiliki daun majemuk yang besar, dengan selebaran diatur
dalam bentuk bulu, dan bercabang bunga cluster. Buah ini berdaging dan berwarna
atau kapsul kasar. Itu Cina pohon (Melia azedarach), juga disebut chinaberry, pohon manik , dan Persia ungu, adalah Asia hias pohon dengan buah-buahan kuning bulat, sering
dibudidayakan di banyak daerah beriklim tropis dan hangat. Pohon dari genus Swietenia
dan Entandophragma,
biasa disebut mahoni , dan dari Cedrela genus (terutama kayu cedar cerutu kotak , C. odorata)
adalah pohon kayu ekonomis penting. Para nimba, atau NIM, pohon, juga disebut
pohon margosa (Azadirachta
genus), ditanam di daerah tropis Dunia Lama, khususnya di India dan Asia Tenggara , merupakan sumber minyak kayu dan obat
dan resin.
2.
Family Lauraceae
Kingdom Plantae
Divisi Magnoliophyta
Kelas Magnoliopsida
Ordo Laurales
Family Lauraceae
Genus Cinnamomum
Spesies Cinamomum burmanni
Keluarga
Lauraceae atau Laurel terdiri dari
sekelompok tanaman berbunga termasuk dalam urutan Laurales . Keluarga itu mencakup sekitar 55 genera dengan mungkin sebanyak
2.200-2.500 spesies di seluruh dunia, sebagian besar dari daerah hangat atau
tropis, khususnya Asia Tenggara dan Amerika Selatan . Kebanyakan aromatik evergreen pohon atau semak, tetapi satu atau dua
genera, termasuk Sassafras yang gugur , dan Cassytha adalah genus dari parasit tanaman
merambat .
Ikhtisar
Para Lauraceae adalah botani keluarga yang mencakup "Laurel
Benar" dan kerabat terdekat. Mereka terdiri dari keluarga kosmopolitan, tetapi
dengan sebagian besar spesies yang terjadi di daerah tropis. Para Lauraceae
adalah komponen penting dari hutan tropis mulai dari dataran rendah ke pegunungan . Di daerah berhutan beberapa Lauraceae adalah salah satu dari lima
keluarga atas dalam hal jumlah spesies ini.
Selain kehadiran umum mereka di hutan
tropis, anggota dari bentuk Lauraceae komponen karakteristik dan sering dominan
habitat dikenal sebagai hutan Laurel . Para Laurisilva dari Macaronesia menyajikan contoh yang ditandai, tetapi, kecuali hanya Antartika , hutan laurel berbagai jenis terjadi di semua benua atau pulau besar yang
terkait.
Meskipun jumlah spesies di Lauraceae tidak
pasti, perkiraan menunjukkan lebih dari 3000, dan mungkin 4000, spesies dalam
52 genera di seluruh dunia. Dibandingkan dengan keluarga tanaman lainnya,
taksonomi mereka masih kurang dipahami. Hal ini sebagian karena keragaman
spesies, sebagian karena kesulitan teknis dalam identifikasi, dan sebagian
karena investasi yang tidak memadai dalam upaya taksonomi. Namun demikian,
bunga terakhir telah maju pengetahuan sistematis keluarga.
Pengetahuan tentang keluarga ini di tingkat
nasional adalah bahwa diharapkan di negara dengan sarana ekonomi terbatas,
dengan sebagian besar spesies demikian buruk ditentukan atau bahkan tak tentu.
Di sisi lain, persentase yang tinggi dari spesies baru baru-baru ini
digambarkan berasal dari koleksi yang dibuat di negara-negara. Oleh karena itu
peningkatan dalam studi keluarga, di tingkat nasional, adalah yang paling
penting bagi kemajuan sistematika dari keluarga pada umumnya.
Monograf terbaru dari marga Lauraceae di
genera kecil dan menengah, hingga 100 spesies, telah menghasilkan peningkatan
yang tinggi dalam jumlah spesies yang dikenal. Peningkatan tinggi dalam jumlah
spesies ini diharapkan untuk genera lain, terutama bagi mereka dengan lebih
dari 150 spesies yang tercatat, membawa peningkatan yang cukup besar diharapkan
dalam jumlah spesies keluarga (http//botanica.uniandes.edu.co).
Sebagian besar spesies dalam keluarga
Lauraceae pohon , biasanya hijau. Pengecualian yang paling radikal adalah dua lusin
spesies yang terdiri dari genus Cassytha ,yang semuanya obligately parasit tanaman
merambat. Pohon dari keluarga laurel mendominasi di dunia hutan laurel dan hutan awan , yang terjadi di daerah tropis, daerah beriklim subtropis dan ringan dari
belahan utara dan selatan, menyoroti Macaronesian pulau, selatan Jepang , Madagaskar , dan tengah Chile .
Ada tiga penggunaan ekonomis utama bagi
keluarga ini. Sebuah tingginya kandungan minyak
esensial yang ditemukan dalam Lauraceae banyak yang penting untuk rempah-rempah dan
parfum. Alpukat yang penting kaya minyak buah yang sekarang ditanam di iklim
hangat di seluruh dunia. Keras kayu banyak spesies merupakan sumber kayu di seluruh dunia. Sejumlah besar
spesies berada dalam bahaya kepunahan akibat eksploitasi berlebihan sebagai
tanaman obat atau ekstraksi kayu dan juga untuk hilangnya habitat.
Genera berikut termasuk spesies dengan
nilai komersial dan akibatnya di antara yang paling terkenal: Cinnamomum : Cinnamon , Cassia dan Kamper Laurel , Laurus : Bay Laurel , Lindera : Spicebush , Persea : Alpukat , Sassafras : Sassafras.
Ekologi
Daun dari beberapa spesies dalam Lauraceae
memiliki Domatia di axils mereka vena . Domatia ini adalah rumah bagi tertentu tungau . Lauraceous spesies lainnya, anggota dari genus Pleurothyrium khususnya, memiliki simbiosis hubungan dengan semut yang melindungi dan membela pohon.
Mekanisme pertahanan lain yang terjadi
antara anggota Lauraceae termasuk getah iritasi atau beracun atau jaringan yang
mengusir atau meracuni banyak herbivora organisme. Beberapa zat aktif karakteristik spesies lauraceous dinilai
sebagai wewangian di perhiasan (seperti dalam tradisional karangan bunga laurel dari zaman klasik ) atau dalam pembuatan kabinet , di mana hutan wangi dari berbagai
spesies pohon lauraceous berharga untuk membuat serangga repellant dada , atau dalam memasak, di mana daun salam telah menjadi bahan pedas populer di masakan Eropa, Amerika dan Asia yang
beragam.
Beberapa randa spesies di Lauraceae terjadi di daerah beriklim kedua belahan otak, tetapi
sebagian besar keluarga sudah tersebar ke seluruh daerah tropis dan subtropis,
banyak dari mereka di hutan awan , yang terakhir tergantung pada kondisi yang sangat lembab. Pusat-pusat
utama keanekaragaman dalam Indomalaya, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, di
Afrika ada spesies yang lebih sedikit dibandingkan dengan daerah ekologis
serupa lainnya.
