Sabtu, 30 Juni 2012


BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Tumbuhan  merupakan penunjang kehidupan paling utama bagi manusia, Allah telah mencipatakannya dengan sangat sempurna. Fungsi utama tumbuhan adalah memproduksi oksigen yang kita hirup setiap saat. Jika  kita meneliti tentang kehidupan manusia dari sejarah perkembangannya, sejak dulu sampai saat ini telah berkembang menjadi milyaran umat manusia. Bahan pangan penunjang kehidupannya yang utama berasal dari tumbuh-tumbuhan, yang ternyata tumbuh-tumbuhanpun tak kalah pentingnya bagi kehidupan hewan mulai dari ujung akar sampai keujung daun. Ini berarti kehidupan dan perkembangan manusia dan hewan sangat tergantung pada tumbuh-tumbuhan. Hal ini Sesuai dengan firman Allah Q.S. Al An’am ayat 99 tentang kesempurnaan dan peran penting tumbuhan dalam kehidupan manusia:
وَهُوَ الَّذِي أَنزلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ انْظُرُوا إِلَى ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ إِنَّ فِي ذَلِكُمْ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (99)
Artinya: Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, kami keluarkan dari tanaman yang hijau itu bulir yang banyak dan dari mayang karma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai dan kebun-kebun anggur dan kami keluarkan pula zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak sempurna perhatikan buahnya diwaktu berbuah dan perhatikan pulalah kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman (Q.A . Al An’am : 99)
Mahasiswa Biologi memiliki tuntutan besar untuk dapat memahami tumbuhan sebagai konsekuensi atas bidang ilmunya dan juga sebagai rasa syukur terhadap fasilitas yang telah Allah berikan.  Kebun raya Purwodadi merupakan salah satu tempat konservasi tumbuhan tinggi yang ada di Indonesia.  Sebagai sarana konservasi tumbuhan maka di kebun raya ini memiliki bermacam-macam koleksi tumbuhan yang ditata sedemikian, sehingga membentuk tata ruang yang apik.  Selain sebagai sarana konservasi Kebun Raya Purwodadi juga menjadi wahana rekreasi yang edukatif bagi masyarakat sekitar. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini kami menjadikan kebun Raya Purwodadi sebagai salah satu alternatif tempat yang dapat membantu mahasiswa untuk dapat memahami tumbuhan di habitatnya dan melihat tumbuhan secara langsung di lapangan.

B.  Tujuan
1.      Mengetahui tata cara pembuatan, penyimpanan, dan pendataan koleksi herbarium di Kebun Raya.
2.      Mengetahui keanekaragaman tumbuhan tingkat tinggi di Kebun Raya Mengadakan pengamatan terhadap spesies untuk mengetahui ciri khusus/karakteristik dari masing-masing spesies.

C.  Manfaat
Adapun manfaat dari kunjungan mahasiswa di kebun raya purwodadi ,yaitu:
1.    Dengan adanya kunjungan ke KBR Purwodadi mahasiswa lebih jelas dalam memahami materi yang telah disampaikan saat kuliah.
2.    Mahasiswa dapat mengidentifikasi secara langsung pada specimen yang telah dijelaskan dalam literature.
3.    Mahasiswa dapat mengetahui lebih jelas tentang tumbuhan yang menjadi koleksi KBR purwodadi yang mungkin sudah jarang ditemukan di tempat umum.
4.    Mahasiswa dapat mengetahui secara langsung pembuatan herbarium kering dan koleksi juga bahan ynag digunakan saat mengherbarium tumbuhan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.  Struktur Vegetasi Hutan Tropika Basah
Indonesia merupakan Negara yang terletak di daerah khatulistiwa sehingga banyak hutan-hutannya yang merupakan hutan tropis basah.Hutan jenis ini memiliki tipe tumbuhan paling lebat dan paling rumit.Penyebabnya adalah iklim tropis yang basah, tanpa ada bulan kering, serta tingginya suhu.Karena itu, komunitas hutan menjadi sangat kompleks.
Penyebaran hutan tropis basah bukan hanya di Indonesia. Penyebarannya meliputi semenanjung Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika, Madagaskar, Australia bagian utara, Indonesia, dan Malaysia.Ciri-ciri bioma hutan basah antara lain :
1.   Curah hujan sangat tinggi, lebih dari 2.000 mm/tahun
2.   Pohon-pohon utama memiliki ketinggian antara 20 – 40 m.
3.   Cabang pohon berdaun lebat dan lebar serta selalu hijau sepanjang tahun
4.   Mendapat sinar matahari yang cukup, tetapi sinar matahari tersebut tidak mampu menembus dasar hutan.
5.   Mempunyai iklim mikro di lingkungan sekitar permukaan tanah/di bawah kanopi (daun pada pohon-pohon besar yang membentuk tudung)
Menurut Arifin Arif (2001), hutan tropis basah adalah hutan yang memperoleh curah hujan tinggi yang dikenal sebagai hutan pamah. Hutan ini tumbuh di tanah-tanah podsol dan latosol dengan draenase yang baik dan terletak cukup jauh dari pantai serta kaya akan jenis pohon yang bertajuk tinggi. Kawasan hutan ini dapat dijumpai di Sumatera dan Kalimantan. Di hutan ini banyak ditemukan jenis-jenis pohon meranti dan tengkawang (Shorea), keruing (Dipterocarpus), kapur (Drybalanops), meranti putih (Parashorea), dan kayu besi (Eusideroxylon zwageri ). Di Sulawesi terdapat jenis kayu hitam (Diospyros sp.) dan sebagian kecil di Jawa Tengah bagian barat dan Jawa Barat terdapat jenis pohon rasamala.
Tumbuhan utama penyusun hutan tropis basah di Indonesia terbagi atas tujuh kelompok, yaitu pohon-pohon hutan, terna dan semak, liana, epifit pencekik pohon, saprofita, dan parasit. Berikut ini penjabaran dari kelompok kelompok tumbuhan tersebut (Arif, 2001):

a. Pohon-pohon Hutan
Biasanya pohon ini disebut atap atau tajuk atau kanopi. Kanopi dibagi menjadi 3, yaitu :
1. Tingkat tertinggi (A), pohon yang tertinggi dan jarak sesamanya saling berjauhan
2. Tingkat ke dua (B), pohon dengan tinggi yang khas, menjulang antara 15-30 m.
3. Tingkat ke tiga (C), biasanya kecil dan langsing, dengan tinggi umunya 5-15 m.
Pohon-pohon hutan adalah tumbuhan dikotil (Magnoliophyta), palma yang tinggi, bamboo dan kadang-kadang paku tiang. Banyak pula pohon yang melakukan penggantian daun yang terjadi kapan saja setiap tahun, contohnya marga Hevea (kelompok karet).
b. Terna dan Semak
Ada bagian hutan yang tajuknya tidak begitu lebat.Di daerah ini cahaya dapat menembus lantai hutan, sehingga menyebabkan berkembangnya vegetasi tanah berwarna hijau.Contoh yang merupakan terna adalah paku-pakuan, paku lumut (Selaginella sp.), dan tumbuhan berkayu. Contoh dari tumbuhan semak yaitu tumbuhan berkayu yang agak tinggi, semak-semak pohon yang tingginya 2 – 5 meter, seperti pisang, jahe, dan beberapa jenis rumput.
c. Tumbuhan Pemanjat (Liana)
Tumbuhan pemanjat merupakan tumbuhan yang tetap hijau tetapi tidak mandiri karena bergantung pada penunjang dari luar.Tumbuhan yang memanjat atau membelit ini memberikan “hiasan” utama pada hutan.Jumlahnya banyak sehingga memberi ciri khas hutan tropika.Bentuk dan ukurannya sangat beragam.Mulai dari yang tipis sampai yang tebal.Ada yang tenggelam di balik dedaunan atau bergantungan membentuk simpul tali raksasa.Ada yang bercabang, ada pula yang tidak bercabang.Ada yang pendek, ada yang panjangnya sampai 200 meter memanjat satu pohon, turun ke tanah dan memanjat pohon berikutnya.Liana biasanya tumbuh di bagian pinggir hutan, misalnya di sepanjang tepi sungai, dan melimpah di tempat-tempat yang hutannya sudah mengalami gangguan. Liana yang besar-besar tergolong dalam dikotil, meskipun yang dominan adalah rotan (palma yang memanjat).
d. Epifit
Epifit adalah tumbuhan yang tumbuh melekat pada batang, cabang, daun-daun pohon, semak, dan liana.Secara umum epifit tidak mengganggu inang yang menunjangnya.Epifit memainkan peran yang penting dalam ekosistem sebagai habitat untuk hewan.Keanekaragamannya cukup besar meliputi tumbuhan berspora dan tumbuhan berbunga termasuk beberapa semak.Epifit membedakan hutan tropika basah dengan hutan subtropika. Epifit dapat dibedakan dalam tiga tipe utama, yaitu:
1. Epifit yang bersifat ekstrem xerofit, hidup pada bagian paling ujung cabang-cabang dan ranting-ranting pohon yang lebih besar.
2. Epifit matahari, biasanya bersifat xeromor, hidup di bagian tengah tajuk inangnya, contohnya Bilbergia sp., pohon-pohon lapisan C, atau pada batang liana yang lebih besar. Contohnya tumbuhan paku.
e. Pencekik Pohon
Tumbuhan ini awalnya adalah epifit, tetapi akarnya turun ke tanah, sehingga dapat hidup sendiri dan membunuh inangnya. Contohnya Ficus sp. (sejenis karet atau beringin).Biji pencekik pohon biasanya berkecambah di atas batang inang.
f.  Saprofit
Saprofit bersama parasit-parasit merupakan tumbuhan anggota heterotrof yang tidak berhijau daun.Saprofita mendapatkan zat haranya dari bahan organik yang mati.Mayoritas saprofit yang besar terdiri atas jamur.Saprofit lainnya, yaitu bakteri.
g. Parasit
Parasit terdiri atas dua kelompok, yaitu parasit akar dan hemiparasit (setengah parasit).Parasit akar tumbuh di atas tanah, sedangkan hemiparasit tumbuh sebagai benalu. Parasit akar jumlahnya sedikit, tetapi sangat menarik perhatian, contohnya tumbuhan Rafflesia manillana, parasit pada akar liana Cissus .Rafflesia didapati di hutan Kalimantan, Sumatra, dan Jawa.
Gambar 6.5 Rafflesia manillana, kerabat Rafflesia arnoldi
Hemiparasit jumlahnya banyak, semuanya tergolong ke dalam suku benalu (Loranthaceae).Jumlahnya melimpah, dan dapat dijumpai di seluruh wilayah hutan tropika basah.Contohnya benalu yang merupakan semak-semak berkayu, terdapat pada cabang dan ranting pohon yang lebih tinggi.
Gambar 6.6 Hemiparasit, benalu Viscum orientale yang akarnya merupakan alat pengisap tunggal (haustorium)
Hemiparasit, benalu Viscum orientale yang akarnya merupakan alat pengisap tunggal (haustorium).
Keragaman tumbuhan tropik basah ditambah pula dengan adanya tumbuhan yang hidup di hutan tropik musiman.Keistimewaan wilayah tropika, yaitu adanya wilayah-wilayah yang iklimnya sedikit ekstrem.Dengan demikian, vegetasi yang tumbuh memiliki karakter yang berbeda dengan tumbuhan di hutan basah.Daerah ekstrem itu adalah hutan musim, lahan hutan sabana dan lahan hutan berduri.

B.  Iklim Daerah Tropis
Secara geografis daerah tropis mencakup wilayah yang terletak di antara titik balik rasi bintang Cancer dan rasi bintang Capricornus, yaitu antara 23°27’ Lintang Utara dan 23°27’ Lintang Selatan. Meliputi wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara, Australia bagian Utara, sebagian besar wilayah Afrika, Kepulauan Pasifik, Amerika Tengah dan sebagian besar wilayah Amerika Selatan. Menurut Koeppen (1930) daerah tropis adalah wilayah yang terletak di antara garis isoterm 180 C bulan terdingin. Daerah tropis secara keseluruhan mencakup 30 % dari luas permukaan bumi. Hutan Tropis merupakan hutan yang berada di daerah tropis (Indriyanto, 2006).
Hutan hujan tropis merupakan salah satu tipe vegetasi hutan tertua yang telah menutupi banyak lahan. Ekosistem hutan hujan tropis terbentuk oleh vegetasi klimaks pada daerah dengan curah hujan 2.000 -11.000 mm per tahun, rata-rata temperatur 25°C dengan perbedaan temperatur yang kecil sepanjang tahun, dan rata-rata kelembapan udara 80 %( Indriyanto, 2006).
Tipe ekosistem hutan hujan tropis terdapat di wilayah yang memiliki tipe iklim A dan B (menurut klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson), atau dapat dikatakan bahwa tipe ekosistem tersebut berada pada daerah yang selalu basah, pada daerah yang memiliki jenis tanah Podsol, Latosol, Aluvial, dan Regosol dengan drainase yang baik, dan terletak jauh dari pantai (Indriyanto, 2006)
Tegakan hutan hujan tropis didominasi oleh pepohonan yang selalu hijau. Keanekaragaman spesies tumbuhan dan binatang yang ada di hutan hujan tropis sangat tinggi. Jumlah spesies pohon yang ditemukan dalam hutan hujan tropis lebih banyak dibandingkan dengan yang ditemukan pada ekosistem yang lainnya. Misalnya, hutan hujan tropis di Amazonia mengandung spesies pohon dan semak sebanyak 240 spesies Steven, 1988).
Hutan alam tropis yang masih utuh mempunyai jumlah spesies tumbuhan yang sangat banyak. Hutan di Kalimantan mempunyai lebih dari 40.000 spesies tumbuhan, dan merupakan hutan yang paling kaya spesiesnya di dunia. Di antara 40.000 spesies tumbuhan tersebut, terdapat lebih dari 4.000 spesies tumbuhan yang termasuk golongan pepohonan besar dan penting. Di dalam setiap hektar hutan tropis seperti tersebut mengandung sedikitnya 320 pohon yang berukuran garis tengah lebih dari 10 cm. Di samping itu, di hutan hujan tropis Indonesia telah banyak dikenali ratusan spesies rotan, spesies pohon tengkawang, spesies anggrek hutan, dan beberapa spesies umbi-umbian sebagai sumber makanan dan obat-obatan (Steven, 1988).
Tajuk pohon hutan hujan tropis sangat rapat, ditambah lagi adanya tumbuh-tumbuhan yang memanjat, menggantung, dan menempel pada dahan-dahan pohon, misalnya rotan, anggrek, dan paku-pakuan. Hal ini menyebabkan sinar matahari tidak dapat menembus tajuk hutan hingga ke lantai hutan, sehingga tidak memungkinkan bagi semak untuk berkembang di bawah naungan tajuk pohon kecuali spesies tumbuhan yang telah beradaptasi dengan baik untuk tumbuh di bawah naungan(Steven, 1988)
Itu semua merupakan ciri umum bagi ekosistem hutan hujan tropis. Selain ciri umum yang telah dikemukakan di atas, masih ada ciri yang dimiliki ekosistem hutan hujan tropis, yaitu kecepatan daur ulang sangat tinggi, sehingga semua komponen vegetasi hutan tidak mungkin kekurangan unsur hara. Jadi, faktor pembatas di hutan hujan tropis adalah cahaya, dan itu pun hanya berlaku bagi tumbuh-tumbuhan yang terletak di lapisan bawah. Dengan demikian, herba dan semak yang ada dalam hutan adalah spesies-spesies yang telah beradaptasi secara baik untuk tumbuh di bawah naungan pohon
Tipe Hutan Hujan Tropis Menurut Ketinggian Tempat
Menurut ketinggian tempat dari permukaan laut, hutan hujan tropis dibedakan menjadi tiga zona atau wilayah sebagai berikut.
1. Zona 1 dinamakan hutan hujan bawah karena terletak pada daerah dengan ketinggian tempat 0 -1.000 m dari permukaan laut.
2. Zona 2 dinamakan hutan hujan tengah karena terletak pada daerah dengan ketinggian tempat 1.000 - 3.300 m dari permukaan laut.
3. Zona 3 dinamakan hutan hujan atas karena terletak pada daerah dengan ketinggian tempat 3.300 - 4.100 m dari permukaan laut.
1. Zona Hutan Hujan Bawah
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan bawah meliputi pulau­pulau Sumatra, Kalimantan, Jawa, Nusa Tenggara, Irian, Sulawesi, dan beberapa pulau di Maluku misalnya di pulau Taliabu, Mangole, Mandioli, Sanan, dan Obi. Di hutan hujan bawah banyak terdapat spesies pohon anggota famili Dipterocarpaceae terutama anggota genus Shorea, Dipterocarpus, Hopea, Vatiea, Dryobalanops, dan Cotylelobium. Dengan demikian, hutan hujan bawah disebut juga hutan Dipterocarps. Selain spesies pohon anggota famili Dipterocarpaceae tersebut juga terdapat spesies pohon lain dari anggota famili Lauraceae, Myrtaceae, Myristicaceae, dan Ebenaceae, serta pohon-pohon anggota genus Agathis, Koompasia, dan Dyera (Weidelt, H. J, 1995).
Pada ekosistem hutan hujan bawah di Jawa dan Nusa Tenggara terdapat spesies pohon anggota genus Altingia, Bischofia, Castanopsis, Ficus, dan Gossampinus, serta spesies-spesies pohon dari famili Leguminosae. Adapun eksosistem hutan hujan bawah di Sulawesi, Maluku, dan Irian, merupakan hutan campuran yang didominasi oleh spesies pohon Palaquium spp., Pometia pinnata, Intsia spp., Diospyros spp., Koordersiodendron pinnatum, dan Canarium spp. Spesies-spesies tumbuhan merambat yang banyak dijumpai di hutan hujan bawah adalah anggota famili Apocynaceae, Araceae, dan berbagai spesies rotan (Calamus spp.)( Weidelt, H. J, 1995).
2. Zona Hutan Hujan Tengah
Penyebaran tipe ekosistem hutan hujan tengah meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi, sebagian daerah Indonesia Timor, di Aceh dan Sumatra Utara. Secara umum, ekosistem hutan hujan tengah didominasi oleh genus Quercus, Castanopsis, Nothofagus, dan spesies pohon anggota famili Magnoliaceae.
Di beberapa daerah, tipe ekosistem hutan hujan tengah agak khas. Misalnya di Aceh dan Sumatra Utara terdapat spesies pohon Pinus merkusii, di Jawa Tengah terdapat spesies pohon Albizzia montana dan Anaphalis javanica, di beberapa daerah Jawa Timur terdapat spesies pohon Cassuarina spp., di Sulawesi terdapat kelompok spesies pohon anggota genus Agathis dan Podocarpus. Di sebagian daerah Indonesia Timur terdapat spesies pohon anggota genus Trema, Vaccinium, dan pohon Podocarpus imbricatus, sedangkan spesies pohon anggota famili Dipterocarpaceae hanya terdapat pada daerah-daerah yang memiliki ketinggian tempat 1.200 m dpl.

C.  Kebun Raya dan Pelestarian Plasma Nutfah
Kebun raya nama latinnya Horius Botanicus Bogoriensies, berupa taman besar, tanam-tanaman aneka warna. Selain sebagai pusat penyelidikan ilmiah yang terkenal di dunia dan mendapat kunjungan ahli-ahli botani dari luar negeri. Kebun raya juga sebagai tempat pariwisata atau hiburan yang terbuka untuk umum dan menarik banyak pengunjung juga dari luar kota terutama pada hari libur (Fahn, 1991).
Tanaman yang akan ditanam di Kebun Raya, yang akan menjadi tanaman koleksi, mempunyai kriteria tertentu. Tanaman-tanaman tersebut dikoleksi dengan melalui tahapan-tahapan pemilihan serta lengkap datanya sehingga mempunyai nilai di bidang ilmu pengetahuan.Tanaman-tanaman koleksi ini ditanaman di kebun dengan penataan menuruti kaidah-kaidah ilmu pertamanan sehingga nampak indah. Keindahan dan muatan ilmiah yang terkandung tanaman koleksi ini menarik minat masyarakat luas untuk mengunjunginya dan menjadikannya tempat rekreasi yang sehat, segar, nyaman dan berpengetahuan (Sutrian, 2004).
Tata nama, daya guna dan perbanyakan tanaman koleksi terus menerus diteliti untuk berbagai keperluan, termasuk keperluan pendidikan, pengobatan, ekonomi, konservasi dll. Dengan pemasangan papan-papan keterangan pada taman dan tanaman yang berdayaguna, selain sebagai tempat wisata, kebun raya sekaligus berfungsi sebagai tempat pendidikan. Masyarakat umum yang mengunjungi kebun raya yang tadinya bermaksud hanya untuk berekreasi semata, akan pulang dengan tambahan wawasan dan pengetahuan di bidang botani dan konservasi (Fahn, 1991).
Di bidang ekonomi, sebagai contoh, secara langsung fungsi ini dikerjakan oleh Kebun Raya Bogor dengan jalan mengkoleksi tanaman-tanaman berguna/tanaman industri yang didatangkan dari berbagai daerah baik dari dalam maupun luar negeri, diteliti dan di budidayakan sebagai tanaman komoditi perdagangan (contoh: Kina, karet, kelapa sawit, tembakau, sayur mayur, dll).
Semua fungsi yang ada di dalam kebun raya tersebut dilaksanakan secara bersamaan (simultan).Untuk memenuhi fungsi-fungsi yang terkandung dalam kebun raya tersebut, berbagai kegiatan dilakukan oleh kebun raya yang meliputi (Fahn, 1991).
1.   Melakukan inventarisasi berbagai jenis tumbuhan Indonesia dan melakukan eksplorasi hutan Indonesia dalam rangka pengkoleksian tumbuhan.
2.   Melakukan konservasi tumbuhan dalam rangka melestarikan sumberdaya hayati Indonesia dan konservasi lingkungan.
3.   Melakukan penelitian di bidang botani, di bidang budidaya tanaman (potensi, adaptasi dan perbanyakan tanaman), di bidang pelestarian tanaman serta pengembangan florikultura dan lanskap pertamanan.
4.   Melakukan pelayanan jasa ilmiah dalam bentuk penyediaan fasilitas pendidikan dan penelitian serta penyelenggaraan wisata edukatif untuk menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap lingkungannya.
5.   Melakukan kerjasama di bidang pengembangan Kebun Raya (botanic garden) di tingkat nasional maupun internasional.
6.   Melakukan urusan tata usaha.


Tugas dan fungsi
Tugas utama adalah melakukan inventarisasi, eksplorasi dan konservasi tumbuh-tumbuhan dataran rendah kering yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi (Arief,2000).
Fungsi kebun raya (Arief, 2000):
1.   Melakukan inventarisasi, eksplorasi dan konservasi tumbuh-tumbuhan yang mempunyai nilai ilmu pengetahuan dan ekonomi, langka dan endemic. Terutama untuk flora Indonesia dari datran rendah kering.
2.   Melakukan fasilitas penelitian, pendidikan dan pemanduan khususnya di bidang botani
3.   Menyediakan fasilitas rekreasi di alam terbuka
Kebun raya (atau bisa juga disebut kebun botani, taman botani) adalah suatu area kebun yang ditanami berbagai jenis tumbuhan yang ditujukan terutama untuk keperluan penelitian dan konservasi. Selain untuk penelitian, kebun raya juga kerap kali digunakan sebagai sarana wisata dan pendidikan bagi pengunjung (Arief, 2000).
Indonesia mempunyai 5 Kebun Raya (taman botani) yang berada di bawah pengelolaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta sebuah Kebun Raya yang masih dalam tahap perencanaan. Kelima Kebun Raya tersebut antara lain (Shadily. 2003):
1.    kebun raya bogor pintu 1Kebun Raya Bogor
Kebun Raya Bogor atau Kebun Botani Bogor terletak di Kota Bogor, Jawa Barat Indonesia. Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 80 hektar dan memiliki sedikitnya 15.000 koleksi jenis tumbuhan. Kebun raya ini Didirikan oleh Gubernur Jenderal Van Der Capellen dengan nama s’Lands Plantentuinte Buitenzorg pada tanggal 18 Mei 1817.
Kebun Raya Bogor memiliki sekitar 15.000 jenis koleksi tumbuhan.Salah satu daya tarik utama Kebun Raya Bogor adalah bunga bangkai (Amorphophalus titanum).Bunga ini dapat mencapai tinggi 2m dan merupakan bunga majemuk terbesar di dunia tumbuhan.
Untuk menuju lokasi Kebun Raya Bogor dapat ditempuh malalui tengah kota Bogor, ± 60 km dari Jakarta ke arah selatan.

2.    Kebun Raya Cibodas
kebun raya cibodasKebun Raya Cibodas terletak di Hutan Gunung Gede Pangrango, Desa Cimacan, Pacet, Cianjur, Jawa Barat. Lokasinya berdampingan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cipanas, Jawa Barat.Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 83 hektar.Kebun raya Cibodas ini Dibangun pada tahun 1862 oleh Johannes Elias Teysjmann sebagai cabang dari Kebun Raya Bogor.
taman lumutKebun Raya Cibodas berada di perbukitan dengan ketinggian 1275 meter dpl.Koleksi yang paling khas dari KRC adalah Taman Lumut Cibodas yang memiliki 216 jenis lumut. Dengan luas 2500m persegi, taman ini diklaim sebagai satu-satunya di dunia yang terletak di luar ruangan dan memiliki koleksi terbanyak.
Untuk menuju lokasi Kebun Raya Cibodas dapat ditempuh ± 5 KM dari Cipanas malalui Simpang Tiga, Paregrejen.

3.    Kebun Raya Purwodadi
kaktus di kebun raya purwodadiKebun Raya Purwodadi terletak di Jalan Raya antara Surabaya-Malang tepatnya di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 85 hektar.Kebun raya ini Didirikan atas prakarsa Dr. L.G.M. Baas Becking pada 30 Januari 1941.
Kebun Raya Purwodadi sedikitnya memiliki 2.344 spesimen anggrek, 30 jenis bambu, 150 jenis polong-polongan, 117 jenis palem-paleman, 60 jenis paku-pakuan, dan banyak lagi yang lainnya.
Untuk menuju lokasi Kebun Raya Purwodadi dapat ditempuh ± 65 KM dari Surabaya ke arah Malang, atau ± 24 KM dari Malang ke arah Surabaya, atau ± 30 KM dari Pasuruan.

4.    Kebun Raya Bali
kebun raya eka karya baliKebun Raya Bali atau Kebun Raya Eka Karya Baliterletak di kawasan Bedugul di Kabupaten Tabanan, Bali, Indonesia. Kawasan konservasi ini menempati lahan seluas 157,5 hektar. Kebun raya ini Diresmikan pada 15 Juli 1959, dengan nama Kebun Raya “Eka Karya”.
Kebun Raya Bali berada di pegunungan dengan ketinggian 1.250 – 1.450 m dpl.Semula diperuntukkan bagi tumbuhan jenis conifer namun kini telah dijadikan kawasan konservasi ex-situ bagi tumbuhan pegunungan tropika kawasan timur Indonesia.
peta bali botanic gardenJenis koleksi Kebun Raya Bali antara lain terdiri atas anggrek tanaman palem, bambu, kaktus, tanaman obat, paku-pakuan, serta tanaman upacara agama Hindu Bali. Jenis koleksi yang ditanam di areal kebun yang berdasarkan kekerabatannya dan sebagian lagi dikelompokkan berdasarkan fungsi terbagi atas 2 kelompok, antara lain: Koleksi Umum : 1.099 jenis tanaman setempat dan Koleksi Tematik yang terdiri dari Anggrek 293 jenis, Tanaman upacara hindu bali 218 Jenis, tanaman obat 318 jenis, kaktus 68 jenis, paku-pakuan 8 Jenis, bambu 62 jenis, palem 44 jenis.
Untuk menuju lokasi Kebun Raya Eka Karya Bali dapat ditempuh 80 km ke arah utara Denpasar menuju Singaraja, atau sekitar 40 km dari Singaraja ke arah selatan menuju Denpasar.
5.    Kebun Raya Batu Raden
batu raden di kaki gunung selametKebun Raya Baturaden terletak di Desa Kemutuk Lor, Kec. Baturaden, Kab. Banyumas dan berada sekitar 14 Km dari Kota Purwokerto, dan terletak sekitar 1,5 km dari gerbang utama Wana Wisata Baturaden.
Kebun Raya Baturaden berada di kaki Gunung Slamet Petak 1 dan 3, RPH Baturaden, BKPH Gn. Slamet Barat KPH Banyumas Timur dibatasi sebelah utara Petak 4 dan 5 hutan produksi terbatas, sebalah barat petak 2 hutan produksi terbatas, sebelah selatan petak 1 lokawisata Baturaden dan bumi Perkemahaan, sebelah timur petak 6 hutan produksi terbatas. Topografi mulai landai sampai berbukit dengan kemiringan 20% s/d 70% dan ketinggian + 600-750 m dpl dengan jenis tanah umumnya jenis latosol berwarna merah kecoklatan.
Kebun Raya Baturaden kaya akan berbagai potensi flora sebagaimana fungsi Kebun Raya sebagai konservasi berbagai spesies tumbuhan. Jenis-jenis flora yang berada dalam kawasan Kebun Raya Baturaden yang telah diidentifikasi oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) adalah damar (Agathis borneensis), puspa (Schima wallichii), rasamala (Altingia excelsa), mahoni (Switenia macrophylla), kaliandra (Callyandra sp), paku-pakuan, kantong semar dan jenis-jenis anggrek. Jenis flora yang lainnya masih dalam identifikasi oleh LIPI sebagai yang bertanggung jawab dalam pengelolaan Kebun Raya di Indonesia.