Keluarga itu berasal dari pesisir hutan laurel dari Gondwana , yang merupakan alasan untuk polanya distribusi. Para Lauraceae mendiami
hutan tropis pegunungan, beberapa spesies mencapai 4000 m di atas permukaan
laut, tetapi sebagian besar spesies lebih sering pada ketinggian rendah hutan
hujan. Beberapa telah beradaptasi dengan menuntut kondisi di semi-kering
beriklim tapi kemudian mereka cenderung tergantung pada menguntungkan edafis kondisi, misalnya, akuifer abadi, aliran air tanah periodik, atau hutan
secara berkala banjir di pasir yang mengandung hampir tidak ada nutrisi.
Berbagai spesies beradaptasi dengan kondisi yang lain akan tak tertahankan,
dengan menumbuhkan pneumatophores , akar yang tumbuh ke atas, proyeksi atas tingkat banjir periodik yang
tenggelam tanaman bersaing tanpa adaptasi setara.
Pola-pola spesiasi dalam Lauraceae
menunjukkan bahwa sejak awal aridification di benua 15 juta tahun yang lalu , hutan hujan yang terfragmentasi ke dalam kepulauan saat ini hutan di
planet ini. Hal ini menyebabkan peningkatan drastis dalam spesiasi dengan
mayoritas spesies modern kita menjadi produk-produk dari spesiasi parapatric . Banyak dari spesies
yang dihasilkan memiliki distribusi yang sangat terpisah dengan taksa adik
terjadi di pusat-pusat lain dari hutan
hujan dan keanekaragaman awan
hutan. Ini mendukung gagasan bahwa kelompok itu berasal dari Gondwanan.
Kelompok lain dari Lauraceae yang menanggapi periode iklim yang menguntungkan
dan diperluas di seluruh habitat yang tersedia, terjadi sebagai spesies
oportunistik seluruh distribusi yang luas dengan kerabat dekat dan beberapa
spesies, menunjukkan perbedaan terakhir dari spesies ini. Banyak dari spesies
yang masih ada salam dari kelompok-kelompok lain yang relatif muda.
Gugur Lauraceae kehilangan semua daun
mereka untuk bagian dari tahun tergantung pada variasi curah hujan . Hilangnya daun bertepatan dengan musim kemarau di daerah tropis, daerah subtropis dan kering. Dalam beriklim atau iklim kutub musim kemarau ini disebabkan oleh ketidakmampuan tanaman untuk menyerap
air yang tersedia dalam bentuk es.
Para Lauraceae biasanya pohon , tapi genus Cassytha adalah pendaki parasit herbal dengan setidaknya 17 sampai 20 spesies tanaman pendaki dari sebagian besar
Australia , tetapi dengan spesies yang berasal dari Afrika , selatan di Asia , utara Amerika Selatan , Amerika Tengah , selatan Florida , Jepang dan satu (Cassytha filiformis)
dari Hawaii . Genus ini secara universal diakui sebagai monofiletik dalam Lauraceae.
Posisi dalam Lauraceae didukung oleh morfologi bunga dan data molekuler. Ini
adalah fenomena evolusi yang berbeda dari pohon-pohon
cemara besar, yang menempati lain niche ekologis. Juga merupakan fenomena evolusi konvergen dengan memanjat spesies cusuta atau Laurel hutan habitat mendaki spesies lauroide ivy genus, disebarkan oleh burung-burung yang membantu untuk menjajah daerah
yang luas lagi.
Klasifikasi
Lauraceae selalu dianggap sebagai kelompok
purba dari tanaman berbunga . The APW (angiosperma Situs web Filogeni)
dianggap bagian dari kelompok maju Orde Laurales , menjadi keluarga yang paling maju dan kelompok saudara dari Hernandiaceae (bdk. AP-situs web ).
Klasifikasi dalam Lauraceae tetap belum
terpecahkan. Beberapa skema klasifikasi berdasarkan berbagai karakteristik
morfologi dan anatomi telah diusulkan, tetapi tidak sepenuhnya diterima (Jud
,2007).
klasifikasi suprageneric diusulkan oleh
(van der Werff dan Richter, 1996) saat otoritas. Namun, karena berbagai bukti
molekuler dan embriologis yang tidak setuju dengan pengelompokan, tidak
diterima sepenuhnya oleh komunitas ilmiah. Klasifikasi mereka didasarkan pada
kedua struktur perbungaan dan kayu dan anatomi kulit. Ini membagi Lauraceae
menjadi dua subfamilies, Cassythoideae dan Lauroideae. Cassythoideae ini
terdiri dari genus tunggal, Cassytha,
dan didefinisikan oleh, kebiasaan herba parasit tersebut. Lauroidaeae tersebut
kemudian dibagi menjadi tiga suku: Laureae,
Perseeae, dan Cryptocaryeae.
Para Cassythoideae subfamili tidak
sepenuhnya didukung. Dukungan datang dari urutan gen kloroplas matK [7] sementara penempatan dipertanyakan Cassytha
telah menyimpulkan dari analisis spacer intergenetic dari kloroplas dan genom
nuklir (Chanderbali, AS, van der Werff, H. dan R
enner, SS (2001).
Suku-suku Laureae dan Perseceae tidak
didukung oleh studi molekuler atau embriologi. Urutan gen kloroplas matk serta urutan kloroplas dan genom
nuklir menunjukkan hubungan erat antara dua suku. Bukti Embriologis tidak
mendukung pembagian yang jelas antara kedua suku baik. Genera seperti Caryodaphnopsis dan Aspidostemon bahwa karakteristik
embriologis berbagi dengan satu suku dan karakteristik kayu dan kulit kayu atau
karakteristik perbungaan dengan yang lain blur suku pembagian kelompok
tersebut. Semua bukti yang ada, kecuali morfologi perbungaan dan anatomi kayu
dan kulit kayu, gagal mendukung Laureae terpisah dan suku Perseeae.
Pengetahuan tentang semua individu yang
terdiri dari Lauraceae tidak lengkap. Pada 1991, sekitar 25-30% spesies
Lauraceae neotropical belum dijelaskan.Pada tahun 2001, studi embriologi hanya
selesai pada individu dari 26 genera menghasilkan tingkat 38,9% pengetahuan,
dalam hal embriologi, untuk keluarga ini. Selain itu, sejumlah besar variasi
dalam keluarga untuk setiap ciri khas potensi menimbulkan tantangan besar untuk
mengembangkan klasifikasi dapat diandalkan. Tidak mungkin untuk menggambarkan
bahkan satu genus atau suku oleh satu yang jelas karakter.Untuk alasan ini,
semua klasifikasi yang diusulkan mengandalkan seperangkat karakteristik mana
kombinasi menyajikan ciri yang paling sering diamati untuk grup (van der Werff dan JG Richter (1996).
3.
Family Ebenaceae
4.
Family Mirtaceae
5.
Family Bombacaceae
Ciri umum:
Berupa pohon yang dapat
tumbuh tinggi besar, mempunyai sisik dan rambut-rambut bitang, daun tunggal
atau majemuk menjari (palmatus), duduk tersebar dengan daun penumpu, bunga
kadang-kadang besar dengan warna menarik.
Contoh spesies:
Adansonia digitata.
Klasifikassi
Kingdom Plantae
Divisio Magnoliophyta
Classis Magnoliopsida
Order Malvales
Famili Bombaceae
Genus Adansonia
Species Adansonia
digitata
Habitat:
Pohon-pohon yang biasanya tumbuh sebagai individu
soliter, pohon raksasa ini dapat tumbuh di daerah panas, hutan kering, daerah
berbatu, hingga daerah dengan curah huan yang rendah.