Plasma nutfah
Menurut Kamus Pertanian Umum yang diterbitkan PT. Penebar Swadaya, definisi dari plasma nutfah adalah substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan atau dirakit agar tercipta suatu jenis unggul atau kultivar baru.Berdasarkan definisi tersebut, dapat dimaklumi bahwa Indonesia memiliki plasma nutfah yang sangat besar, dengan jenis yang beraneka ragam pula.Luasnya wilayah penyebaran spesies, menyebabkan spesies-spesies tersebut menjadikan keanekaragaman plasma nutfah cukup tinggi (Fahn, 1991).
Keberadaan beberapa plasma nutfah menjadi rawan dan langka, bahkan ada yang telah punah akibat perubahan besar dalam penggunaan sumber daya hayati dan penggunaan lahan sebagai habitatnya.Semua ini disebabkan oleh perbuatan manusia. Kebijakan pembangunan yang kurang memperhatikan kelestarian lingkungan pun turut berperan dalam proses kepunahan plasma nutfah tersebut. Dengan semakin banyaknya permasalahan konservasi plasma nutfah terutama di daerah-daerah rawan erosi plasma nutfah dirasakan penanganan permasalahan tersebut tidak mungkin hanya ditangani Komisi Nasional Plasma Nutfah.Untuk itu, dirasakan perlu membentuk Komisi Daerah Plasma Nutfah agar masalah-masalah yang timbul dapat cepat ditangani. Apalagi dengan diberlakukannya UU No. 20 tahun 1999 tentang otonomi daerah serta memperhatikan minat daerah yang besar, maka pembentukan Komisi Daerah Plasma Nutfah sangat diperlukan (Fahn, 1991).
Pada peringatan 30 tahun Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian tanggal 3-8 Agustus 2004 telah dilakukan penanaman Manggis di kompleks pelestarian plasma nutfah Kampus Penelitian Pertanian oleh Menteri Pertanian. Pada kesempatan ini Kepala Badan Litbang Pertanian menanam Ylang Ylang, Walikota Bogor menanam Kayu Manis dan Wakil Ketua DPR menanam pohon Pala. Kegiatan tersebut merupakan penanaman perdana pelestarian plasma nutfah yang menurut rencana di Kompleks tersebut akan ditanam plasma nutfah dari seluruh Indonesia. Diharapkan Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor di masa mendatang akan menjadi acuan dan sumber plasma nutfah dari seluruh Indonesia ( Sutrian, 2004).
Menurut para pakar lingkungan hidup, menyinggung masalah plasma nutfah yang tidak kalah penting adalah perangkat hukum tentang pengamanan hayati.Para pakar sangat mendukung upaya penyusunan peraturan hukum tentang pengamanan hayati, sesuai komitmen Protokol Cartagena 2000.Namun rancangan undang-undang (RUU) tersebut hendaknya diintegrasikan dan selaras dengan UU tentang pelestarian plasma nutfah (Arief, 2000).
Rancangan naskah UU tentang pelestarian plasma nutfah saat ini juga sedang disusun, sebagai antisipasi atas kerusakan plasma nutfah.Alangkah baiknya jika topik keamanan hayati produk transgenik diintegrasikan dengan pelestarian plasma nutfah.Pembentukan UU yang terpisah dari UU yang sudah ada dan mengatur tentang keamanan hayati dari produk transgenik bakal menambah kompleksitas pengaturannya. Apalagi proses pembentukan sebuah UU selalu memakan waktu lama, padahal semakin banyak permasalahan di lapangan yang perlu segera ditangani (Arief, 2000).
Peraturan pemerintah yang fleksibel dan terkait dengan kelembagaan perlu segera lahir sehingga operasional tidak terkotak-kotak pada berbagai induk organisasi yang berbeda, padahal materi yang diatur adalah sama. Sudah lebih kurang dua tahun terakhir isu bioteknologi mencuat dalam perdebatan pro dan kontra di kalangan akademisi, media masa, maupun masyarakat pengguna. Marilah kita memandang ke depan dengan hati nurani yang tulus untuk menyusun rambu-rambu pengamanan hayati. Ini demi kesejahteraan rakyat Indonesia, serta demi kelangsungan daya dukung kehidupan alam Indonesia sebagai modal dasar pembangunan semesta (Fahn, 1991).
Acuan peraturan dalam bentuk Undang-undang yang mengatur pengamanan sumberdaya hayati dan produknya dari hari ke hari semakin diperlukan.Kesiapan daerah menangani pengelolaan plasma nutfah perlu juga terus ditingkatkan, agar kerusakan ekosistem dan lingkungan tidak semakin parah (Arief, 2000).

D.  Pengelolaan Koleksi Herbarium
Herbarium sangat penting untuk keperluan identifikasi, perbandingan, catatan ekologi dan data floristic, penetapan spesies baru, dokumentasi, identifikasi spesies yang diisolasi dan pengawetan tingkat teleomorf atau bentuk sporulasi yang mudah hilang dalam kultur.
Spesimen herbarium harus disertai data paspor,minimum ditulis dengan pensil atau tinta yang tidak luntur.Data paspor minimum meliputi:
1.   Nama spesimen(apabila telah diidentifikasi)
2.   Lokasi pengumpulan specimen
3.   Tanggal pengumpulan specimen
4.   Nama pengumpul atau kolektor
5.   Sifat-sifat specimen dalam keadaan segar yang mungkin hilang selama proses pengawetan
6.   Nama daerah dan identifikasi  serta nomor sebagai tambahan data paspor
Pembuatan awetan spesimen diperlukan untuk tujuan pengamatan spesimen secara praktis tanpa harus mencari bahan segar yang baru. Terutama untuk spesimen-spesimen yang sulit di temukan di alam.Awetan spesimen dapat berupa awetan basah atau kering.untuk awetan kering, tanaman diawetkan dalam bentuk herbarium, sedangkan untuk mengawetkan hewan dengan sebelumnya mengeluarkan organ-organ dalamnya. awetan basah, baik untuk hewan maupun tumbuhan biasanya dibuat dengan merendam seluruh spesimen dalam larutan formalin 4%.
Awetan yang telah dibuat kemudian dimasukkan dalam daftar inventaris koleksi.pencatatan dilakukan kedalam field book/collector book. sedangkan pada herbarium keterangan tentang tumbuhan dicantumkan dalam etiket. dalam herbarium ada dua macam etiket, yaitu etiket gantung yang berisi tentang; nomer koleksi, inisial nama kolektor, tanggal pengambilan spesimen dan daeran tingkat II tempat pengambilan (untuk bagian depan) dan nama ilmian spesimen (untuk bagian belakang).
Pada etiket tempel yang harus dicantumkan antara lain; kop( kepala surat) sebagipengenal indentitas kolektor/lembaga yang menaungi, (No)nomer koleksi,(dd)tanggal ambil, familia, genus, spesies, Nom. Indig(nama lokal), (dd) tanggal menempel, (determinasi)nama orang yang mengidentifikasi spesimen itu, (insula) pulau tempat mengambil, (m. alt) ketinggian tempat pengambilan dari permukaan air laut, (loc) kabupaten tempat pengambilan, dan (annotatione) deskripsi spesimen tersebut.
Secara umum teknik pembuatan herbarium dapat dibagi menjadi dua cara,yaitu cara basah dan kering.
*    Herbarium Basah
Materi yang akan diawetkan direndam dalam larutan pengawet.Bahan pengawet yang umum digunakan ialah alcohol 70% atau Formalin-alkohol-asam asetat(FAA). Bahan yang disimpan dalam larutan pengawet dapat dipakia untuk keperluan pembuatan sediaan (preparat) dan pewarnaan. Formalin-alkohol-asam asetat ada dua macamnya.Komposisinya dapat dilihat dalm table dibawah ini:

Nama
I
II
Formalin 40%
6.5 ml
10 ml
Alkohol 50%
100 ml
100 ml
Asam asetat biang
2.5 ml
10 ml
Bahan yang diawetkan dimasukan kedalam botol bersama-sama dengan larutan pengawet.Bagian lar botol diberi label yang memberikan informasi mengenai data paspor.
*    Herbarium Kering
Bahan yang akan dibuat herbarium dipanaskan dengan perlahan-lahan dibawah matahri atau didalam oven pada suhu sedang.Tanaman herba atau daun yang mengandung cendawan harus ditekan dengan sesak dan diletakkan diantara dilembaran koan selama masa pengeringan.
Spesimen herbarium dari biakan dapat pula dibiakkan dengan cara mengeringkannya.Herbarium kering disimpan dalam amplop kertas transparan,kemudian dimasukkan dalam amplop kertas kaku berkualitas baik dengan ukuran sekitar 15cm x 10 cm.Amplop-amplop ini dimasukkan kedalam kotak dan disimpan dalm lemari atau cabinet.Data paspor minimum ditulis pada selembar kertas terpisah yang dimasukkan kedalam amplop  atau ditempelkan kedalam amplopnya.
Agar specimen herbarium tidak rusak selama periode penyimpananspesimen tersebut perlu diberi perlakuan.Untuk melindunginya dari serangan kutu da serangga lainnya,specimen diberi perlakuan metal bromide dalam ruangan fumigasi selama 24-48 jam sebelum di susun dan disimpan dalam kotak atau cabinet.Fumigasi berkala terhadap specimen perlu dilakukan .Dalam lemari dapat pula diberi kapur barus untuk mencegah serangan kutu atau serangga lainnya.
Hal yang perlu diperhatikan pada saat proses pembuata herbarium(Steenis, 1981):
1.   TAHAP PENGUMPULAN
Pengumpulan tanaman dilakukan dengan melakukan eksplorasi di lapangan.Selanjutnya masukan tumbuhan yang diperoleh kedalam vasculum, atau dimasukan saja kedalam halaman sebuah buku yang tebal.Ambilah terutama dari bagian tumbuhan yang berbunga atau malahan yang berbuah.Buatlah sedikitnya 2 sampel yang lengkap dari tiap jenis.Bagian dari tumbuhan yang besar sedikitnya panjangnya 30-40 cm dan sedikitnya harus ada satu daun dan satu inflorescencia yang lengkap, kecuali kalau bagiannya yang khusus masih terlalu besar.Lihatlah bagian tumbuhan yang berada dibawah tanah. Sediakan buku untuk mencatat kehususan seperti : warna, bau, bagian dalam tanah, tinggi tempat dari permukaan laut, tempat, banyaknya tanaman tersebut.
2.   CARA MENGERINGKAN
Tumbuhan diatur diatas kertas kasar dan kering, yang tidak mengkilat, misalkan kertas Koran.Letakan diantara beberapa halaman yang dobel dan sertakan dalam setiap jenis catatan yang dibuat untuk tanaman tersebut.Juga biasanya digunakan etiket gantung yang diikatkan pada bahan tumbuh-tumbuhan, yang nomornya adalah berhubungan dengan buku catatan lapangan.Tumbuh-tumbuhan yang berdaging tebal, direndam beberapa detik dalam air yang mendidih.Lalu tekanlah secara perlahan-lahan.Gantilah untuk beberapa hari kertas pengering tersebut. Ditempat yang kelembabannya sangat tinggi, dapat dijemur dibawah sinar mata hari atau didekatkan di dekat api (diutamakan dari arang). Tanaman dikatakan kering kalau dirasakan tidak dingin lagi dan juga terasa kaku. Diusahakan bahwa seluruh sample terus-menerus dalam keadaan kering. Makin cepat mereka mongering, maka makin baik warna itu dapat dipertahankan.
3.   PENGAWETAN
 Tanaman yang dikeringkan selalu bersifat hygroscopis, akan mudah sekali terserang jamur. Oleh karena itu, usahakanlah penyimpanan herbarium di tempat kering dan jemurlah koleksi tersebut sekali-kali dibawah sinar matahari.Terhadap serangan serangga, yang juga memakan tumbuh-tumbuhayang sangat kering, dapat dipakai bubukan belerang, naphtaline, atau yang lebih baik dapat digunakan paradichloorbenzol.Kedua zat yang terakhir ini menguap langsung dan terus-menerus.
4.   PEMBUATAN HERBARIUM
Tempel herbarium, kalau dapat pada helaian yang terlepas, sehingga kelak dapat ditempatkan menurut selera yang dikehendaki. Tempelkan nama pada kertas dengan kertas label. Tuliskan diatas kertas herbarium data mengenai tanggal, tempat ditemukan, tempat mereka tumbuh, nama penemu, catatan khusus, nama familia dan nama spesies.

BAB III
METODE PENELITIAN

A.     Waktu dan Tempat Penelitian
Kuliah Kerja Lapangan (KKL) pada Mata kuliah Taksonomi Tumbuhan Tinggi ini dilaksanakan pada hari minggu 1 April 2012 pukul 10.00 WIB sampai 14.00 WIB di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan.