Habitus:
Terna
atau pohon/perdu.
Batang:
baobab dapat tumbuh mencapai ketinggian 5 sampai
30 meter dan memiliki batang degan diameter 7 sampai 11 meter. Mereka menyimpan
air di dalam batang mereka, dengan kapasitas di atas 120.00 liter untuk
bertahan dalam kondisi lingkungan sekitar mereka.
Daun:
Daun
berseling, biasanya berbentuk tangan, berlekuk, dengan stipula kecil.
Bunga:
Bunga hermafrodit, aktinomorf; kelopak lima helai,
bergabung di pangkal, seringkali disertai dengan epicalyx; mahkota lima helai, terlepas; alat jantan dengan
banyak benang sari (stamen),
khas dengan tangkai sari (filamen) bergabung di tabung sari yang mengelilingi
putik, serbuk sari halus; bakal buah di atas dengan banyak daun buah
(pluricarpellate). Buah tipe kotak atau belah (schizocarp).
Buah:
Kandungan vitamin C dari buah Baobab disebutkan
sangat tinggi.
Bahkan hingga enam kali lebuh banyak dari yang
terkadung dalam jeruk.
Kegunaan:
- Buah baobab mengandung kalsium 50% lebih dari bayam, tinggi antioksidan, dan memiliki tiga kali vitamin C dari jeruk.
- Daunnya dapat dikonsumsi sebagai makanan, sementara buah yang dicampur susu atau air dapat digunakan sebagai minuman. Benihnya juga dapat diproduksi menjadi minyak goreng.
- Kayu berwarna putih biasanya digunakan sebagai digunaan untuk pembuatan kano, rakit, papan isolasi, piring kayu dan nampan, kotak mengapung untuk jaring ikan.
- Serat kayu berkualitas baik dan biasa digunakan sebagai tali, tali harness, tikar, jerat dan tali pancing, serat kain, senar alat musik , dan tali busur.
- Serbuk sari bunga baobab yang dicampur air bisa digunakan sebagai lem.
- Kayu menghasilkan tanin yang bisa digunakan sebagai zat pewarna
- Benih yang difermentasi menjadi bahan dasar pembuatan bir lokal.
- Kulit baobab yang direbus selama beberapa hari bisa menghasilkan racun yang digunakan untuk mengatasi hama semut
- Daun menghasilkan hyposensitive dan antihistamin yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit ginjal dan kandung kemih, asma, kelelahan, diare, gigitan serangga, dan cacingan.
6.
Family Arecaceae
Tumbuhan tumbuhan ini termasuk tumbuhan
monokotil.Daun dari kebanyakan anggotanya mempunyai daun pertulangan menyirip
atau menjari.bentuk helai daunnya ada yang berlekuk dan ada yang
majenuk.bunganya berkelipatan tiga,tetapi seringkali perhiasan bungabya
tereduksi atau tidak sama sekali.kemudian tumbuhan ini ada yangberubah satu dan
ada yang berumah dua.dinding buahnya bervariasi dari yang tidak bertautan
sampai yang bertautan dalamsatu kesatuan,biji banyak mengandung minyak sebagai
hasil pnyimpanan cadangan makanan dari endosperm.
Arecidae
terdiri dari beberapa ordo yaitu:
A. Arecales
Ordo ini sering di sebut sebagai
principles.anggotanya hanya satu family yaitu Arecaceae atau palmae
Arecaceae (palmae)
Tumbuhan ini memiliki ciri – cirri
sebagai berikut :
a) Family ini memiliki anggota pohon tertinngi
dengan Batang berpenampang silindris dengan buku- buku yang pendek.yang
panjangnya dapat mencapai 6 meter
b) Bunganya majemuk berupa malar atau
bulir yang bercabang – cabang yang disebut spadix
c) Benang sari biasanya 6 dalam 2 lingkaran
d) Mempunyai daun terbesar
e) Bakal buah diatas,biasanya dalam 1-3 ruang
mempunyai satu bakal biji
Tumbuhan ini memiliki manfaat sebagai bahan
makanan,minyak, serat,bangunan,dan tanaman hias,perabot rumah tangga,tanamn
hias dan lain-
lain
Purseglove (1978) membagi family
Arecaceae kedalam delapan subfamily yaitu :
a.
Phoenicoideae
b.
Caryotoideae
c.
Coryphoideae
d. Borassoideae
e. Lepidocaryoideae
f. Cocoideae
g. Arecoideae
h. Nypoideae
Salah contoh famili areceae Palem putrid (Veitchia merilii)
Klasifikasi
Kingdom Plantae
Division Magnoliophyta
Clasis Liliopsida
Order
Arecales
Famili Areceae
Genus
Veitchia
Species Veitchia
merilii
Habitat:
Palem putri ini tumbuh pada daerah tropis dan
subtropis, di dataran rendah dan tinggi, di pegunungan dan di pantai, di tanah
yang subur dan gersang.
Sering berada di tepi tepi jalan.Sekilas bentuknya
seperti palem raja, daun yang lebih lebar dan warna lebih hijau.Tanaman berasal
dari Madagaskar, banyak dimanfaatkan sebagai penghias pinggir jalan atau
tanaman pot.
Daun majemuk, dengan pertulangan helai daunnya
lurus.Bunga majemuk.Perakaran serabut.
Habitus:
Terna
atau pohon/perdu.
Batang:
Jarang bercabang dan
tumbuh tegak ke atas. Beberapa anggotanya setengah merambat atau memanjat.
Akar:
Tumbuh dari pangkal batang,
berbentuk silinder, kurang bercabang tetapi biasanya tumbuh banyak dan masif
(padat). Akar palem biasanya menghunjam dalam ke tanah, sehingga mampu menopang
batang yang tumbuh menjulang tinggi (hingga 20m atau bahkan lebih).
Daun:
majemuk dan tersusun
menyirip tunggal yang khas dan menjadi tanda pengenal yang paling mudah. Pada
beberapa kelompok ditumbuhi duri.Tangkai daun dilengkapi pelepah daun yang membungkus batang.
tersusun dalam karangan
yang bila masih muda terlindung oleh seludang bunga. Karangan bunga palem ini
disebut mayang. Tangkai mayang ini bila dilukai akan mengeluarkan cairan
manis yang disebut nira. Dalam karangan bunga ini terdapat bunga betina
dan atau bunga jantan.Jika keduanya ditemukan bunga betina terletak di bagian
lebih pangkal.
Buah:
memiliki kulit luar yang
relatif tebal, yang menutupi bagian dalam (mesokarpium) yang berair atau
berserat. Biji dilindungi oleh lapisan
buah bagian dalam (endokarpium) yang keras dan berkayu.Pada kelapa, lapisan ini
disebut sebagai batok.Serat buah dikenal juga sebagai sabut.Di
dalam batok terdapat biji yang ketika buah masih muda relatif cair dan
berangsur-angsur membentuk endapan yang semakin lama mengeras.Endapan ini
biasanya mengandung banyak lemak dan protein.Beberapa jenis masih menyisakan cairan di
dalamnya.Cairan ini dapat diminum sebagai minuman penyegar (seperti pada kelapa
dan siwalan).
7.