B.     Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang dipergunakan pada pengamatan kali ini adalah sebagai berikut :
1.    Pensil                                                                  1 buah
2.    Buku klasifikasi                                                   1 buah
3.    kertas                                                                  secukupnya
3.2.2 Bahan
Bahan tumbuhan yang digunakan sebagai pengamatan adalah sebagai berikut :
1. Tumbuhan kelas Angiospermae

C.     Cara Kerja
1. Diamati morfologi pada tumbuhan yang akan diidentifikasi
2. Dicatat hasil identifikasi morfologi pada Tumbuhan yang diamati
3. Diidentifikasi termasuk dalam Family apa tumbuhan yang Diamati
4. Dicatat hasil pengidentifikasian


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Koleksi Herbarium
Herbarium adalah kumpulan tumbuhan kering yang dipres dan ditempelkan pada lembaran kertas, biasanya kertas manila yang menghasilkan suatu label dan data yang rinci serta disipan dalam rak-rak atau lemari besi dalam urutan menurut aturan dimana herbarium itu disimpan.
Herbarium sangat penting untuk digunakan dalam pekerjaan taksonomi. Herbarium terdiri dari koleksi kering dan koleksi basah. Koleksi basah tidak dipres dan merupakan specimen-spesimen hidup yang dipelihara dengan baik. Tiap-tiap specimen digunakan untuk mengidentifikasi specimen-spesimen baru yang tidak diketahui namanya. Prosesnya dengan cara membandingkan antara tanaman yang ingin diketahui namanya dengan specimen yang suda diketahui namanya yang ada pada tempat-tempat penyimpanan herbarium atau untuk mempelajari morfologi paku ( serbuk sari Koleksi herbarium disimpan di ruang tersendiri dan dapat dimanfaatkan  untuk umum guna keperluan penelitian. Biji dari tanaman koleksi dikumpulkan dan ditempatkan dalam bank biji. Tersedia indeks seminum yang berisikan daftar koleks biji Kebun Raya Purwodadi.  Tercatat ada 80 suku, 295 marga, 462 jenis
Peralatan dan Bahan yang Digunakan untuk Pembuatan Herbarium:
1. Gunting untuk tanaman
2. Pisau
3. Garpu tanah atau cetok
4. Kantung plastic bermacam ukuran
5. Buku kecil untuk catatan lapangan
6. Label
7. Etiket gantung
8. Pensil hitam
9. Spidol
10. Kaca pembesar
11. Altimeter
12. Kertas herbarium ukuran 29cmx 43cm
13. Pengepres (sasah)
14. Kertas Koran
15. Formaldehid 4%
16. Etil alcohol 70%
17. Sublimat
18. Asam cuka
19. Kupri sulfat
20. Akuades Sampai dengan januari 2000, herbarium yang telah dikumpulkan sebanyak
CARA MEMBUAT HERBARIUM
Cara koleksi tumbuhan-tumbuhan yang memiliki perawakan kecil seperti herba atau semak dapat dikoleksi secara menyeluh. Sedangkan cara mengoleksi pohon-pohon yang tinggi, liana dan epifit yakni dengan mengumpulkan apa saja yang dimiliki oleh tanaman tersebut yang diseleksi tanpa merusak tanaman tersebut. Pada pengoleksian idealnya harus berisi semua bagian tanaman seperti akar, batang, daun, buah, biji dan sebagainya.
Dalam pengumpulan tumbuhan dilapangan harus memperhatikan hal-hal berikut:
a. Tumbuhan yang dibuat herbarim diusahakan selengkap mungkin dan terutama tumbuhan yang sedang berbunga atau yang sedang berbuah. Kumpulkan tanaman dari lapangan kedalan vaskulum atau masukkan diantara kertas koran.
b. Tumbuhan diberi etiket gantung dan diberi nomor urut, nama singkatan kolektor, tanggal pengambilan.
c. Pada buku koleksi dibuat catatan yang datanya tidak terbawapada specimen yang diambil: tempat tumbuh, tinggi tempat, keadaan lingkungan, warna, bau, bagian-bagian dalam tumbuhan (besar populasi), dan lain-lain.
Pengeringan dan Pengawetan
a. Pengerigan
Pengeringan dan pengawetan bertujuan untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh serangga. Pengeringan dan pengawetan specimen dapat dilakukan dengan beberapa cara : oven, pengarangan lampu, diberi bahan kimia atau pengeringan dengan sinar matahari.
b. Pengawetan
1. Dilapangan
a. Menggunakan formaldehid (8%)
i. Ambil botol plastic polietena yang mempunyai ukuran 2,5l .
ii. Timbang 250 gr paraformaldehid, tambah 2 sdt heksamin      masukkan dalam botol plastic.
iii. Tambah air mendidih sampai botol penuh.
iv. Biarkan larutan itu selama semalam hingga menjadi formaldehid 8%.
b. Etil alcohol 75%
2. Di tempat penyimpanan
Insektisida yang digunakan selama penyimpanan :
a. Kontak : gas sianida, paradichlorobenzena (PBD) dan karbon sulfide.
b. Digestive : garam merkuri dan merkuri klorida.

3. Pengawetan herbarium kering
Bahan yang sudah dikeringkan dicelup pada campuran 1000cc alcohol dan 40gr sublimat hingga basah seluruhnya. Kemudian keringkan lagi hingga kering betul.

4. Pengawetan herbarium basah
Tumbuhan dicuci hungga bersih dan masukkan dalam bahan yang terdiri atas campuran 1000cc air suling, 25cc formalin, 1cc asam cuka, dan 15cc merkuri sulfat.
C.  Label
Buku catatan di lapangan digunakan untuk mengisi label yang digunakan pada specimen herbarium meliputi :
1. Nomor koleksi
2. Nomor specimen
3. Suku
4. Lokasi
5. Ketinggian
6. Tanggal
7. Habitat : meliputi topografi, tanah, air, dan tipe vegetasi.
8. Nama daerah

Tabel 1. Daftar Koleksi Herbarium yang ada di Kebun Raya
NO
Nama Spesies
1
2
3
4
5
6
7
8
Syzygium. po/yanthum (Wight) Walp. (salam)
S. cumini ('l.) Skells. Ouwet, jamblang, duwet)
S. polycephalum (Miq.) Merr. & L.M. Perry (gowok, dampyong),
S. aromaticum (L.) Merr. & L.M. Perry (cengkeh)
S. malaccense (L.) Merr. & L.M.Perry Uambu darsono, jambu bol)
S. pycnanthum Merr. & L.M. Perry (klampok abang),
S. aqueum (Burm.f.) Aist. Oambu kancing, klampok kancing)
S. samarangense (BI.) Merr. & L.M. Perry Uambu air, klampok buah),
9
10
11
S. jambos (L.) Alston Oambu mawar),
S. litorale (klampok alas)
S. glabratum.
12
Glochidion borneese
13
Celastrus paniculatus
14
Raflesia manillana
15
Viscumarticulatum
16
Termanalia catanna
17
Melastona malabathricum
18
Punica Granatum L.
19
Helicia javanica
20
Cassia fistula L.
21
Bauhania purpurea
22
Samanea saman
23
Payena leerii
24
Camellia sinensis L.
25
Lithocarpus conocarpus
26
Morus alba L.
27
Nymphaea odorata
28
Piper nigrum L.
29
Talauma candollii Bl.
30
Cananga oadorata

B.  Kebun Raya Purwodadi
Kebun Raya Purwodadi adalah sebuah kebun penelitian besar yang terletak di Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Luasnya mencapai 85 hektar dan memiliki sekitar 10.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan.
Kebun raya Purwodadi didirikan pada tanggal 30 Januari 1941 oleh Dr. Lourens Gerhard Marinus Baas Becking atas prakarsa Dr. Dirk Fok van Slooten pada tanggal 30 Januari 1941 sebagai pemekaran dari Stasiun Percobaan 's Lands Plantentuin Buitenzorg atau Kebun Raya Bogor. Kebun ini merupakan salah satu dari tiga cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor) yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi spesifik. Kedua cabang lainnya adalah Kebun Raya Cibodas dan Kebun Raya Eka Karya Bali. Pengelolaan seluruh Kebun Raya ini berada di bawah tanggung jawab Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Mula-mula kebun ini dipergunakan untuk kegiatan penelitian tanaman perkebunan.Kemudian pada tahun 1954 mulai diterapkan dasar-dasar per-kebunraya-an yaitu dengan dimulainya pembuatan petak-petak tanaman koleksi.Sejak tahun 1980 sebagian tanaman ditata kembali menurut kelompok suku yang menganut klasifikasi sistem Engler dan Pranti.Dalam perkembangannya diharapkan Cabang Balai Kebun Raya Purwodadi akan menjadi pusat konservasi dan penelitihan tumbuhan iklim kering di daerah tropis.
Kebun ini merupakan salah satu dari 3 cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor) yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi spesifik.Kedua cabang lainnya adalab Kebun Raya Cibodas dan Kebun Raya Eka Karya Bali.Cabang Kebun Raya Indonesia (Kebun Raya Bogor). Kebun Raya Indonesia merupakan Unit Pelaksana ( Kebun Raya Bogor ), Kebun Raya Indonesia merupakan Unit Pelaksana Teknis yang bernaung dibawah dan bertanggung jawab kepada Deputi Ketua LIPI Bidang IPA. Yang pembinan sehari-hari dilakukan oleh Kepala Pusaat Penelitian dan Pengembangan ( Pulitbang Biologi ). Pengelolahan seluruh Kebun Raya ini berada dibawah tanggung jawab LIPI ( Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia )
Lokasi Kebun Raya ini terletak di Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan Lokasi ini terletak di tepi jalan besar yang menghubungkan 3 kota, yaitu Malang, Surabaya, dan Pasuruan.  Jarak dari kota Malang adalah 24 km ke arah utara, dan dari kota Pasuruan 30 km ke arah barat daya dan dari kota Surabaya 65 km ke arah selatan.  Luas Kebun Raya Purwodadi sakitar 85 ha, pada ketinggian 300m dpl dengan topografi datar sampai bergelombang.Curah hujan rata--rata per tahun 2366 mm dengan bulan basah antara bulan November dan Maret dengan suhu berkisar antara 220 - 320 C.
Sebagai salah satu lembaga konservasi tumbuhan ex-situ, Kebun Raya Purwodadi mempunyai tugas melaksanakan inventarisasi, eksplorasi, penanaman koleksi dan pemeliharaan tumbuhan dataran rendah kering yang memiliki nilai ilmu pengetahuan dan berpotensi untuk dikoleksi (dikonservasi). Kebun Raya Purwodadi seluas 845.148 m2 memiliki 174 famili, 904 marga dan 1.896 jenis berdasarkan katalog 2006 (Suprapto et al., 2006).