Family Rubiaceae
Rubiaceae
adalah salah satu suku anggota tumbuhan
berbunga. Menurut Sistem klasifikasi APG II suku ini termasuk dalam bangsaGentianales.Ke dalamnya termasuk sejumlah tumbuhan penghasil alkaloid penting seperti kafeina (dalam kopi yang dihasilkan dari beberapa jenis Coffea) dan kinina (dari kulit batang Cinchona). Anggota penting lainnya adalah gambir (Uncaria; tanaman aromatik), soka (Ixora; tanaman
hias), dan mengkudu (Morinda; tanaman obat).
Sistem klasifikasi APG II memasukkan beberapa suku kecil (seperti Dialypetalanthaceae, Henriqueziaceae, Naucleaceae, dan Theligonaceae) ke dalam Rubiaceae sehingga sekarang menjadi salah satu suku
dengan anggota besar: sekitar 650 genera dan lebih dari 13.000 spesies.
Salah satu species dari famili ini adalah
mengkudu (Morinda citrifolia) yang ada di daerah kebun
raya purwodadi
Pohon
Pohon mengkudu tidak begitu besar,
tingginya antara 4-6 m. batang bengkok-bengkok, berdahan kaku, kasar, dan
memiliki akar tunggang yang tertancap dalam. Kulit batang cokelat keabu-abuan
atau cokelat kekuning-kuniangan, berbelah dangkal, tidak berbulu,anak cabangnya
bersegai empat. Tajuknya suklalu hijau sepanjang tahun.Kayu mengkudu mudah
sekali dibelah setelah dikeringkan.Bisa digunakan untuk penopang tanaman lada.
Daun
Berdaun tebal mengkilap.Daun mengkudu
terletak berhadap-hadapan.Ukuran daun besar-besar, tebal, dan tunggal.Bentuknya
jorong-lanset, berukuran 15-50 x 5-17 cm. tepi daun rata, ujung lancip
pendek.Pangkal daun berbentuk pasak.Urat daun menyirip.Warna hiaju mengkilap,
tidak berbulu. Pangkal daun pendek, berukuran 0,5-2,5 cm. ukuran daun penumpu
bervariasi, berbentuk segi tiga lebar. Daun mengkudu dapat dimakan sebagai
sayuran.Nilai gizi tinggi karena banyak mengandung vitamin A.
Bunga
Perbungaan mengkudu bertipe bonggol bulat,
bergagang 1-4 cm. Bunga tumbuh di ketiak daun penumpu yang berhadapan dengan
daun yang tumbuh normal.Bunganya berkelamin dua. Mahkota bunga putih, berbentuk
corong, panjangnya bisa mencapai 1,5 cm. Benang sari tertancap di mulut
mahkota. Kepala putik berputing dua.Bunga itu mekar dari kelopak berbentuk
seperti tandan.Bunganya putih, harum.
Buah
Kelopak bunga tumbuh menjadi buah bulat
lonjong sebesar telur ayam bahkan ada yang berdiameter 7,5-10 cm. Permukaan
buah seperti terbagi dalam sel-sel poligonal (segi banyak) yang
berbintik-bintik dan berkutil. Mula-mula buah berwarna hijau, menjelang masak
menjadi putih kekuningan.Setelah matang, warnanya putih transparan dan
lunak.Daging buah tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramida, berwarna
cokelat merah.Setelah lunak, daging buah mengkudu banyak mengandung air yang
aromanya seperti keju busuk.Bau itu timbul karena pencampuran antara asam
kaprik dan asam kaproat (senyawa lipid atau lemak yang gugusan molekulnya mudah
menguap, menjadi bersifat seperti minyak atsiri) yang berbau tengik dan asam
kaprilat yang rasanya tidak enak.Diduga kedua senyawa ini bersifat aktif
sebagai antibiotik.
Kandungan mengkudu
- Zat nutrisi: secara keseluruhan mengkudu merupakan buah makanan bergizi lengkap. Zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh, seperti protein, viamin, dan mineral penting, tersedia dalm jumlah cukup pada buah dan daun mengkudu. Selenium, salah satu mineral yang terdapat pada mengkudu merupakan antioksidan yang hebat. Berbagai jenis senyawa yang terkandung dalam mengkudu : xeronine, plant sterois,alizarin, lycine, sosium, caprylic acid, arginine, proxeronine, antra quinines, trace elemens, phenylalanine, magnesium, dll.
- Terpenoid. Zat ini membantu dalam proses sintesis organic dan pemulihan sel-sel tubuh.
- Zat anti bakteri.Zat-zat aktif yang terkandung dalam sari buah mengkudu itu dapat mematikan bakteri penyebab infeksi, seperti Pseudomonas aeruginosa, Protens morganii, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli. Zat anti bakteri itu juga dapat mengontrol bakteri pathogen (mematikan) seperti Salmonella montivideo, S .scotmuelleri, S . typhi, dan Shigella dusenteriae, S . flexnerii, S . pradysenteriae, serta Staphylococcus aureus.
- Scolopetin. Senyawa scolopetin sangat efektif sebagi unsur anti peradangan dan anti-alergi.
- Zat anti kanker. Zat-zat anti kanker yang terdapat pada mengkudu paling efektif melawan sel-sel abnormal.
- Xeronine dan Proxeronine. Salah satu alkaloid penting yang terdapt di dalam buah mengkudu adalah xeronine. Buah mengkudu hanya mengandung sedikit xeronine, tapi banyak mengandung bahan pembentuk (precursor) xeronine alias proxeronine dalam jumlah besar. Proxeronine adalah sejenis asam nukleat seperti koloid-koloid lainnya. Xeronine diserap sel-sel tubuh untuk mengaktifkan protein-protein yang tidak aktif, mengatur struktur dan bentuk sel yang aktif.
8.
Family Apocinaceae
Pohon perdu atau semak, sering memanjat,
sering bergetah daun tunggal,seluruhnya
berhadapan,tanpa daun penumpu, bertepi rata. Bunga dalam anak payung,mulai
rata, jarang berdiri sendiri, beraturan, berkelamin 2, kebanyakan berbilangan
5. Kelopak berbany akan berbagi 5, mahkota berdaun lekat dengan letak yang
berputar.Benang sari tertancap pada tabung mahkota,berseling dengan lekukan. Kepala
sari beruang 2, tonjolan dasar bunga tidak ada,sering terdiri dari sisik.
Balkal buah kebanyakan 2,terpisah, tetapi dihubungkan dengan tangkai putik
beruang 1, jarang berlekatan sampai 1 bakal buah. Tangkai putik 1,kepala putik
bergigi 2, buah batu atau buah bumbung 1 atau 2,kadang-kadang buah kotak yang
berkatup 2(steenis,1978).
Genus yang berasal dari Amerika, terdiri
dari kira-kira selusin spesies tanaman merambat, beberapa ditanam pada iklim
yang hangat dengan bunga bentuk terompet
warna-warni,kebanyakan warna kuning. Daun mengkilap,3-6 batang,memiliki getah
seperti susu jika dipotong. Sebagai tanaman hias paling popular di daerah
beriklim panas,ideal untuk pagar atau dirambatkan pada dinding(periplus,1999).