C.  Koleksi Tanaman di Kebun Raya Purwodadi
1.   Family Meliaceae
Kingdom Plantae
Divisi Magnoliophyta
Class Magnoliopsida
Ordo Sapindales
Family Meliaceae
Genus Swietenia
Spesies Swietenia macrophylla
Berdasarkan klasifikasi ilmiahnya, tanaman mahoni termasuk dalam keluarga/familia Meliaceae. Tanaman yang di Indonesia dikenal sebagai mahoni ini mempunyai banyak nama sesuai dengan daerah atau negaranya. Di Bangli disebut sebagai mahagni. Di Belanda dikenal sebagai mahok. Orang Perancis menyebutnya acajou atau acajou pays, sementara tetangga kita (Malaysia) menamai tanaman ini cheriamagany. Lain lagi dengan orang Spanyol yang mengenalnya sebagai caoba/caoba de Santo/domingo. Di Indonesia sendiri tumbuhan berkayu keras ini mempunyai nama lokal lainnya, yaitu mahagoni, maoni atau moni. Asal usul tanaman ini dari Hindia Barat dan Afrika.
Performance Tanaman: Tanaman mahoni merupakan tanaman tahunan, dengan tinggi rata-rata 5 - 25 m (bahkan ada yang mencapai lebih dari 30 m), berakar tunggang dengan batang bulat, percabangan banyak, dan kayunya bergetah. Daunnya berupa daun majemuk, menyirip genap, helaian daun berbentuk bulat telur, ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun rata, tulang menyirip dengan panjang daun 3 - 15 cm. Daun yang masih muda berwarna merah dan setelah tua jreng..jreng.. bukan sulap bukan sihir, berubah menjadi hijau. Bunga tanaman mahoni adalah bunga majemuk, tersusun dalam karangan yang keluar dari ketiak daun. Ibu tangkai bunga silindris, berwarna coklat muda. Kelopak bunganya lepas satu sama lain dengan bentuk menyerupai sendok, berwarna hijau. Mahkota bunga silindris, berwarna kuning kecoklatan. Benang sari melekat pada mahkota. Kepala sari berwarna putih/kuning kecoklatan. Tanaman mahoni ini baru akan berbunga setelah usia 7 atau 8 tahun. Setelah berbunga, tahap selanjutnya adalah berbuah. Buah mahoni merupakan buah kotak dengan bentuk bulat telur berlekuk lima. Ketika buah masih imut berwarna hijau, dan setelah besar berwarna coklat. Di dalam buah terdapat biji berbentuk pipih dengan ujung agak tebal dan warnanya coklat kehitaman. Buah yang sudah renta alias tua sekali kulit buahnya akan pecah dengan sendirinya dan biji-biji pipih itu akan bebas berterbangan kemana angin meniup. Bila jatuh ke tanah yang cocok akan tumbuh menjadi tanaman mahoni generasi baru.
Tanaman mahoni banyak ditemukan di pinggir-pinggir jalan sebagai pohon pelindung. Pohonnya yang besar cocok untuk berteduh. Disamping itu karena sifatnya yang tahan panas/hidup di tanah gersang sehingga tanaman ini tetap bertahan menghiasi tepi jalan di beberapa daerah. Bagi penduduk Indonesia khususnya Jawa, tanaman ini bukanlah barang baru, karena sejak jaman penjajahan Belanda mahoni dan rekannya, pohon asan, sudah banyak ditanam di pinggir jalan sebagai peneduh terutama di sepanjang jalan Daendels (dari Merak sampai Banyuwangi). Dan sejak 20 tahun terakhir ini, tanaman mahoni mulai dibudidayakan karena kayunya mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi. Kualitas kayunya keras dan sangat baik untuk meubeler, furniture, barang-barang ukiran
Spesies: S. Macrophylla dan kerajinan tangan. Sering juga dibuat penggaris karena sifatnya yang tidak mudah berubah. Kualitas kayu mahoni berada sedikit dibawah kayu jati sehingga sering dijuluki sebagai primadona kedua (primadona utamanya tetep jati donk..). Untuk mahoni yang tua kayunya berwarna merah kecoklatan. Ada beberapa jenis mahoni yaitu mahoni berdaun kecil (Swietenia mahagoni) dan mahoni berdaun lebar (Swietenia macrophilea). Swietenia mahagoni kualitas kayunya lebih bagus dibanding Swietenia macrophilea. Sedangkan kelebihan Swietenia macrophilea adalah lebih cepat tumbuh menjadi besar dan kayunya lempeng. Pemanfaatan lain dari tanaman mahoni adalah kulitnya dipergunakan untuk mewarnai pakaian. Kain yang direbus bersama kulit mahoni akan menjadi kuning dan wantek (tidak luntur). Sedangkan getah mahoni yang disebut juga blendok dapat dipergunakan sebagai bahan baku lem (perekat), dan daun mahoni untuk pakan ternak.
Pemanfaatan mahoni sebagai obat sudah sejak tahun 70-an. Yang diambil adalah bijinya. Pada waktu itu cara konsumsinya masih sederhana (tanpa diolah) yaitu dengan menelan langsung bijinya setelah membuang bagian yang pipih. Konon banyak penyakit yang kabur setelah diobati dengan biji mahoni ini. Tapi rasanya yang pahit banyak dikeluhkan. Dewasa ini sejalan dengan semboyan back to nature, pengobatan dengan bahan-bahan dari alam mulai banyak dilirik. Manusia mulai lebih kreatif mengolah bahan-bahan dari alam yang akan digunakan sebagai obat. Biji mahoni sebagai bahan baku obat dikeringkan terlebih dahulu kemudian digiling halus menjadi serbuk
Meliaceae,  keluarga mahoni dari tanaman berbunga , dari tatanan Sapindales , terdiri dari 51 marga dan sekitar 575 jenis pohon dan (jarang) semak, asli daerah tropis dan subtropis. Kebanyakan anggota keluarga memiliki daun majemuk yang besar, dengan selebaran diatur dalam bentuk bulu, dan bercabang bunga cluster. Buah ini berdaging dan berwarna atau kapsul kasar. Itu Cina pohon (Melia azedarach), juga disebut chinaberry, pohon manik , dan Persia ungu, adalah Asia hias pohon dengan buah-buahan kuning bulat, sering dibudidayakan di banyak daerah beriklim tropis dan hangat. Pohon dari genus Swietenia dan Entandophragma, biasa disebut mahoni , dan dari Cedrela genus (terutama kayu cedar cerutu kotak , C. odorata) adalah pohon kayu ekonomis penting. Para nimba, atau NIM, pohon, juga disebut pohon margosa (Azadirachta genus), ditanam di daerah tropis Dunia Lama, khususnya di India dan Asia Tenggara , merupakan sumber minyak kayu dan obat dan resin.
2.   Family Lauraceae
Kingdom Plantae
Divisi Magnoliophyta
Kelas Magnoliopsida
Ordo Laurales
Family Lauraceae
Genus Cinnamomum
Spesies Cinamomum burmanni
Keluarga Lauraceae atau Laurel terdiri dari sekelompok tanaman berbunga termasuk dalam urutan Laurales . Keluarga itu mencakup sekitar 55 genera dengan mungkin sebanyak 2.200-2.500 spesies di seluruh dunia, sebagian besar dari daerah hangat atau tropis, khususnya Asia Tenggara dan Amerika Selatan . Kebanyakan aromatik evergreen pohon atau semak, tetapi satu atau dua genera, termasuk Sassafras yang gugur , dan Cassytha adalah genus dari parasit tanaman merambat .
Ikhtisar
Para Lauraceae adalah botani keluarga yang mencakup "Laurel Benar" dan kerabat terdekat. Mereka terdiri dari keluarga kosmopolitan, tetapi dengan sebagian besar spesies yang terjadi di daerah tropis. Para Lauraceae adalah komponen penting dari hutan tropis mulai dari dataran rendah ke pegunungan . Di daerah berhutan beberapa Lauraceae adalah salah satu dari lima keluarga atas dalam hal jumlah spesies ini.
Selain kehadiran umum mereka di hutan tropis, anggota dari bentuk Lauraceae komponen karakteristik dan sering dominan habitat dikenal sebagai hutan Laurel . Para Laurisilva dari Macaronesia menyajikan contoh yang ditandai, tetapi, kecuali hanya Antartika , hutan laurel berbagai jenis terjadi di semua benua atau pulau besar yang terkait.
Meskipun jumlah spesies di Lauraceae tidak pasti, perkiraan menunjukkan lebih dari 3000, dan mungkin 4000, spesies dalam 52 genera di seluruh dunia. Dibandingkan dengan keluarga tanaman lainnya, taksonomi mereka masih kurang dipahami. Hal ini sebagian karena keragaman spesies, sebagian karena kesulitan teknis dalam identifikasi, dan sebagian karena investasi yang tidak memadai dalam upaya taksonomi. Namun demikian, bunga terakhir telah maju pengetahuan sistematis keluarga.
Pengetahuan tentang keluarga ini di tingkat nasional adalah bahwa diharapkan di negara dengan sarana ekonomi terbatas, dengan sebagian besar spesies demikian buruk ditentukan atau bahkan tak tentu. Di sisi lain, persentase yang tinggi dari spesies baru baru-baru ini digambarkan berasal dari koleksi yang dibuat di negara-negara. Oleh karena itu peningkatan dalam studi keluarga, di tingkat nasional, adalah yang paling penting bagi kemajuan sistematika dari keluarga pada umumnya.
Monograf terbaru dari marga Lauraceae di genera kecil dan menengah, hingga 100 spesies, telah menghasilkan peningkatan yang tinggi dalam jumlah spesies yang dikenal. Peningkatan tinggi dalam jumlah spesies ini diharapkan untuk genera lain, terutama bagi mereka dengan lebih dari 150 spesies yang tercatat, membawa peningkatan yang cukup besar diharapkan dalam jumlah spesies keluarga (http//botanica.uniandes.edu.co).
Sebagian besar spesies dalam keluarga Lauraceae pohon , biasanya hijau. Pengecualian yang paling radikal adalah dua lusin spesies yang terdiri dari genus Cassytha ,yang semuanya obligately parasit tanaman merambat. Pohon dari keluarga laurel mendominasi di dunia hutan laurel dan hutan awan , yang terjadi di daerah tropis, daerah beriklim subtropis dan ringan dari belahan utara dan selatan, menyoroti Macaronesian pulau, selatan Jepang , Madagaskar , dan tengah Chile .
Ada tiga penggunaan ekonomis utama bagi keluarga ini. Sebuah tingginya kandungan minyak esensial yang ditemukan dalam Lauraceae banyak yang penting untuk rempah-rempah dan parfum. Alpukat yang penting kaya minyak buah yang sekarang ditanam di iklim hangat di seluruh dunia. Keras kayu banyak spesies merupakan sumber kayu di seluruh dunia. Sejumlah besar spesies berada dalam bahaya kepunahan akibat eksploitasi berlebihan sebagai tanaman obat atau ekstraksi kayu dan juga untuk hilangnya habitat.
Genera berikut termasuk spesies dengan nilai komersial dan akibatnya di antara yang paling terkenal: Cinnamomum : Cinnamon , Cassia dan Kamper Laurel , Laurus : Bay Laurel , Lindera : Spicebush , Persea : Alpukat , Sassafras : Sassafras.
Ekologi
Daun dari beberapa spesies dalam Lauraceae memiliki Domatia di axils mereka vena . Domatia ini adalah rumah bagi tertentu tungau . Lauraceous spesies lainnya, anggota dari genus Pleurothyrium khususnya, memiliki simbiosis hubungan dengan semut yang melindungi dan membela pohon.
Mekanisme pertahanan lain yang terjadi antara anggota Lauraceae termasuk getah iritasi atau beracun atau jaringan yang mengusir atau meracuni banyak herbivora organisme. Beberapa zat aktif karakteristik spesies lauraceous dinilai sebagai wewangian di perhiasan (seperti dalam tradisional karangan bunga laurel dari zaman klasik ) atau dalam pembuatan kabinet , di mana hutan wangi dari berbagai spesies pohon lauraceous berharga untuk membuat serangga repellant dada , atau dalam memasak, di mana daun salam telah menjadi bahan pedas populer di masakan Eropa, Amerika dan Asia yang beragam.
Beberapa randa spesies di Lauraceae terjadi di daerah beriklim kedua belahan otak, tetapi sebagian besar keluarga sudah tersebar ke seluruh daerah tropis dan subtropis, banyak dari mereka di hutan awan , yang terakhir tergantung pada kondisi yang sangat lembab. Pusat-pusat utama keanekaragaman dalam Indomalaya, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan, di Afrika ada spesies yang lebih sedikit dibandingkan dengan daerah ekologis serupa lainnya.
Keluarga itu berasal dari pesisir hutan laurel dari Gondwana , yang merupakan alasan untuk polanya distribusi. Para Lauraceae mendiami hutan tropis pegunungan, beberapa spesies mencapai 4000 m di atas permukaan laut, tetapi sebagian besar spesies lebih sering pada ketinggian rendah hutan hujan. Beberapa telah beradaptasi dengan menuntut kondisi di semi-kering beriklim tapi kemudian mereka cenderung tergantung pada menguntungkan edafis kondisi, misalnya, akuifer abadi, aliran air tanah periodik, atau hutan secara berkala banjir di pasir yang mengandung hampir tidak ada nutrisi. Berbagai spesies beradaptasi dengan kondisi yang lain akan tak tertahankan, dengan menumbuhkan pneumatophores , akar yang tumbuh ke atas, proyeksi atas tingkat banjir periodik yang tenggelam tanaman bersaing tanpa adaptasi setara.
Pola-pola spesiasi dalam Lauraceae menunjukkan bahwa sejak awal aridification di benua 15 juta tahun yang lalu , hutan hujan yang terfragmentasi ke dalam kepulauan saat ini hutan di planet ini. Hal ini menyebabkan peningkatan drastis dalam spesiasi dengan mayoritas spesies modern kita menjadi produk-produk dari spesiasi parapatric . Banyak dari spesies yang dihasilkan memiliki distribusi yang sangat terpisah dengan taksa adik terjadi di pusat-pusat lain dari hutan hujan dan keanekaragaman awan hutan. Ini mendukung gagasan bahwa kelompok itu berasal dari Gondwanan. Kelompok lain dari Lauraceae yang menanggapi periode iklim yang menguntungkan dan diperluas di seluruh habitat yang tersedia, terjadi sebagai spesies oportunistik seluruh distribusi yang luas dengan kerabat dekat dan beberapa spesies, menunjukkan perbedaan terakhir dari spesies ini. Banyak dari spesies yang masih ada salam dari kelompok-kelompok lain yang relatif muda. 
Gugur Lauraceae kehilangan semua daun mereka untuk bagian dari tahun tergantung pada variasi curah hujan . Hilangnya daun bertepatan dengan musim kemarau di daerah tropis, daerah subtropis dan kering. Dalam beriklim atau iklim kutub musim kemarau ini disebabkan oleh ketidakmampuan tanaman untuk menyerap air yang tersedia dalam bentuk es.
Para Lauraceae biasanya pohon , tapi genus Cassytha adalah pendaki parasit herbal dengan setidaknya 17 sampai 20 spesies tanaman pendaki dari sebagian besar Australia , tetapi dengan spesies yang berasal dari Afrika , selatan di Asia , utara Amerika Selatan , Amerika Tengah , selatan Florida , Jepang dan satu (Cassytha filiformis) dari Hawaii . Genus ini secara universal diakui sebagai monofiletik dalam Lauraceae. Posisi dalam Lauraceae didukung oleh morfologi bunga dan data molekuler. Ini adalah fenomena evolusi yang berbeda dari pohon-pohon cemara besar, yang menempati lain niche ekologis. Juga merupakan fenomena evolusi konvergen dengan memanjat spesies cusuta atau Laurel hutan habitat mendaki spesies lauroide ivy genus, disebarkan oleh burung-burung yang membantu untuk menjajah daerah yang luas lagi.
Klasifikasi
Lauraceae selalu dianggap sebagai kelompok purba dari tanaman berbunga . The APW (angiosperma Situs web Filogeni) dianggap bagian dari kelompok maju Orde Laurales , menjadi keluarga yang paling maju dan kelompok saudara dari Hernandiaceae (bdk. AP-situs web ).
Klasifikasi dalam Lauraceae tetap belum terpecahkan. Beberapa skema klasifikasi berdasarkan berbagai karakteristik morfologi dan anatomi telah diusulkan, tetapi tidak sepenuhnya diterima (Jud ,2007).
klasifikasi suprageneric diusulkan oleh (van der Werff dan Richter, 1996) saat otoritas. Namun, karena berbagai bukti molekuler dan embriologis yang tidak setuju dengan pengelompokan, tidak diterima sepenuhnya oleh komunitas ilmiah. Klasifikasi mereka didasarkan pada kedua struktur perbungaan dan kayu dan anatomi kulit. Ini membagi Lauraceae menjadi dua subfamilies, Cassythoideae dan Lauroideae. Cassythoideae ini terdiri dari genus tunggal, Cassytha, dan didefinisikan oleh, kebiasaan herba parasit tersebut. Lauroidaeae tersebut kemudian dibagi menjadi tiga suku: Laureae, Perseeae, dan Cryptocaryeae.
Para Cassythoideae subfamili tidak sepenuhnya didukung. Dukungan datang dari urutan gen kloroplas matK [7] sementara penempatan dipertanyakan Cassytha telah menyimpulkan dari analisis spacer intergenetic dari kloroplas dan genom nuklir (Chanderbali, AS, van der Werff, H. dan R enner, SS (2001).
Suku-suku Laureae dan Perseceae tidak didukung oleh studi molekuler atau embriologi. Urutan gen kloroplas matk serta urutan kloroplas dan genom nuklir menunjukkan hubungan erat antara dua suku. Bukti Embriologis tidak mendukung pembagian yang jelas antara kedua suku baik. Genera seperti Caryodaphnopsis dan Aspidostemon bahwa karakteristik embriologis berbagi dengan satu suku dan karakteristik kayu dan kulit kayu atau karakteristik perbungaan dengan yang lain blur suku pembagian kelompok tersebut. Semua bukti yang ada, kecuali morfologi perbungaan dan anatomi kayu dan kulit kayu, gagal mendukung Laureae terpisah dan suku Perseeae.
Pengetahuan tentang semua individu yang terdiri dari Lauraceae tidak lengkap. Pada 1991, sekitar 25-30% spesies Lauraceae neotropical belum dijelaskan.Pada tahun 2001, studi embriologi hanya selesai pada individu dari 26 genera menghasilkan tingkat 38,9% pengetahuan, dalam hal embriologi, untuk keluarga ini. Selain itu, sejumlah besar variasi dalam keluarga untuk setiap ciri khas potensi menimbulkan tantangan besar untuk mengembangkan klasifikasi dapat diandalkan. Tidak mungkin untuk menggambarkan bahkan satu genus atau suku oleh satu yang jelas karakter.Untuk alasan ini, semua klasifikasi yang diusulkan mengandalkan seperangkat karakteristik mana kombinasi menyajikan ciri yang paling sering diamati untuk grup (van der Werff dan JG Richter (1996).
3.   Family Ebenaceae

4.   Family Mirtaceae

5.   Family Bombacaceae
Ciri umum:
Berupa pohon yang dapat tumbuh tinggi besar, mempunyai sisik dan rambut-rambut bitang, daun tunggal atau majemuk menjari (palmatus), duduk tersebar dengan daun penumpu, bunga kadang-kadang besar dengan warna menarik.