Perdu memanjat, berkayu, mengandung getah,
batangnya dapat mencapai panjang 3-6 m, berdiameter kecil. Daun tanaman
berbentuk lanset atau seperti mata lembing,panjangnya 10-15 cm, ujung
meruncing. Susunan daun berkarang dengan jumlah 4 daun.Terkadang daunnya agak
terpilin.Bunga berbentuk terompet tersusus dalam tandan dengan jumlah kuntum
8-10 kuntum, umumnya mempunyai bunga berwarna kuning,namun sekarang telah
banyak dijumpai berbunga merah, merah muda, dan variegate(heerdjandan
fajar,2005). Bunga yang berwarna kuning cerah berkelopak lima helai dengan
mahkota bunga mirip gelas anggur yang berkaki. Sewaktu masih kuncup, bunga
berwarna kecoklatan muncul bergerombol di ujung-ujung batangnya (Emir dkk,
2006). Benang sari bertancap dalam leher, tangkai benang sari sangat
pendek.Tonjolan dasar bunga berbentuk cincin, berlekuk 5.Bakal buah rata,
beruang 1, papan biji 2, melekat di dinding.Bakal biji banyak, kepala sari
tebal,cylindris, disebelah bawah dengan selaput yang mengarah kebawah, pada
ujung bertaju 2 pendek,runcing. Buah kotak berkatup 2, berbentuk telur, pipih,
berduri temple, panjang 3,5 cm biji pipih lebar, serupa selaput (steenis,1978).
9.
Family Sterculiaceae
Kingdom Plantae
(Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)
Super DivisiSpermatophyta (Menghasilkanbiji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhanberbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
Sub KelasDilleniidae
Ordo Malvales
Famili Sterculiaceae
Genus Theobroma
SpesiesTheobroma cacao L. (www.plantamor.com).
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)
Super DivisiSpermatophyta (Menghasilkanbiji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhanberbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
Sub KelasDilleniidae
Ordo Malvales
Famili Sterculiaceae
Genus Theobroma
SpesiesTheobroma cacao L. (www.plantamor.com).
Morfologi
a) Pohon
Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial)
berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10m.Meskipun demikian, dalam
pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5m tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas.Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang
produktif.
b)Bunga
bunga kakao, sebagaimana anggota Sterculiaceae lainnya, tumbuh langsung dari batang (cauliflorous). Bunga sempurna berukuran kecil (diameter
maksimum 3cm), tunggal, namun nampak terangkai karena sering sejumlah bunga
muncul dari satu titik tunas.
Bunga kakao tumbuh dari batang. Penyerbukan
bunga dilakukan oleh serangga (terutama alat kecil (midge) Forcipomyia,
semut bersayap, afid, dan beberap alebah Trigona) yang biasanya
terjadi pada malam hari1.Bunga siap diserbuki dalam jangka waktu beberapa hari.
Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk
silang dan memiliki system inkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan).Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan
sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi.
c)Buah
Buah tumbuh dari bunga yang
diserbuki.Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya, dan berbentuk bulat .Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji.Warna buah berubah-ubah.Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu.Apabila
masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning.
d)Biji
Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah, di bagian dalam.Biji dilindungi oleh
salut biji (aril)
lunak berwarna putih. Dalam istilah pertanian disebutpulp. Endospermia biji mengandung lemak dengan kadar
yang cukup tinggi. Dalam pengolahan pasca panen, pulp difermentasi selama tiga
hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar
matahari.
10.
Family Fabaceae
Pada pengamatan yang
praktikan lakukan di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan, ada beberapa anggota
Familia Fabaceae yang ada di kebun Purwodadi, seperti Kapri ( Pisum sativum L ), kembang merak ( Caesalpinia pulcherrima ), dan secang ( Caesalpinea seppan L )
Suku polong-polongan atau Fabaceae
merupakan salah satu suku tumbuhan dikotil yang terpenting dan terbesar. Banyak tumbuhan budidaya penting
termasuk dalam suku ini, dengan bermacam-macam kegunaan: biji, buah (polong), bunga, kulit kayu, batang, daun, umbi, hingga akarnya digunakan manusia. Bahan makanan, minuman, bumbu masak, zat pewarna, pupuk hijau, pakan ternak, bahan
pengobatan, hingga racun dihasilkan oleh anggota-anggotanya. Semua tumbuhan anggota suku
ini memiliki satu kesamaan yang jelas: buahnya berupa polong.
Fabaceae pernah dikenal dengan nama Leguminosae
serta Papilionaceae. Nama yang terakhir ini kurang tepat, dan sekarang dipakai
sebagai nama salah satu subsukunya. Dalam dunia pertanian tumbuhan anggota suku ini seringkali disebut sebagai tanaman legum (legume).
Anggota suku ini juga dikenal karena
kemampuannya mengikat (fiksasi) nitrogen langsung dari udara (tidak melalui cairan tanah) karena bersimbiosis dengan bakteri tertentu pada akar atau batangnya.Jaringan yang mengandung bakteri
simbiotik ini biasanya menggelembung dan membentuk bintil-bintil.Setiap jenis
biasanya bersimbiosis pula dengan jenis bakteri yang khas pula.
Ciri-ciri Family Fabaceae
1. Buah tipe polong
4. Pada umumnya berdaun majemuk berpasangan.
5. Perbungaan tunggal pada subsuku Faboideae serta majemuk pada
Caesalpinioideae dan Mimosoideae.
Pembagian Family Fabaceae
Suku besar ini terbagi menjadi 3 subsuku, yaitu
Faboideae (atau Papilionoideae, tumbuhan berbunga kupu-kupu), Caesalpinioideae,
dan Mimosoideae.
a. Faboideae
Faboideae dapat dikatakan sebagai kelompok kacang-kacangan atau polong-polongan. Bunganya bertipe kupu-kupu, zigomorf, khas dengan mahkota
bunga yang tidak sama bentuknya. Mahkota
termodifikasi menjadi tiga bagian: bendera, sayap (alae), dan lunas (carina).
Bagian lunas melindungi organ seksual benang
sari dan putik.Karena terlindungi inilah tumbuhan kacang-kacangan biasanya
merupakan tumbuhan
berpenyerbukan sendiri.Bunga biasanya
tunggal dengan polong biasanya berbentuk silinder.
Contoh :Kacang tanah
(Arachis hypogaea)
b. Caesalpinioideae
bsuku ini dicirikan dari bunganya yang tersusun
majemuk membentuk seperti piramida. Setiap bunga memiliki benang sari dan putik
yang relatif panjang.Bunganya tidak bertipe kupu-kupu.
Contoh :
Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima)
c. Mimosoideae
Subsuku ini dapat dikatakan sebagai kelompok
petai-petaian.Cirinya yang paling jelas adalah bunganya tersusun majemuk di
atas suatu dasar bunga (bongkol) bersama berbentuk bulatan.Akibatnya, bunga
tampak seperti bola berambut.
Contoh :
Jengkol (Archidendronpauciflorum)
Contoh-contoh spesies family fabaceae di
Kebun Raya Purwodadi
Caesalpinia pulcherrima (
Kembang Merak )

Caesalpinia
pulcherrima
Klasifikasi
Kingdom Plantae
Divisi Magnoliophyta
Kelas Magnoliopsida
Ordo Fabales
Famili Fabaceae
Sub famili Caesalpinioideae
Genus Caesalpinia
Spesies Caesalpiniapulcherrima
Divisi Magnoliophyta
Kelas Magnoliopsida
Ordo Fabales
Famili Fabaceae
Sub famili Caesalpinioideae
Genus Caesalpinia
Spesies Caesalpiniapulcherrima
( Plantamor.com)
Deskripsi
Kembang merak adalah salah satu tanaman hias
populer dari suku polong-polongan (Fabaceae).Biasanya
ditanam di pekarangan, kadang-kadang bergerombol, dengan bunga berwarna merah
kekuningan yang cerah.Habitusnya berupa perdu yang bisa mencapai tiga meter.
11.
Family Dilleniaceae
Dillenia adalah genus dari sekitar 100 jenis tanaman berbunga
dalam keluarga Dilleniaceae , asli daerah
tropis dan subtropis selatan di Asia , Australasia , dan Samudera Hindia
pulau.
Genus ini dinamai ahli botani Jerman Johann Jacob Dillenius , dan terdiri dari cemara atau
semi-evergreen pohon dan semak . Para daun yang sederhana, spiral diatur ini bunga adalah soliter, atau di terminal racemes , dengan lima
sepal dan lima kelopak bunga, benang sari banyak dan sekelompok 5-20 karpel,
mereka terlihat serupa dalam tampilannya Magnolia, bunga
Ficus benjaminaL. ( Beringin)
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Dilleniidae
Ordo Urticales
Famili Moraceae (suku nangka-nangkaan)
Genus Ficus
Spesies Ficus benjamina L.
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Dilleniidae
Ordo Urticales
Famili Moraceae (suku nangka-nangkaan)
Genus Ficus
Spesies Ficus benjamina L.
(
Plantamor.com)
Deskripsi
Pohon besar, diameter batang bisa mencapai 2 m lebih, tinggi bisa
mencapai 25 m. Batang tegak bulat, permukaan kasar, coklat kehitaman, keluar
akar menggantung dari batang. Daun tunggal, lonjong, hijau, panjang 3 - 6 cm,
tepi rata, letak bersilang berhadapan.Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun,
kelopak bentuk corong, kuning kehijauan.Buah buni, bulat kecil, panjang 0.5 - 1
cm Perbanyaan dengan biji.
12.
Family Moraceae
Kingdom: plantae
Divisi :Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Urticales
Suku : Moraceae
Marga : Ficus
Jenis : Ficus benjamina L.
Deskripsi:
Pohon besar, tinggi 20-25 m, berakar
tunggang. Batang tegak, bulat, permukaan kasar, coklat kehitaman, percabangan
simpodial, pada batang keluar akar gantung (akar udara). Daun tunggal,
bertangkai pendek, letak bersilang berhadapan, bentuknya lonjong, tepi rata,
ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3-6 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan
menyirip, hijau. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong,
mahkota bulat, halus, kuning kehijauan. Buah buni, bulat, panjang, 0,5-1 cm,
masih muda hijau, setelah tua merah. Biji bulat, keras, putih.
Khasiat:
Akar udara mengandung asam amino, fenol, gula. Penyakit yang dapat diobati: pilek, demam tinggi, radang amandel (tonsilitis), nyeri rematik sendi, luka terpukul (memar), influenza, radang saluran napas (bronkitis), batu krejan (pertusis), malaria, radang usus akut (acute enteritis), disentri, dan kejang panas pada anak.
Akar udara mengandung asam amino, fenol, gula. Penyakit yang dapat diobati: pilek, demam tinggi, radang amandel (tonsilitis), nyeri rematik sendi, luka terpukul (memar), influenza, radang saluran napas (bronkitis), batu krejan (pertusis), malaria, radang usus akut (acute enteritis), disentri, dan kejang panas pada anak.
13.
Family Bignoniaceae
Kingdom :Plantae
Divisi:
Magnoliophyta
Kelas:
Magnoliopsida
Ordo:
Scrophulariales
Famili: Bignoniaceae
Genus: Spathodea
Spesies: Spathodea campanulata (www.plantamor.com)
Deskripsi :
Spathodea campanulata adalah tumbuhan menengah, mencapai ketinggian 10-35 m, dengan
mahkota, putaran berat padat, dedaunan gelap, kadang-kadang agak diratakan;
kulit muda pucat, abu-abu coklat dan halus tapi berubah abu-abu hitam, bersisik
dan retak vertical dan horizontal dengan usia. Setiap daun terdiri dari 5-7
pasang selebaran berlawanan dan satu terminal. Selebaran yang lonjong-bulat panjang,
sekitar 1 cm dan 0,5 cm luas, seluruh, luas acuminate, tidak merata di hijau,
dasar hijau gelap di atas dan cahaya pada bagian bawah, ada pembengkakan kelenjar
di dasar lamina (biasanya pasangan), sedangkan pelepah dan saraf berwarna kuning,
mengangkat dan sangat sedikit puber; venation adalah retikular, sedangkan tangkai
daun, pendek tebal sekitar 0,7 cm, ada lentisel mencolok pada rachis; rachis
dasar bengkak. Bunga besar, merah, hermafrodit, oranye di dalamnya; kelopak hijau,
sekitar 1 cm dan split pada sisi posterior, berusuk dan tomentellous; kelopak
5, masing-masing sekitar 1,5 cm; benang sari 4 dengan filament oranye; gaya ekstrusi
dengan 2-berbibir stigma; kuncup bunga melengkung dan mengandung getah merah.
Berbagai bunga kuning telah dilaporkan. Buah terhormat, coklat gelap, berbentuk
cerutu, berkayu, 15-25 cm dan split pada tanah menjadi 2 katup berbentuk perahu,
melepaskan banyak flat-biji bersayap; 1-4 polong biasanya berkembang dari 1
tandan bunga; biji tipis , datar dan dikelilingi oleh sayap filmy. Nama generic
berasal dari kata Yunani 'spathe' (pisau), dari bentuk mahkota. Nama spesifik berarti
berkaitan dengan suatu Campanula, nama diciptakan pada 1542 oleh Fuchs untuk jenis
mahkota bulat dengan dasar yang luas dan tabung secara bertahap diperluas sesuai
dengan busur suara lonceng gereja.
Habitat:
S. campanulata tumbuh secara alami di Afrika di hutan-hutan sekunder di zona hutan tinggi dan hutan gugur, transisi, dan savana. Ini berkolonisasi situs bahkan sangat terkikis, meskipun bentuk dan tingkat pertumbuhan cukup sulit.
S. campanulata tumbuh secara alami di Afrika di hutan-hutan sekunder di zona hutan tinggi dan hutan gugur, transisi, dan savana. Ini berkolonisasi situs bahkan sangat terkikis, meskipun bentuk dan tingkat pertumbuhan cukup sulit.
Reproduksi:
Besar, jeruk merah, berbentuk corong bunga hermafrodit dihasilkan
dari karat berwarna, tunas berbulu dalam tandan di ujung cabang. Bunga-bunga terbuka
dari luar dari sekelompok menuju pusat. Campanulata mungkin mulai berbunga
semuda 3 atau 4 tahun, dengan pohon-pohon tumbuh terbuka berbunga ketika mereka
sekitar 5 m, dalam beberapa lingkungan yang sulit, berbunga ditunda sampai pohon
jauh lebih besar. Pembungaan membentang selama periode bulan 5 atau 6, dan polong
matang dan mulai melepaskan benih mereka sekitar 5 bulan setelah berbunga. Pohon
mereproduksi agresif, sehingga sering gangguan di padang rumput dan lading dengan
tanaman tahunan. Benih bersayap yang tersebar angin.