Contoh spesies: Adansonia digitata.
Klasifikassi
Kingdom          Plantae
        Divisio     Magnoliophyta
  Classis           Magnoliopsida
Order               Malvales
Famili              Bombaceae
Genus             Adansonia
Species   Adansonia digitata


Habitat:
Pohon-pohon yang biasanya tumbuh sebagai individu soliter, pohon raksasa ini dapat tumbuh di daerah panas, hutan kering, daerah berbatu, hingga daerah dengan curah huan yang rendah.
Habitus: Terna atau pohon/perdu.
Batang:
baobab dapat tumbuh mencapai ketinggian 5 sampai 30 meter dan memiliki batang degan diameter 7 sampai 11 meter.  Mereka menyimpan air di dalam batang mereka, dengan kapasitas di atas 120.00 liter untuk bertahan dalam kondisi lingkungan sekitar mereka.
Daun: Daun berseling, biasanya berbentuk tangan, berlekuk, dengan stipula kecil.
Bunga:
Bunga hermafrodit, aktinomorf; kelopak lima helai, bergabung di pangkal, seringkali disertai dengan epicalyx; mahkota lima helai, terlepas; alat jantan dengan banyak benang sari (stamen), khas dengan tangkai sari (filamen) bergabung di tabung sari yang mengelilingi putik, serbuk sari halus; bakal buah di atas dengan banyak daun buah (pluricarpellate). Buah tipe kotak atau belah (schizocarp).
Buah:
Kandungan vitamin C dari buah Baobab disebutkan sangat tinggi.
Bahkan hingga enam kali lebuh banyak dari yang terkadung dalam jeruk.
Kegunaan:
  1. Buah baobab mengandung kalsium 50% lebih dari bayam, tinggi antioksidan, dan memiliki tiga kali vitamin C dari jeruk.
  2. Daunnya dapat dikonsumsi sebagai makanan, sementara buah yang dicampur susu atau air dapat digunakan sebagai minuman. Benihnya juga dapat diproduksi menjadi minyak goreng.
  3. Kayu berwarna putih biasanya digunakan sebagai digunaan untuk pembuatan kano, rakit, papan isolasi, piring kayu dan nampan, kotak mengapung untuk jaring ikan.
  4. Serat kayu berkualitas baik dan biasa digunakan sebagai tali, tali harness, tikar, jerat dan tali pancing, serat kain, senar alat musik , dan tali busur.
  5. Serbuk sari bunga baobab yang dicampur air bisa digunakan sebagai lem.
  6. Kayu menghasilkan tanin yang bisa digunakan sebagai zat pewarna
  7. Benih yang difermentasi menjadi bahan dasar pembuatan bir lokal.
  8. Kulit baobab yang direbus selama beberapa hari bisa menghasilkan racun yang digunakan untuk mengatasi hama semut
  9. Daun menghasilkan hyposensitive dan antihistamin yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit ginjal dan kandung kemih, asma, kelelahan, diare, gigitan serangga, dan cacingan.

6.   Family Arecaceae
Tumbuhan tumbuhan ini termasuk tumbuhan monokotil.Daun dari kebanyakan anggotanya mempunyai daun pertulangan menyirip atau menjari.bentuk helai daunnya ada yang berlekuk dan ada yang majenuk.bunganya berkelipatan tiga,tetapi seringkali perhiasan bungabya tereduksi atau tidak sama sekali.kemudian tumbuhan ini ada yangberubah satu dan ada yang berumah dua.dinding buahnya bervariasi dari yang tidak bertautan sampai yang bertautan dalamsatu kesatuan,biji banyak mengandung minyak sebagai hasil pnyimpanan cadangan makanan dari endosperm.
            Arecidae terdiri dari beberapa ordo yaitu:
A.  Arecales
Ordo ini sering di sebut sebagai principles.anggotanya hanya satu family yaitu Arecaceae atau palmae
Arecaceae (palmae)
Tumbuhan ini  memiliki ciri – cirri sebagai berikut :
a)  Family ini memiliki anggota pohon tertinngi dengan Batang berpenampang silindris dengan buku- buku yang pendek.yang panjangnya dapat mencapai 6 meter
b)  Bunganya majemuk berupa malar atau bulir  yang bercabang – cabang yang disebut spadix
c)  Benang sari biasanya 6 dalam 2 lingkaran
d)  Mempunyai daun terbesar
e)  Bakal buah diatas,biasanya dalam 1-3 ruang mempunyai satu bakal biji
Tumbuhan ini memiliki manfaat sebagai bahan makanan,minyak, serat,bangunan,dan tanaman hias,perabot rumah tangga,tanamn hias dan lain- lain             
Purseglove  (1978) membagi family Arecaceae kedalam delapan subfamily yaitu :
a.   Phoenicoideae
b.   Caryotoideae
c.   Coryphoideae
d.    Borassoideae
e.    Lepidocaryoideae
f.     Cocoideae
g.    Arecoideae
h.    Nypoideae

Salah contoh famili areceae Palem putrid (Veitchia merilii)
Klasifikasi
  Kingdom        Plantae
           Division            Magnoliophyta
                   Clasis              Liliopsida
                          Order                Arecales
                                Famili                 Areceae
                                        Genus                 Veitchia
Species           Veitchia merilii
Habitat:
Palem putri ini tumbuh pada daerah tropis dan subtropis, di dataran rendah dan tinggi, di pegunungan dan di pantai, di tanah yang subur dan gersang.
Sering berada di tepi tepi jalan.Sekilas bentuknya seperti palem raja, daun yang lebih lebar dan warna lebih hijau.Tanaman berasal dari Madagaskar, banyak dimanfaatkan sebagai penghias pinggir jalan atau tanaman pot.
Daun majemuk, dengan pertulangan helai daunnya lurus.Bunga majemuk.Perakaran serabut.
Habitus: Terna atau pohon/perdu.

Batang:
Jarang bercabang dan tumbuh tegak ke atas. Beberapa anggotanya setengah merambat atau memanjat.
Akar:
Tumbuh dari pangkal batang, berbentuk silinder, kurang bercabang tetapi biasanya tumbuh banyak dan masif (padat). Akar palem biasanya menghunjam dalam ke tanah, sehingga mampu menopang batang yang tumbuh menjulang tinggi (hingga 20m atau bahkan lebih).
majemuk dan tersusun menyirip tunggal yang khas dan menjadi tanda pengenal yang paling mudah. Pada beberapa kelompok ditumbuhi duri.Tangkai daun dilengkapi pelepah daun yang membungkus batang.
tersusun dalam karangan yang bila masih muda terlindung oleh seludang bunga. Karangan bunga palem ini disebut mayang. Tangkai mayang ini bila dilukai akan mengeluarkan cairan manis yang disebut nira. Dalam karangan bunga ini terdapat bunga betina dan atau bunga jantan.Jika keduanya ditemukan bunga betina terletak di bagian lebih pangkal.
Orang Jawa menyebut bunga betina sebagai bluluk.Penyerbukan dilakukan oleh serangga atau burung.
Buah:
memiliki kulit luar yang relatif tebal, yang menutupi bagian dalam (mesokarpium) yang berair atau berserat. Biji dilindungi oleh lapisan buah bagian dalam (endokarpium) yang keras dan berkayu.Pada kelapa, lapisan ini disebut sebagai batok.Serat buah dikenal juga sebagai sabut.Di dalam batok terdapat biji yang ketika buah masih muda relatif cair dan berangsur-angsur membentuk endapan yang semakin lama mengeras.Endapan ini biasanya mengandung banyak lemak dan protein.Beberapa jenis masih menyisakan cairan di dalamnya.Cairan ini dapat diminum sebagai minuman penyegar (seperti pada kelapa dan siwalan).

7.   Family Rubiaceae
Rubiaceae adalah salah satu suku anggota tumbuhan berbunga. Menurut Sistem klasifikasi APG II suku ini termasuk dalam bangsaGentianales.Ke dalamnya termasuk sejumlah tumbuhan penghasil alkaloid penting seperti kafeina (dalam kopi yang dihasilkan dari beberapa jenis Coffea) dan kinina (dari kulit batang Cinchona). Anggota penting lainnya adalah gambir (Uncaria; tanaman aromatik), soka (Ixora; tanaman hias), dan mengkudu (Morinda; tanaman obat).
Sistem klasifikasi APG II memasukkan beberapa suku kecil (seperti Dialypetalanthaceae, Henriqueziaceae, Naucleaceae, dan Theligonaceae) ke dalam Rubiaceae sehingga sekarang menjadi salah satu suku dengan anggota besar: sekitar 650 genera dan lebih dari 13.000 spesies.
Salah satu species dari famili ini adalah mengkudu (Morinda citrifolia)  yang ada di daerah kebun raya purwodadi
Diskripsi tanaman mengkudu (Morinda citrifolia)
Pohon
Pohon mengkudu tidak begitu besar, tingginya antara 4-6 m. batang bengkok-bengkok, berdahan kaku, kasar, dan memiliki akar tunggang yang tertancap dalam. Kulit batang cokelat keabu-abuan atau cokelat kekuning-kuniangan, berbelah dangkal, tidak berbulu,anak cabangnya bersegai empat. Tajuknya suklalu hijau sepanjang tahun.Kayu mengkudu mudah sekali dibelah setelah dikeringkan.Bisa digunakan untuk penopang tanaman lada.
Daun
Berdaun tebal mengkilap.Daun mengkudu terletak berhadap-hadapan.Ukuran daun besar-besar, tebal, dan tunggal.Bentuknya jorong-lanset, berukuran 15-50 x 5-17 cm. tepi daun rata, ujung lancip pendek.Pangkal daun berbentuk pasak.Urat daun menyirip.Warna hiaju mengkilap, tidak berbulu. Pangkal daun pendek, berukuran 0,5-2,5 cm. ukuran daun penumpu bervariasi, berbentuk segi tiga lebar. Daun mengkudu dapat dimakan sebagai sayuran.Nilai gizi tinggi karena banyak mengandung vitamin A.

Bunga
Perbungaan mengkudu bertipe bonggol bulat, bergagang 1-4 cm. Bunga tumbuh di ketiak daun penumpu yang berhadapan dengan daun yang tumbuh normal.Bunganya berkelamin dua. Mahkota bunga putih, berbentuk corong, panjangnya bisa mencapai 1,5 cm. Benang sari tertancap di mulut mahkota. Kepala putik berputing dua.Bunga itu mekar dari kelopak berbentuk seperti tandan.Bunganya putih, harum.
 Buah
Kelopak bunga tumbuh menjadi buah bulat lonjong sebesar telur ayam bahkan ada yang berdiameter 7,5-10 cm. Permukaan buah seperti terbagi dalam sel-sel poligonal (segi banyak) yang berbintik-bintik dan berkutil. Mula-mula buah berwarna hijau, menjelang masak menjadi putih kekuningan.Setelah matang, warnanya putih transparan dan lunak.Daging buah tersusun dari buah-buah batu berbentuk piramida, berwarna cokelat merah.Setelah lunak, daging buah mengkudu banyak mengandung air yang aromanya seperti keju busuk.Bau itu timbul karena pencampuran antara asam kaprik dan asam kaproat (senyawa lipid atau lemak yang gugusan molekulnya mudah menguap, menjadi bersifat seperti minyak atsiri) yang berbau tengik dan asam kaprilat yang rasanya tidak enak.Diduga kedua senyawa ini bersifat aktif sebagai antibiotik.

Kandungan mengkudu
  • Zat nutrisi: secara keseluruhan mengkudu merupakan buah makanan bergizi lengkap. Zat nutrisi yang dibutuhkan tubuh, seperti protein, viamin, dan mineral penting, tersedia dalm jumlah cukup pada buah dan daun mengkudu. Selenium, salah satu mineral yang terdapat pada mengkudu merupakan antioksidan yang hebat. Berbagai jenis senyawa yang terkandung dalam mengkudu : xeronine, plant sterois,alizarin, lycine, sosium, caprylic acid, arginine, proxeronine, antra quinines, trace elemens, phenylalanine, magnesium, dll.
  • Terpenoid. Zat ini membantu dalam proses sintesis organic dan pemulihan sel-sel tubuh.
  • Zat anti bakteri.Zat-zat aktif yang terkandung dalam sari buah mengkudu itu dapat mematikan bakteri penyebab infeksi, seperti Pseudomonas aeruginosa, Protens morganii, Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, dan Escherichia coli. Zat anti bakteri itu juga dapat mengontrol bakteri pathogen (mematikan) seperti Salmonella montivideo, S .scotmuelleri, S . typhi, dan Shigella dusenteriae, S . flexnerii, S . pradysenteriae, serta Staphylococcus aureus.
  • Scolopetin. Senyawa scolopetin sangat efektif sebagi unsur anti peradangan dan anti-alergi.
  • Zat anti kanker. Zat-zat anti kanker yang terdapat pada mengkudu paling efektif melawan sel-sel abnormal.
  • Xeronine dan Proxeronine. Salah satu alkaloid penting yang terdapt di dalam buah mengkudu adalah xeronine. Buah mengkudu hanya mengandung sedikit xeronine, tapi banyak mengandung bahan pembentuk (precursor) xeronine alias proxeronine dalam jumlah besar. Proxeronine adalah sejenis asam nukleat seperti koloid-koloid lainnya. Xeronine diserap sel-sel tubuh untuk mengaktifkan protein-protein yang tidak aktif, mengatur struktur dan bentuk sel yang aktif.

8.   Family Apocinaceae
Pohon perdu atau semak, sering memanjat, sering  bergetah daun tunggal,seluruhnya berhadapan,tanpa daun penumpu, bertepi rata. Bunga dalam anak payung,mulai rata, jarang berdiri sendiri, beraturan, berkelamin 2, kebanyakan berbilangan 5. Kelopak berbany akan berbagi 5, mahkota berdaun lekat dengan letak yang berputar.Benang sari tertancap pada tabung mahkota,berseling dengan lekukan. Kepala sari beruang 2, tonjolan dasar bunga tidak ada,sering terdiri dari sisik. Balkal buah kebanyakan 2,terpisah, tetapi dihubungkan dengan tangkai putik beruang 1, jarang berlekatan sampai 1 bakal buah. Tangkai putik 1,kepala putik bergigi 2, buah batu atau buah bumbung 1 atau 2,kadang-kadang buah kotak yang berkatup 2(steenis,1978).
Genus yang berasal dari Amerika, terdiri dari kira-kira selusin spesies tanaman merambat, beberapa ditanam pada iklim yang hangat  dengan bunga bentuk terompet warna-warni,kebanyakan warna kuning. Daun mengkilap,3-6 batang,memiliki getah seperti susu jika dipotong. Sebagai tanaman hias paling popular di daerah beriklim panas,ideal untuk pagar atau dirambatkan pada dinding(periplus,1999).
Perdu memanjat, berkayu, mengandung getah, batangnya dapat mencapai panjang 3-6 m, berdiameter kecil. Daun tanaman berbentuk lanset atau seperti mata lembing,panjangnya 10-15 cm, ujung meruncing. Susunan daun berkarang dengan jumlah 4 daun.Terkadang daunnya agak terpilin.Bunga berbentuk terompet tersusus dalam tandan dengan jumlah kuntum 8-10 kuntum, umumnya mempunyai bunga berwarna kuning,namun sekarang telah banyak dijumpai berbunga merah, merah muda, dan variegate(heerdjandan fajar,2005). Bunga yang berwarna kuning cerah berkelopak lima helai dengan mahkota bunga mirip gelas anggur yang berkaki. Sewaktu masih kuncup, bunga berwarna kecoklatan muncul bergerombol di ujung-ujung batangnya (Emir dkk, 2006). Benang sari bertancap dalam leher, tangkai benang sari sangat pendek.Tonjolan dasar bunga berbentuk cincin, berlekuk 5.Bakal buah rata, beruang 1, papan biji 2, melekat di dinding.Bakal biji banyak, kepala sari tebal,cylindris, disebelah bawah dengan selaput yang mengarah kebawah, pada ujung bertaju 2 pendek,runcing. Buah kotak berkatup 2, berbentuk telur, pipih, berduri temple, panjang 3,5 cm biji pipih lebar, serupa selaput (steenis,1978).

9.   Family Sterculiaceae
Kingdom   Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom  Tracheobionta (Tumbuhanberpembuluh)
         Super DivisiSpermatophyta (Menghasilkanbiji)
             Divisi Magnoliophyta (Tumbuhanberbunga)
                 Kelas Magnoliopsida (berkepingdua / dikotil)
                     Sub KelasDilleniidae
                         Ordo Malvales
                             Famili
Sterculiaceae
                                 Genus
Theobroma
                                     SpesiesTheobroma cacao L.
(www.plantamor.com).  
Morfologi
a) Pohon
Kakao merupakan tumbuhan tahunan (perennial) berbentuk pohon, di alam dapat mencapai ketinggian 10m.Meskipun demikian, dalam pembudidayaan tingginya dibuat tidak lebih dari 5m tetapi dengan tajuk menyamping yang meluas.Hal ini dilakukan untuk memperbanyak cabang produktif.
b)Bunga
bunga kakao, sebagaimana anggota Sterculiaceae lainnya, tumbuh langsung dari batang (cauliflorous). Bunga sempurna berukuran kecil (diameter maksimum 3cm), tunggal, namun nampak terangkai karena sering sejumlah bunga muncul dari satu titik tunas.
Bunga kakao tumbuh dari batang. Penyerbukan bunga dilakukan oleh serangga (terutama alat kecil (midgeForcipomyia, semut bersayap, afid, dan beberap alebah Trigona) yang biasanya terjadi pada malam hari1.Bunga siap diserbuki dalam jangka waktu beberapa hari.
Kakao secara umum adalah tumbuhan menyerbuk silang dan memiliki system inkompatibilitas-sendiri (lihat penyerbukan).Walaupun demikian, beberapa varietas kakao mampu melakukan penyerbukan sendiri dan menghasilkan jenis komoditi dengan nilai jual yang lebih tinggi.
c)Buah
Buah tumbuh dari bunga yang diserbuki.Ukuran buah jauh lebih besar dari bunganya, dan berbentuk bulat  .Buah terdiri dari 5 daun buah dan memiliki ruang dan di dalamnya terdapat biji.Warna buah berubah-ubah.Sewaktu muda berwarna hijau hingga ungu.Apabila masak kulit luar buah biasanya berwarna kuning.
d)Biji
Biji terangkai pada plasenta yang tumbuh dari pangkal buah, di bagian dalam.Biji dilindungi oleh  salut biji (aril) lunak berwarna putih. Dalam istilah pertanian disebutpulpEndospermia biji mengandung lemak dengan kadar yang cukup tinggi. Dalam pengolahan pasca panen, pulp difermentasi selama tiga hari lalu biji dikeringkan di bawah sinar matahari.

10.   Family Fabaceae
Pada pengamatan yang praktikan lakukan di Kebun Raya Purwodadi Pasuruan, ada beberapa anggota Familia Fabaceae yang ada di kebun Purwodadi, seperti Kapri ( Pisum sativum L ), kembang merak ( Caesalpinia pulcherrima ), dan secang ( Caesalpinea seppan L )
Suku polong-polongan atau Fabaceae merupakan salah satu suku tumbuhan dikotil yang terpenting dan terbesar. Banyak tumbuhan budidaya penting termasuk dalam suku ini, dengan bermacam-macam kegunaan: biji, buah (polong), bunga, kulit kayu, batang, daun, umbi, hingga akarnya digunakan manusia. Bahan makanan, minuman, bumbu masak, zat pewarna, pupuk hijau, pakan ternak, bahan pengobatan, hingga racun dihasilkan oleh anggota-anggotanya. Semua tumbuhan anggota suku ini memiliki satu kesamaan yang jelas: buahnya berupa polong.
Fabaceae pernah dikenal dengan nama Leguminosae serta Papilionaceae. Nama yang terakhir ini kurang tepat, dan sekarang dipakai sebagai nama salah satu subsukunya. Dalam dunia pertanian tumbuhan anggota suku ini seringkali disebut sebagai tanaman legum (legume).
Anggota suku ini juga dikenal karena kemampuannya mengikat (fiksasi) nitrogen langsung dari udara (tidak melalui cairan tanah) karena bersimbiosis dengan bakteri tertentu pada akar atau batangnya.Jaringan yang mengandung bakteri simbiotik ini biasanya menggelembung dan membentuk bintil-bintil.Setiap jenis biasanya bersimbiosis pula dengan jenis bakteri yang khas pula.
Ciri-ciri Family Fabaceae
1.    Buah tipe polong
2.    Biji berkotil dua. (dikotiledon)
3.    Buah bertipe buah polong
4.    Pada umumnya berdaun majemuk berpasangan.
5.    Perbungaan tunggal pada subsuku Faboideae serta majemuk pada Caesalpinioideae dan Mimosoideae.
Pembagian Family Fabaceae
Suku besar ini terbagi menjadi 3 subsuku, yaitu Faboideae (atau Papilionoideae, tumbuhan berbunga kupu-kupu), Caesalpinioideae, dan Mimosoideae.
a.    Faboideae
Faboideae dapat dikatakan sebagai kelompok kacang-kacangan atau polong-polongan. Bunganya bertipe kupu-kupu, zigomorf, khas dengan mahkota bunga yang tidak sama bentuknya. Mahkota termodifikasi menjadi tiga bagian: bendera, sayap (alae), dan lunas (carina). Bagian lunas melindungi organ seksual benang sari dan putik.Karena terlindungi inilah tumbuhan kacang-kacangan biasanya merupakan tumbuhan berpenyerbukan sendiri.Bunga biasanya tunggal dengan polong biasanya berbentuk silinder.
Contoh :Kacang tanah (Arachis hypogaea)
b.   Caesalpinioideae
bsuku ini dicirikan dari bunganya yang tersusun majemuk membentuk seperti piramida. Setiap bunga memiliki benang sari dan putik yang relatif panjang.Bunganya tidak bertipe kupu-kupu.
Contoh :
Kembang merak (Caesalpinia pulcherrima)

c.    Mimosoideae
Subsuku ini dapat dikatakan sebagai kelompok petai-petaian.Cirinya yang paling jelas adalah bunganya tersusun majemuk di atas suatu dasar bunga (bongkol) bersama berbentuk bulatan.Akibatnya, bunga tampak seperti bola berambut.
Contoh :
Jengkol (Archidendronpauciflorum)
Contoh-contoh spesies family fabaceae di Kebun Raya Purwodadi
Caesalpinia pulcherrima ( Kembang Merak )
Caesalpinia pulcherrima
Klasifikasi
Kingdom     Plantae
        Divisi      
Magnoliophyta
              Kelas      
Magnoliopsida
                   Ordo         
Fabales
                         Famili         
Fabaceae
                              Sub famili       
Caesalpinioideae
                                          Genus      
Caesalpinia
                                                  Spesies        Caesalpiniapulcherrima
( Plantamor.com)
Deskripsi
Kembang merak adalah salah satu tanaman hias populer dari suku polong-polongan (Fabaceae).Biasanya ditanam di pekarangan, kadang-kadang bergerombol, dengan bunga berwarna merah kekuningan yang cerah.Habitusnya berupa perdu yang bisa mencapai tiga meter.

11.   Family Dilleniaceae
Dillenia adalah genus dari sekitar 100 jenis tanaman berbunga dalam keluarga Dilleniaceae , asli daerah tropis dan subtropis selatan di Asia , Australasia , dan Samudera Hindia pulau.
Genus ini dinamai ahli botani Jerman Johann Jacob Dillenius , dan terdiri dari cemara atau semi-evergreen pohon dan semak . Para daun yang sederhana, spiral diatur ini bunga adalah soliter, atau di terminal racemes , dengan lima sepal dan lima kelopak bunga, benang sari banyak dan sekelompok 5-20 karpel, mereka terlihat serupa dalam tampilannya Magnolia,  bunga


Ficus benjaminaL. ( Beringin)
Klasifikasi
Kingdom   Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom   Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi    Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi     Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas     Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas     Dilleniidae
                         Ordo     Urticales
                             Famili    
Moraceae (suku nangka-nangkaan)
                                 Genus   
Ficus
                                     Spesies     Ficus benjamina L.
                                                                        ( Plantamor.com)
Deskripsi
Pohon besar, diameter batang bisa mencapai 2 m lebih, tinggi bisa mencapai 25 m. Batang tegak bulat, permukaan kasar, coklat kehitaman, keluar akar menggantung dari batang. Daun tunggal, lonjong, hijau, panjang 3 - 6 cm, tepi rata, letak bersilang berhadapan.Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, kuning kehijauan.Buah buni, bulat kecil, panjang 0.5 - 1 cm Perbanyaan dengan biji.

12.   Family Moraceae
Kingdom: plantae
Divisi :Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Bangsa : Urticales
Suku : Moraceae
Marga : Ficus
Jenis : Ficus benjamina L.
Deskripsi:
Pohon besar, tinggi 20-25 m, berakar tunggang. Batang tegak, bulat, permukaan kasar, coklat kehitaman, percabangan simpodial, pada batang keluar akar gantung (akar udara). Daun tunggal, bertangkai pendek, letak bersilang berhadapan, bentuknya lonjong, tepi rata, ujung runcing, pangkal tumpul, panjang 3-6 cm, lebar 2-4 cm, pertulangan menyirip, hijau. Bunga tunggal, keluar dari ketiak daun, kelopak bentuk corong, mahkota bulat, halus, kuning kehijauan. Buah buni, bulat, panjang, 0,5-1 cm, masih muda hijau, setelah tua merah. Biji bulat, keras, putih.
Khasiat:
Akar udara mengandung asam amino, fenol, gula. Penyakit yang dapat diobati: pilek, demam tinggi, radang amandel (tonsilitis), nyeri rematik sendi, luka terpukul (memar), influenza, radang saluran napas (bronkitis), batu krejan (pertusis), malaria, radang usus akut (acute enteritis), disentri, dan kejang panas pada anak.

13.   Family Bignoniaceae
Kingdom :Plantae                   
            Divisi: Magnoliophyta
                  Kelas: Magnoliopsida
                              Ordo: Scrophulariales
Famili: Bignoniaceae
Genus: Spathodea
Spesies: Spathodea campanulata (www.plantamor.com)

Deskripsi :
Spathodea campanulata adalah tumbuhan menengah, mencapai ketinggian 10-35 m, dengan mahkota, putaran berat padat, dedaunan gelap, kadang-kadang agak diratakan; kulit muda pucat, abu-abu coklat dan halus tapi berubah abu-abu hitam, bersisik dan retak vertical dan horizontal dengan usia. Setiap daun terdiri dari 5-7 pasang selebaran berlawanan dan satu terminal. Selebaran yang lonjong-bulat panjang, sekitar 1 cm dan 0,5 cm luas, seluruh, luas acuminate, tidak merata di hijau, dasar hijau gelap di atas dan cahaya pada bagian bawah, ada pembengkakan kelenjar di dasar lamina (biasanya pasangan), sedangkan pelepah dan saraf berwarna kuning, mengangkat dan sangat sedikit puber; venation adalah retikular, sedangkan tangkai daun, pendek tebal sekitar 0,7 cm, ada lentisel mencolok pada rachis; rachis dasar bengkak. Bunga besar, merah, hermafrodit, oranye di dalamnya; kelopak hijau, sekitar 1 cm dan split pada sisi posterior, berusuk dan tomentellous; kelopak 5, masing-masing sekitar 1,5 cm; benang sari 4 dengan filament oranye; gaya ekstrusi dengan 2-berbibir stigma; kuncup bunga melengkung dan mengandung getah merah. Berbagai bunga kuning telah dilaporkan. Buah terhormat, coklat gelap, berbentuk cerutu, berkayu, 15-25 cm dan split pada tanah menjadi 2 katup berbentuk perahu, melepaskan banyak flat-biji bersayap; 1-4 polong biasanya berkembang dari 1 tandan bunga; biji tipis , datar dan dikelilingi oleh sayap filmy. Nama generic berasal dari kata Yunani 'spathe' (pisau), dari bentuk mahkota. Nama spesifik berarti berkaitan dengan suatu Campanula, nama diciptakan pada 1542 oleh Fuchs untuk jenis mahkota bulat dengan dasar yang luas dan tabung secara bertahap diperluas sesuai dengan busur suara lonceng gereja.
Habitat:
               S. campanulata tumbuh secara alami di Afrika di hutan-hutan sekunder di zona hutan tinggi dan hutan gugur, transisi, dan savana. Ini berkolonisasi situs bahkan sangat terkikis, meskipun bentuk dan tingkat pertumbuhan cukup sulit.
Reproduksi:
Besar, jeruk merah, berbentuk corong bunga hermafrodit dihasilkan dari karat berwarna, tunas berbulu dalam tandan di ujung cabang. Bunga-bunga terbuka dari luar dari sekelompok menuju pusat. Campanulata mungkin mulai berbunga semuda 3 atau 4 tahun, dengan pohon-pohon tumbuh terbuka berbunga ketika mereka sekitar 5 m, dalam beberapa lingkungan yang sulit, berbunga ditunda sampai pohon jauh lebih besar. Pembungaan membentang selama periode bulan 5 atau 6, dan polong matang dan mulai melepaskan benih mereka sekitar 5 bulan setelah berbunga. Pohon mereproduksi agresif, sehingga sering gangguan di padang rumput dan lading dengan tanaman tahunan. Benih bersayap yang tersebar angin.
Manfaat:
1.  Makanan: Benih-benihtersebutdimakandandigunakan di banyakbagianAfrika.
2. Kayu: Di habitat aslinya, cahaya lembut kayu putih kecoklatan digunakan untuk ukiran dan membuat drum.
3. Poison: Bagian tengah keras buah digunakan untuk membunuh binatang.
4. Pengobatan: kulit ini memiliki sifat pencahar dan antiseptik, dan biji, bunga dan akar digunakan sebagai obat. Kulit dikunyah dan disemprotkan ke pipi bengkak. Kulit kayu juga dapat direbus dalam air yang digunakan untuk mandi bayi yang baru lahir untuk menyembuhkan ruam tubuh.