Manfaat:
1.
Makanan: Benih-benihtersebutdimakandandigunakan di banyakbagianAfrika.
2. Kayu: Di habitat aslinya, cahaya
lembut kayu putih kecoklatan digunakan untuk ukiran dan membuat drum.
3. Poison: Bagian tengah keras buah
digunakan untuk membunuh binatang.
4. Pengobatan: kulit ini memiliki sifat
pencahar dan antiseptik, dan biji, bunga dan akar digunakan sebagai obat. Kulit
dikunyah dan disemprotkan ke pipi bengkak. Kulit kayu juga dapat direbus dalam
air yang digunakan untuk mandi bayi yang baru lahir untuk menyembuhkan ruam tubuh.
14.
Family Caesalpinaceae
Habitus pohon atau perdu,jarang
herba,kadang-kadang memanjat,kadang-kadang berduri,asam amino nonprotein sering
terdapat pada biji dan bagian lain,hanya kadang-kadang bersimbiose dengan
bakteri pengikat nitrogen,bertanin,kadang-kadang sianogenik sering menghasilkan
alkaloid terutama dari kelompok piridin.
Daun tersebar umumnya berupa daun majemuk
pinatus,jarang bipinatus,inifoliolatus atau daun tunggal ada pulvinnus di
pangkal petiolus komunis,petiolus atau petiolous ada stipula.bunga dalam
rasemus umumnya biseksual,zigomorf sepal 5 lepas petal paling atas terletak
lebih ke dalam dan lebih kecil dari yang lain,stamen umumnya 10,lepas
kkadang-kadang ada staminodia,nektar kadang-kadang berbentuk cincin ada dasar
bunga sekeliling ovarium,ginasium 1 karpel,ovula 2-banyak pada plasenta marginal.buah
legum,kadang-kadang menyerupai dupa atau samara,biji dengan funiulus
memanjang,kadang-kadang beralirus,endosperma umumnya absen.
Suku ini umumnya terdiri dari sekitar 150
margadengan 2200 jenis,tersebar di daerah tropis dan subtropis,sedikit di temperata(Undang,1991)
Deskripsi spesies family Caesalpineaceae di kebun raya Purwodadi
2. Caesalpinia pulcherima(Bunga Merak)
Tanda-tanda dan ciri morfolologi Penting dari Tumbuhan Caesalpinia pulcherima (Bunga Merak)
Habitus Berupa Tumbuhan berkayu dengan habitus berupa
pohon,dantinggimencapai2-4m.Akar Sistem perakaran pada Caesalpinia pulcherima
adalah sistem akar tunggang, akar berbentuk bulat,dan berwarna coklat.
Batang Batang dari Caesalpinia
pulcherima bercabang arah pertumbuhanya tegak lurus dengan pola percabangan
menggarpu (simpodial) bentuk batang bulat (teres) dan pada kulit batang
terdapat duri.
Daun dari Caesalpinia pulcherima merupakan daun majemuk menyirip genap
(paripinatus), anak daun bersirip 4-12 pasang, bentuk helaian daun bulat telur
(ovatus), ujung dan pangkal membulat, tepi daun rata (integer), panjang helaian
daun 1-3 cm, lebar 5-15 mm, pertulangan menyirip (penninervis) terdapat sendi
daun (pulvinus) dan terdapat daun penumpu (stipula).
Bunga Merupakan bunga majemuk dengan karangan bunga berbentuk tandan
(racemus) dan termasuk kedalam bunga bisexualis.Perhiasan bunga berupa corolla
dan calyx.Calyx terdiri dari 5 sepal yang lepas. Corolla berbentuk kupu-kupu
terdiri dari 5 petal yang saling lepas, 1 petal yang besar disebut bendera atau
vexilum, 2 sayap atau ala, 2 tunas atau carina satu sama lain terpisah warnanya
putih. Benang sari atau stamen jumlahnya 10, 9 bersatu dan 1 buah lepas
(diadelpus) semuanya sama panjang. Putik atau pistilum berjumlah 1 dengan letak
ovarium superum terdiri dari 1 loculus dan 1 carpelum, jumlah ovulum bisa 1
sampai banyak ovulum dengan letak ovulum parietalis.Biji biji dari Caesalpinia
pulcherima berkeping dua.Buah Termasuk kedalam buah Polong (legumen), panjang
6-12 cm, pipih,dan berwarna hitam (http://ajo-taksonomi.blogspot.com/2009/12/ -
klasifikasi tumbuhan.html).
Klasifikasi
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Rosidae
Ordo Fabales
Famili Caesalpiniaceae
Genus Caesalpinia
Spesies Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz (www.Plantamore.com)
Kingdom Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas Rosidae
Ordo Fabales
Famili Caesalpiniaceae
Genus Caesalpinia
Spesies Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz (www.Plantamore.com)
15.
Family Poaceae
Ciri-ciri dari family ini adalah
herba,umumnya parenial dengan rhizoma yang jarang annual,kadang-kadang
berkayu(seperti pada bambu) umumnya mengandung dehidroquinat hidroksilase bebas
di samping umumnya untuk ikatan separti angiosperma,sangat sering mengakumilasi
asam ferulat sering membentuk fruktosan(tipe flein),kadang-kadang membentuk
alkaloid isoquinolin,indool dan pirrolizidin,jarang bertanin,dinding sel
terutama epidermis banyak mengandung silika.
Daun tersusun 2 baris atau
spiral,berpelepah,lamina linearis dengan urat daun sejajar,sering mempunyai
aurikel pada dasar dan sering mempunyai ligula,sering ligula tereduksi menjadi
rambut-rambut.
Perbugaan dengan satuan dasar disebut spikula
yang tersusun dalam spika,resemus atau panikulasetiap panikula mempunyai
sepasang brakteayang di sebut gluma,1 spikula membawa 1 atau lebih
floret(bunga) yang tersusun pada sumbunya(rakila).Floret uniseksual atau
biseksual,setiap floret mempunyai brakte lemma(sebelah luar) dan palea (sebelah
dalam),periantum tereduksi menjadi 2-3 lodikula berupa sisik di atas
palea,endosperm beramilum,protein dan kadang-kadangb juga minyak( Undang,1991)
Species paoceae di kebun raya Purwodadi
1. Bambusa vulgaris

Klasifikasi
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Bambusa
Spesies: Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. (www.plantamor.com).
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
Sub Kelas: Commelinidae
Ordo: Poales
Famili: Poaceae (suku rumput-rumputan)
Genus: Bambusa
Spesies: Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. (www.plantamor.com).
Tanaman bambu umumnya tumbuh berumpun; batang
berkayu, buluh beruas, berbuku di tengahnya berongga, kulit luar berwarna
kuning, hijau, hijau kebiruan, hijau kecoklatan atau ungu. Batang muda selalu
tertutup seludang yang sangat rapat, berbulu coklat, atau kehitaman, seludang
akan lepas seiring dengan pertumbuhan panjang batang. Seludang pada batang tua
pada umumnya lepas; daunnya berbentuk bulat memanjang, pita atau lanset, ujung
runcing atau meruncing, tulang daun sejajar, tangkai semu pendek, pelepah daun
memeluk batang, kadang-kadang berbulu.Bunga berbentuk majemuk bulir, tandan
atau malai dengan siklus pembungaan yang bervariasi.Beberapa jenis bambu
berbunga setelah 20-30 tahun, bahkan sampai 44 tahun. Benang sari pada umumnya
berjumlah 6 (Gilliland et
al., 1971; Widjaja, 1997).