14.   Family Caesalpinaceae
Habitus pohon atau perdu,jarang herba,kadang-kadang memanjat,kadang-kadang berduri,asam amino nonprotein sering terdapat pada biji dan bagian lain,hanya kadang-kadang bersimbiose dengan bakteri pengikat nitrogen,bertanin,kadang-kadang sianogenik sering menghasilkan alkaloid terutama dari kelompok piridin.
Daun tersebar umumnya berupa daun majemuk pinatus,jarang bipinatus,inifoliolatus atau daun tunggal ada pulvinnus di pangkal petiolus komunis,petiolus atau petiolous ada stipula.bunga dalam rasemus umumnya biseksual,zigomorf sepal 5 lepas petal paling atas terletak lebih ke dalam dan lebih kecil dari yang lain,stamen umumnya 10,lepas kkadang-kadang ada staminodia,nektar kadang-kadang berbentuk cincin ada dasar bunga sekeliling ovarium,ginasium 1 karpel,ovula 2-banyak pada plasenta marginal.buah legum,kadang-kadang menyerupai dupa atau samara,biji dengan funiulus memanjang,kadang-kadang beralirus,endosperma umumnya absen.
Suku ini umumnya terdiri dari sekitar 150 margadengan 2200 jenis,tersebar di daerah tropis dan subtropis,sedikit di temperata(Undang,1991)
Deskripsi spesies family Caesalpineaceae di kebun raya Purwodadi
2.   Caesalpinia pulcherima(Bunga Merak)
Tanda-tanda dan ciri morfolologi Penting dari  Tumbuhan Caesalpinia pulcherima (Bunga Merak) Habitus Berupa Tumbuhan berkayu dengan habitus berupa pohon,dantinggimencapai2-4m.Akar Sistem perakaran pada Caesalpinia pulcherima adalah sistem akar tunggang, akar berbentuk bulat,dan berwarna coklat.
Batang Batang dari Caesalpinia pulcherima bercabang arah pertumbuhanya tegak lurus dengan pola percabangan menggarpu (simpodial) bentuk batang bulat (teres) dan pada kulit batang terdapat duri.
Daun dari Caesalpinia pulcherima merupakan daun majemuk menyirip genap (paripinatus), anak daun bersirip 4-12 pasang, bentuk helaian daun bulat telur (ovatus), ujung dan pangkal membulat, tepi daun rata (integer), panjang helaian daun 1-3 cm, lebar 5-15 mm, pertulangan menyirip (penninervis) terdapat sendi daun (pulvinus) dan terdapat daun penumpu (stipula).
Bunga Merupakan bunga majemuk dengan karangan bunga berbentuk tandan (racemus) dan termasuk kedalam bunga bisexualis.Perhiasan bunga berupa corolla dan calyx.Calyx terdiri dari 5 sepal yang lepas. Corolla berbentuk kupu-kupu terdiri dari 5 petal yang saling lepas, 1 petal yang besar disebut bendera atau vexilum, 2 sayap atau ala, 2 tunas atau carina satu sama lain terpisah warnanya putih. Benang sari atau stamen jumlahnya 10, 9 bersatu dan 1 buah lepas (diadelpus) semuanya sama panjang. Putik atau pistilum berjumlah 1 dengan letak ovarium superum terdiri dari 1 loculus dan 1 carpelum, jumlah ovulum bisa 1 sampai banyak ovulum dengan letak ovulum parietalis.Biji biji dari Caesalpinia pulcherima berkeping dua.Buah Termasuk kedalam buah Polong (legumen), panjang 6-12 cm, pipih,dan berwarna hitam (http://ajo-taksonomi.blogspot.com/2009/12/ - klasifikasi tumbuhan.html).
Caesalpinia pulcherrima
Klasifikasi
Kingdom                Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom     Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi  Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi        Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas    Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
                     Sub Kelas     Rosidae
                         Ordo         Fabales
                             Famili  
Caesalpiniaceae
                                 Genus   
Caesalpinia
                                     Spesies Caesalpinia pulcherrima (L.) Swartz (
www.Plantamore.com)

15.   Family Poaceae
Ciri-ciri dari family ini adalah herba,umumnya parenial dengan rhizoma yang jarang annual,kadang-kadang berkayu(seperti pada bambu) umumnya mengandung dehidroquinat hidroksilase bebas di samping umumnya untuk ikatan separti angiosperma,sangat sering mengakumilasi asam ferulat sering membentuk fruktosan(tipe flein),kadang-kadang membentuk alkaloid isoquinolin,indool dan pirrolizidin,jarang bertanin,dinding sel terutama epidermis banyak mengandung silika.
Daun tersusun 2 baris atau spiral,berpelepah,lamina linearis dengan urat daun sejajar,sering mempunyai aurikel pada dasar dan sering mempunyai ligula,sering ligula tereduksi menjadi rambut-rambut.
Perbugaan dengan satuan dasar disebut spikula yang tersusun dalam spika,resemus atau panikulasetiap panikula mempunyai sepasang brakteayang di sebut gluma,1 spikula membawa 1 atau lebih floret(bunga) yang tersusun pada sumbunya(rakila).Floret uniseksual atau biseksual,setiap floret mempunyai brakte lemma(sebelah luar) dan palea (sebelah dalam),periantum tereduksi menjadi 2-3 lodikula berupa sisik di atas palea,endosperm beramilum,protein dan kadang-kadangb juga minyak( Undang,1991)
Species paoceae di kebun raya Purwodadi
1.    Bambusa vulgaris
Klasifikasi
Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
     Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
         Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
             Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
                 Kelas: Liliopsida (berkeping satu / monokotil)
                     Sub Kelas: Commelinidae
                         Ordo: Poales
                             Famili:
Poaceae (suku rumput-rumputan)
                                 Genus:
Bambusa
                                     Spesies: Bambusa vulgaris Schrad. ex J.C. (www.plantamor.com).
Tanaman bambu umumnya tumbuh berumpun; batang berkayu, buluh beruas, berbuku di tengahnya berongga, kulit luar berwarna kuning, hijau, hijau kebiruan, hijau kecoklatan atau ungu. Batang muda selalu tertutup seludang yang sangat rapat, berbulu coklat, atau kehitaman, seludang akan lepas seiring dengan pertumbuhan panjang batang. Seludang pada batang tua pada umumnya lepas; daunnya berbentuk bulat memanjang, pita atau lanset, ujung runcing atau meruncing, tulang daun sejajar, tangkai semu pendek, pelepah daun memeluk batang, kadang-kadang berbulu.Bunga berbentuk majemuk bulir, tandan atau malai dengan siklus pembungaan yang bervariasi.Beberapa jenis bambu berbunga setelah 20-30 tahun, bahkan sampai 44 tahun. Benang sari pada umumnya berjumlah 6 (Gilliland et
al., 1971; Widjaja, 1997).
Lokasi penanamanBambusa vulgaris9 Bambusa vulgaris Schradex Wendl.XII.J.I. 1-1a, 7-7a Ditanam di dalam   kebun raya Purwodadi. pesies : Bambusa vulgaris Schrader ex Wendland Nama Inggris : Common bamboo Nama Indonesia : Bambu kuning (berumpun kuning), bambu ampel (berumpun hijau) Nama Lokal : Domar (Ambon) Deskripsi : Rumpun tegak, tinggi 10 - 20 m, diameter 4 - 10 cm, permukaan batang hijau mengkilap, kuning, atau kuning bergaris-garis hijau; internodus berjarak 20-45 cm, permukaan batang berambut hitam dan dilapisi lilin putih ketika muda dan berangsur-angsur menjadi halus tak berambut dan mengkilap; nodus tenggelam. Cabang-cabang muncul dari nodus tengah dan atas dari rumpun. Selubung rumpun berbentuk segitiga lebar; daun lurus, berbentuk segitiga lebar (broadly triangular), panjang 4-5 cm dan lebar 5-6 cm, ujung daun meruncing, berambut pada kedua permukaan daun dan di tepi-tepi daun; panjang ligula 3 mm, bergerigi.     Distribusi/Penyebaran : Bambusa vulgaris merupakan tumbuhan yang berasal dari Dunia Lama, khususnya dari kawasan Asia tropis. Jenis ini diyakini sebagai bambu yang paling banyak dibudidayakan di seluruh penjuru kawasan tropis dan sub-tropis.Di kawasan Asia Tenggara, bambu jenis ini banyak dibudidayakan, sering dijumpai di desa- desa, di pinggir-pinggir sungai, dan sebagai tanaman ornamnetal di perkotaan.
Habitat : Bambusa vulgaris dapat dijumpai tumbuh di seluruh kawasan pantropikal, pada ketinggian di atas permukaan laut hingga 1200 m dpl. Bambusa ini tumbuh baik di daerah dataran rendah dengan kondisi kelembapan udara dan tipe tanah yang luas. Di Asia Tenggara, tumbuhan berumpun hijau ini telah tumbuh luas secara alami di tepi-tepi sungai, di pinggir jalan, dan di tanah-tanah lapang. Di Semenanjung Malaysia, Bambusa vulgaris tetap dapat tumbuh baik di lahan-lahan terdegradasi yang mengandung timah.Perbanyakan : Bambusa vulgaris dapat diperbanyak dengan menggunakan rhizoma, stek rumpun atau cabang, cangkok dan kultur jaringan. Stek rhizoma yang diambil dari rumpun berusia 1 - 2 tahun selalu memberikan hasil bagus.Cara termudah dan sering dilakukan adalah stek rumpun atau cabang. Umumnya, rumpun yang akan di stek adalah rumpun yang tidak terlalu muda atau tidak terlalu tua. Penanaman pada akhir periode musim hujan dianjurkan, dengan jarak penanaman 6-12 m x 6-12 m. Manfaat tumbuhan : Seperti bambu lainnya, Bambusa vulgaris dapat digunakan sebagai bahan bangunan, pagar, jembatan, alat angkutan (rakit), pipa saluran air dan berbagai peralatan rumah tangga. Selain itu, tunas mudanya (rebung) dapat dimakan serta dapat digunakan sebagai obat liver atau hepatitis. Rumpun bambu mempunyai potensi dalam melestarikan lingkungan; pertumbuhannya cepat dan akarnya mampu mengawetkan tanah dan mengurangi erosi.Sinonim : Bambusa thouarsii Kunth (1822), Bambusa surinamensis Ruprecht (1839), Leleba vulgaris (Schrader ex Wendland) Nakai (1933). Sumber Prosea : 7: Bamboos p.74-78 (author(s): S. Dransfield & E. A. Widjaja) Kategori : Tumbuhan perintis/reklamas(tanaman.blogspot.com)



BAB V
PENUTUP

5.1. Kesimpulan
            Berdasarkan hasil dari obvservasi di Kebun Raya Purwodadi dan paparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa :
1. Herbarium adalah sampel tumbuhan yang dikeringkan. Herbarium berguna di dalam pengenalan dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan. Herbarium yang baik adalah yang memuat bagian-bagian tumbuhan yang representatif, yaitu organ-organ yang penting untuk identifikasi.
Pada tumbuhan tingkat rendah organ-organ tersebut adalah spora atau kumpulan-kumpulan spora dan bagian-bagian tertentu yang spesifik. Sedangkan untuk tumbuhan tingkat tinggi, bagian-bagian tersebut berupa bunga, buah, dan biji karena dasar klasifikasi tumbuhan tersebut adalah struktur bunga.
2.  Kebun Raya Purwodadi adalah sebuah kebun penelitian besar yang terletak di Purwodadi, Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia. Luasnya mencapai 85 hektar dan memiliki sekitar 10.000 jenis koleksi pohon dan tumbuhan.

5.2. Saran
1. Dalam kuliah kerja lapangan (KKL) di Purwodadi akan lebih baiknya diberi pembekalan dan pemahaman materi terlebih dahulu agar lebih produktif dan efektif ketika pelaksanaan KKL
2. Setelah membaca dan memahami isi laporan ini, disarankan kepada pembaca agar memiliki kesadaran akan pentingnya peranan pelestarian tumbuhan dalam kehidupan kita, khususnya para pelajar yang memiliki pengalaman, wawasan dan pengetahuan yang luas.


DAFTAR PUSTAKA

Adrak, Adria Rifarin dan Sri Amintarti. 2007. Penuntun Praktikum Botani Tumbuhan Tinggi. Banjarmasin: FKIP UNLAM
Arif, Arifin. 2001. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta : Kanisius
Dasuki, undang ahmad. 1991. Sistematik Tumbuhan Tinggi. Bandung : Institut Teknologi Bandung
Indriyanto, 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara : Jakarta.
Iqbali. 2008. Bunga Kupu-kupu. http://iqbali.blogspot.com. Diakses 4 april  2012
Kusmana & Istomo, 1995. Ekologi Hutan. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor : Bogor
Krpurwodadi. http://Krpurwodadi.lipi.go.id
Richard & Steven. 1988. Forest Ecosystem. Academic Press. San Diego : California.
Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor : Bogor
Steenis, van. 1987. Flora. Jakarta: PT Prajna Paramita
Sulisetjono. 2008. Bahan Ajar Fungi. Malang : universitas islam negeri malang
Tjitrosoepomo, Gembong. 1996. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Undang, Dasuki. 1991. Sistematis Tumbuhan Tinggi. Bandung : ITB
Weidelt, H. J. 1995. Silvikultur Hutan Alam Tropika (Diterjemahkan oleh : Nunuk Supriyanto). Fakultas Kehutanan UGM : Yogyakarta.
Whitmore, T. C. 1984. Tropical Rain Forest of The Far East (Second Edition). Oxford University Press : Oxford.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

.:: Selamat datang di blog Indahnya Islam ::.