Lokasi penanamanBambusa vulgaris9 Bambusa vulgaris Schradex Wendl.XII.J.I. 1-1a, 7-7a
Ditanam di dalam kebun raya Purwodadi.
pesies : Bambusa vulgaris Schrader ex Wendland Nama Inggris :
Common bamboo Nama Indonesia : Bambu kuning (berumpun kuning),
bambu ampel (berumpun hijau) Nama Lokal : Domar (Ambon) Deskripsi :
Rumpun tegak, tinggi 10 - 20 m, diameter 4 - 10 cm, permukaan batang hijau
mengkilap, kuning, atau kuning bergaris-garis hijau; internodus berjarak 20-45
cm, permukaan batang berambut hitam dan dilapisi lilin putih ketika muda dan
berangsur-angsur menjadi halus tak berambut dan mengkilap; nodus tenggelam.
Cabang-cabang muncul dari nodus tengah dan atas dari rumpun. Selubung rumpun
berbentuk segitiga lebar; daun lurus, berbentuk segitiga lebar (broadly
triangular), panjang 4-5 cm dan lebar 5-6 cm, ujung daun meruncing, berambut
pada kedua permukaan daun dan di tepi-tepi daun; panjang ligula 3 mm,
bergerigi. Distribusi/Penyebaran :
Bambusa vulgaris merupakan tumbuhan yang berasal dari Dunia Lama, khususnya
dari kawasan Asia tropis. Jenis ini diyakini sebagai bambu yang paling banyak
dibudidayakan di seluruh penjuru kawasan tropis dan sub-tropis.Di kawasan Asia
Tenggara, bambu jenis ini banyak dibudidayakan, sering dijumpai di desa- desa,
di pinggir-pinggir sungai, dan sebagai tanaman ornamnetal di perkotaan.
Habitat : Bambusa vulgaris dapat dijumpai tumbuh di seluruh kawasan
pantropikal, pada ketinggian di atas permukaan laut hingga 1200 m dpl. Bambusa
ini tumbuh baik di daerah dataran rendah dengan kondisi kelembapan udara dan
tipe tanah yang luas. Di Asia Tenggara, tumbuhan berumpun hijau ini telah
tumbuh luas secara alami di tepi-tepi sungai, di pinggir jalan, dan di
tanah-tanah lapang. Di Semenanjung Malaysia, Bambusa vulgaris tetap dapat
tumbuh baik di lahan-lahan terdegradasi yang mengandung timah.Perbanyakan :
Bambusa vulgaris dapat diperbanyak dengan menggunakan rhizoma, stek rumpun atau
cabang, cangkok dan kultur jaringan. Stek rhizoma yang diambil dari rumpun
berusia 1 - 2 tahun selalu memberikan hasil bagus.Cara termudah dan sering
dilakukan adalah stek rumpun atau cabang. Umumnya, rumpun yang akan di stek
adalah rumpun yang tidak terlalu muda atau tidak terlalu tua. Penanaman pada
akhir periode musim hujan dianjurkan, dengan jarak penanaman 6-12 m x 6-12 m. Manfaat
tumbuhan : Seperti bambu lainnya, Bambusa vulgaris dapat digunakan
sebagai bahan bangunan, pagar, jembatan, alat angkutan (rakit), pipa saluran
air dan berbagai peralatan rumah tangga. Selain itu, tunas mudanya (rebung)
dapat dimakan serta dapat digunakan sebagai obat liver atau hepatitis. Rumpun
bambu mempunyai potensi dalam melestarikan lingkungan; pertumbuhannya cepat dan
akarnya mampu mengawetkan tanah dan mengurangi erosi.Sinonim :
Bambusa thouarsii Kunth (1822), Bambusa surinamensis Ruprecht (1839), Leleba
vulgaris (Schrader ex Wendland) Nakai (1933). Sumber Prosea : 7:
Bamboos p.74-78 (author(s): S. Dransfield & E. A. Widjaja) Kategori :
Tumbuhan perintis/reklamas(tanaman.blogspot.com)
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan
hasil dari obvservasi di Kebun Raya Purwodadi dan paparan di atas dapat diambil
kesimpulan bahwa :
1. Herbarium adalah sampel tumbuhan yang dikeringkan.
Herbarium berguna di dalam pengenalan dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan.
Herbarium yang baik adalah yang memuat bagian-bagian tumbuhan yang
representatif, yaitu organ-organ yang penting untuk identifikasi.
Pada tumbuhan
tingkat rendah organ-organ tersebut adalah spora atau kumpulan-kumpulan spora
dan bagian-bagian tertentu yang spesifik. Sedangkan untuk tumbuhan tingkat
tinggi, bagian-bagian tersebut berupa bunga, buah, dan biji karena dasar
klasifikasi tumbuhan tersebut adalah struktur bunga.
2. Kebun Raya Purwodadi
adalah sebuah kebun penelitian besar yang terletak di Purwodadi, Pasuruan, Jawa
Timur, Indonesia. Luasnya mencapai 85 hektar dan memiliki sekitar 10.000 jenis
koleksi pohon dan tumbuhan.
5.2. Saran
1. Dalam kuliah kerja lapangan (KKL) di Purwodadi akan lebih
baiknya diberi pembekalan dan pemahaman materi terlebih dahulu agar lebih
produktif dan efektif ketika pelaksanaan KKL
2. Setelah membaca dan memahami isi laporan ini, disarankan
kepada pembaca agar memiliki kesadaran akan pentingnya peranan pelestarian
tumbuhan dalam kehidupan kita, khususnya para pelajar yang memiliki pengalaman,
wawasan dan pengetahuan yang luas.
DAFTAR PUSTAKA
Adrak,
Adria Rifarin dan Sri Amintarti. 2007. Penuntun Praktikum Botani Tumbuhan
Tinggi. Banjarmasin: FKIP UNLAM
Dasuki,
undang ahmad. 1991. Sistematik Tumbuhan
Tinggi. Bandung : Institut Teknologi Bandung
Indriyanto,
2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara : Jakarta.
Iqbali.
2008. Bunga Kupu-kupu. http://iqbali.blogspot.com. Diakses 4 april 2012
Kusmana
& Istomo, 1995. Ekologi Hutan.
Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor : Bogor
Krpurwodadi.
http://Krpurwodadi.lipi.go.id
Richard
& Steven.
1988. Forest Ecosystem. Academic
Press. San Diego :
California.
Soerianegara,
I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas
Kehutanan Institut Pertanian Bogor : Bogor
Steenis,
van. 1987. Flora. Jakarta: PT Prajna
Paramita
Sulisetjono.
2008. Bahan Ajar Fungi. Malang : universitas islam negeri malang
Tjitrosoepomo,
Gembong. 1996. Morfologi Tumbuhan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Undang,
Dasuki. 1991. Sistematis Tumbuhan Tinggi. Bandung : ITB
Weidelt,
H. J. 1995. Silvikultur Hutan Alam Tropika
(Diterjemahkan oleh : Nunuk Supriyanto). Fakultas Kehutanan UGM : Yogyakarta.
Whitmore, T. C. 1984. Tropical Rain Forest of The Far East
(Second Edition).
Oxford University Press :
Oxford.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar